UJARAN-UJARAN HIDUP SANG PUJANGGA

0
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Ujaran-Ujaran Hidup Sang Pujangga
Nurel Javissyarqi

Cetakan Stensilan
I Agustus 2004
II April 2005

Penerbit PUstaka puJAngga
Jalan Raya Sukodadi – Makam Sunan Drajad,
Kendal-Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan,
Jawa Timur, Indonesia.

pustaka_pujangga@yahoo.com
nureljavissyarqi04@yahoo.com

Pengantar: Ujaran-Ujaran Hidup Sang Pujangga*

Setiap manusia dalam menelusuri perjalanan hidupnya, senantiasa mendapati temuan-temuan yang kadang melewati imaji, fikiran, harapan, kecemasan juga cinta. Namun mutiara-mutiara itu kadang dibiarkan berguguran merana, berserakan tak tentu arah, terlupakan tak tahu rimbanya. Sungguh sayang, sebab ketika beberapa mutiara dirajut menjelma kalung, contohnya. Maka para putri kehidupan atau para pewaris peradaban pasti tergiur oleh rangkaian memukau lagi menentramkan. Dalam buku ini selama sepuluh tahun, penulis mengumpulkan yang berserak tersebut, tentu di sekitar diri atau di kedalamannya. Semoga menjadikan manfaat dalam mengisi wewaktu senggang lebih berarti.

Syukur alhamdulillah daku haturkan kepada-Mu Allah. Yang melimpahkan segenap kesempatan demi menghiasi kehidupan ini, lewat membaca ayat-ayat-Mu; berpenuh makna longgar lagi tiada kesudahan rupa tersirat maupun tersurat, semoga menjadikan kebaikan, maslahat bagi diri penulis, dan tidak menutup kemungkinan teruntuk keseluruh pemerhati. Ialah tersebab kekasih-Mu, Muhammad Saw, segenap alam raya terpampang cahaya, bermanfaat bagi dunia menuju alam akhirat. Segala kebatilan pastilah terhempas dan kebenaran suci tentu lestari; terabadi adanya naungan kebesaran Tuhan. Bagi sahabat-sahabat Nabiyullah akhiruzzaman, penulis hatur sungkem, beliau-beliaulah pembuka jalur-jalur ijtihad; terlihat lapang tercerahkan lagi aturan-aturannya semakin gamblang. Semoga pemelintir sejarah balik bertaubat, tersadar beberapa sandungan; teguran oleh fitrohnya kalbu serta nalar mengakui Ke-esaan-MU. Pada orang-orang utama, penulis sungguh berhutang budhi, walau sebenarnya bukan kepadanya hak, sebab segala denyutan hayat atas kekuasaan-Nya. Allah Pemimpin, Maha bijak lagi mengerti kekurangan hamba serta kekhilafannya. Tentunya tidak lupa daku hatur terima kasih pada orang-orang tua, pembimbing daku sampai tahap keyakinan (diinul Islam). Pada malaikat-malaikat-Mu, selalu mengusapkan lembut atas ijin-Mu, teruntuk dikaruniai kemuliaan oleh senantiasa menyalakan obor di setiap malam, memberi sapuan di segenap siang. Senja, fajar, dulu, sekarang serta kan datang, dalam genggaman-Nya. Dia pembolak-balik rencana, dan insan sungguh lemah. Kita menapak di kehidupan dunia hanyalah sekejap, maka mari bersiap selalu memberi senyum keikhlasan pada namanya maut. Subhanahuwataalah, Allah Maha Suci atas segala debu-debu duniawi. Semoga ujaran-ujaran dalam buku ini berdaya guna mengisi waktu-waktu luang. Petiklah jika kau anggap benar, campakkan ketika pembaca anggap salah, karena penulis tidak luput dari segala nafsu buruk. Akhir pengantar, salam damai buat saudara semuanya, dariku…

*) Nurel Javissyarqi

UJARAN-UJARAN HIDUP SANG PUJANGGA
penulis kumpulkan sedari tahun 1994-2004

1. Simaklah kesunyianku, untuk mengakrapi kesunyianmu tanpa aku.
2. Kerinduan adalah doa paling suci.
3. Harapan ialah samudra lamunan merindu.
4. Tulisan dari gairah rindu menjelma gemuruh guruh keabadian.
5. Kerinduan menambah daya ingat demi nyala juang.
6. Cinta menjadi salah satu jalan menuju keikhlasan.
7. Kecantikan atau pun ketampanan, sanggup mengatrol wibawa.
8. Wanita mengubah jalan revolusi, lebih cepat dari rencana.
9. Hilang gairahnya, ketika cinta tidak lagi berwarna-warna.
10. Kemampuanku hanya memahami wanita dari sisi keindahannya.
11. Kepergianku memberi bekas di keningmu.
12. Ku dengar panggilan penuh rindu di bathinmu.
13. Tiupan angin nurani sepadan tarikan seruling semesta.
14. Bedakan gemulai dengan lemah.
15. Kesabarannya ditunggu sekawanan bidadari bersayap bangau.
16. Tiada lama badai menerjang tanjung kesetiaan.
17. Karang sunyi penantianmu, dan ombakku mendekap erat.
18. Yang menggejala di tubuh manusia ialah magnit cinta.
19. Manisnya senyum menolong dicintai.
20. Kecemberutan sanggup merusak segalanya.
21. Kesetiaan mendekatkan pada karya keabadian.
22. Tenaga terbesar dari kaum yang dicintainya.
23. Perpisahan itu seolah lenyapnya awan di langit.
24. Bunga tertanam di hati tiada layu, paling hanya sayu.
25. Menunggu begitu indah bila dengan sambutan gembira.
26. Pertolongan pertama pada kemarahan ialah senyum.
27. Ku rindu kemarahanmu yang tak sungguh.
28. Seolah ditelanjangi saat orang kucinta melihat kehadiranku.
29. Selugu-lugunya manusia, tentu tahu bahasa dicintai dan mencintai.
30. Tanyakan gelombang bathin pada yang terguncang jiwanya.
31. Cinta adalah benang-benang bergelombang di udara.
32. Kedamaian hati percantik rupa dengan sendirinya.
33. Sebab cinta, imannya menggetarkan tubuh dan jiwa.
34. Pertemuan itu perlambang keberuntungan.
35. Makna jodoh lebih ajaib dari mimpi.
36. Bila berbalas surat itu hina, jangan kotori kertasmu dengan mata pena.
37. Ketika duka cita menghampirimu, sinar surya terasa temaram.
38. Sekali orang tidak setia, jangan-jangan anda munafik? Bertaubatlah untuk setia.
39. Kekasihnya menjadikan ia sejati; memaknai hidup tidak terlupakan.
40. Kadang jujur memalukan, tetapi yang malu katakan cinta ialah pembohong.
41. Ketika lintang bercakap. Siapa merawat malam melahirkan embun surya?
42. Kebebasan serupa rumah laba-laba yang menawari sunyi dan bisikan masa.
43. Menunda perkenalan memperbesar rindu, ialah ego terindah demi mencapai setia.
44. Perjumpaan itu keindahan dan tiada terindah daripada kesamaan lautan jiwa.
45. Yang mendengar mimpinya lalu melaksanakan cinta, akan bertemu kemenangan.
46. Matahari mengajak berjuang, sedang rembulan merayu kepada lamunan.
47. Nyala api mendorong asap terbang, bersatunya dengan udara kehidupan.
48. Bagaimana kusebut orang yang kucintai, sedangkan ia tidak ingin dicintai?
49. Kelembutan wanita mampu melahirkan karya, dan menambah daya juang bercita.
50. Wanita mempunyai kelemah-lebihannya, maka jangan terpenjara oleh pencarian ideal.
51. Cinta tumbuh sebab diingat, mengingat dan teringat pada yang dicintainya.
52. Kata yang berasal dari dasar nurani, sanggup menggetarkan pendengarnya.
53. Kata perawan senantiasa memitos, serupa kucing di pangkuan bidadari pada rembulan.
54. Emosi membakar jiwa ibarat perang, atau cinta buta yang akan ada jenuhnya.
55. Gelisahnya awan berarak, jika tiada nyala cinta ke dunia.
56. Ada senyum meragukan, dari kesungguhan orang yang pernah menyakitkan.
57. Sakit menyenangkan ialah cambuk cinta bagi si pemalas menjelma giat.
58. Bila aku tahu kau tak mungkin mencintaiku, diriku kan berlari sedari dulu.
59. Indahnya bunga rumput tetaplah serumpun rumput; kata mereka.
60. Aku terkagum karna rumput itu bunga yang malu akan sanjungan.
61. Karna cintanya tidak berbalas, terlunta-luntalah ia; yang menyetiai satu pandangan.
62. Setidaknya kau tersanjung walau tidak mencintaiku; kata terpuruk.
63. Rindu menggetarkan tubuh, panasnya ke tenggorokan akan dahaga pertemuan.
64. Kau dilahirkan cinta, tetapi kebencian sanggup menguburmu.
65. Tidakkah kau dengar, suara angin berkabarkan ketulusan.
66. Bila menyimakku maka habislah waktumu, renungkan; kau kan kudekap.
67. Mari berbincang agar saling menyadari dan kembali bersetia.
68. Melihat wajah teman, ku tahu ia punya saudara perempuan atau laki-laki.
69. Tanpa cinta, kehidupan hanyalah bayang-bayang perasaan.
70. Ruh cinta ditiup dari seruling kegaiban.
71. Siapa mati berkeadaan mencintai, akan menghadiahi sesuatu yang abadi.
72. Ku minta sesuatu darimu, kan ku beri kalbuku seberat ketulusanmu.
73. Bagaimana keindahan tidak boleh dimaknai, bila tidak disebut indah?
74. Ku cium tangannya demi mendapati hatinya dan ia menciumku untuk memiliki sayapku.
75. Memandangi kekasih ke puncak dan ketika beranjak, hilanglah kesadaran.
76. Melewati perasaan, kita mengerti bahasa kerahasiaan anak-anak dan perempuan.
77. Dengan akalnya, wanita bisa menjangkau kaum lelaki.
78. Dalam perut wanita, tuhan menciptakan insan, laki-laki ataupun perempuan.
79. Ku lihat ia bicara saat tersenyum dan ku tak sanggup mendengar kata-katanya, karna ku tenggelam dalam lautan bibirnya.
80. Pencipta pastilah pecinta, tetapi kasih sayangnya hanya satu, dirinya.
81. Nyanyian terindah dalam rumah ialah tangisan sang bayi.
82. Dan para tetangga berbondong-bondong untuk menyaksikan tariannya.
83. Cinta menyuburkan tanaman dan semua diperkenankan memetik buah-buahnya.
84. Kurekam kalbumu kasih, dan gelombang samudra mencatat laguku.
85. Ketika menuju pantai, jangan salahkan bayu kalau berkisah ke pedalaman.
86. Jiwaku laksana tubuhku yang gemar berkelana, bersentuhan dengan alam sekitarnya.
87. Tubuh awan ialah lukisan tidak membosankan.
88. Kecantikan sanggup membenarkan yang remang.
89. Sayang, sayapnya jauh menjangkau namun dia tidak mampu berkicau; elang.
90. Ketika berkata-kata sebenarnya aku malu, sebab hanya kebodohan semata.
91. Ia rela melepaskan kekasihnya, setelah menemukan cinta sejati kepasrahan.
92. Bidadari terlihat anggun ketika meneteskan air matanya, oleh sebab anak-anaknya.
93. Doa ialah suara hati hamba kepada tuhannya.
94. Ya Allah, kenapa aku iri bila istriku bersholawat kepada kekasih-Mu.
95. Menikmati alam dan mengaguminya, senafas dzikir kepada Allah Swt.
96. Gerak jiwa dan raga sanggup mempengaruhi grafitasi nasib seseorang.
97. Persoalan tampil sebagai hikmah, andaikan mau memahaminya.
98. Hikmah adalah air murni penyejuk jiwa.
99. Kesadaran senantiasa datang memberi pemaafan.
100. Nyanyian alam ada dalam jiwa dan lagu jiwa didendangkan alam.
101. Kejujuran memiliki beberapa pintu keberuntungan.
102. Utamakan kerukunan, hormati yang berilmu dan para pencarinya.
103. Pencari ilmu sejati selalu gelisah akan kebutuhan bathinnya.
104. Semua berawal dari kebaikan dan pada dasarnya suci.
105. Jangan sekali-kali menutup kemungkinan, sebab itu rahmat tuhan.
106. Siapa merawat embun menjelma mutiara di mata malam yang terjaga?
107. Dengarkan kata-kata waktu, sebelum berbicara kepada waktu.
108. Asap mendorong ke udara dari pembakaran keji maupun mulia.
109. Sesuatu yang baru sanggup menghipnotis kita.
110. Belajarlah bagaimana orang gila menghipnotis di jalanan umum.
111. Kebajikan itu menyakitkan, tetapi kebahagiaan berasal dari rasa sakit.
112. Buah manis kesabaran tidak selamanya dari satu pohon yang sama.
113. Bila telah merasakan derita, takkan lagi temukan sengsara.
114. Harapan mulia bisa terlupa bila melakoni hidupnya dengan melena.
115. Awali kegilaan itu sulit, tetapi langkah selanjutnya begitu ringan.
116. Seorang pemecah batu harus tahu serat-serat batu.
117. Ide maupun impian; fahamilah ruang ganjil.
118. Belajarlah ketegaran dari pohon cemara dan keteguhan pohon jati melewati musim.
119. Merunduknya padi, sampai ku kira ia rumput.
120. Terdengar kata-kata; hidup itu payah memiliki, padahal tidak memiliki.
121. Mata seorang arif setajam mata elang di balik awan.
122. Kebenaran ialah tonggak sejarah dan yang melahirkan peradaban.
123. Tumpukan batu pondasi rumah harapan dan impian, ternyata kesabaran.
124. Jika semua insan hilang kesabaran, daku tidak tahu lagi bagaimana dunia nanti?
125. Ibu adalah samudra bagi ikan-ikannya.
126. Banyak bertanya tetapi tidak mau berfikir, ibarat menanam tidak mau menyirami.
127. Jika menyadari dunia pengantar ibadah, tidak akan merasakan kepedihan hidup.
128. Kesungguhan tanpa keyakinan ibarat memukul udara hampa.
129. Yang melupakan hari pembalasan, akan jauh dari ajaran agama.
130. Apakah mencari hikmah dengan jalan berdosa mendapat pahala?
131. Mitos kali pertama terlahir dari mimpinya seorang primitif.
132. Filsuf yang masih memegang mitos seperti burung dalam sangkar.
133. Dengan kesabaran, hikmah menjelma mata air keabadian.
134. Mengurangi waktu riang untuk bekerja, akan menemukan ladang belum terfikirkan.
135. Proses mimpi dan impian lebih beberapa tingkat dari kehidupan nyata.
136. Yang mengorbankan waktu demi sang waktu, akan mendapati kemenangan.
137. Ide itu suci dan pengingkaran adalah dosa.
138. Bedakan pengingkaran dengan penolakan.
139. Gelisa tertuang di kanvas hidup akan menjelma karya agung.
140. Emosionalitas sempurna pada karya, akan mengirihi para penikmatnya.
141. Keindahan mulia pada seorang kembara yang mencari ilmu hikmah.
142. Kekangan di pesantren itu kemuliaan yang tidak dapat diganti dengan uang.
143. Jangan menanti panen, tetapi taburkanlah bebijian di ladang kosongmu.
144. Seorang sufi menggerak-gerakkan daun hatinya dan melangkah di tepian bibirnya.
145. Yang belum tahu kebaikan, karena tertutupi matanya oleh kabut kebendaan.
146. Ketika berbaju baru, gunakan beribadah terlebih dulu, sebab nanti akan mengesankanmu.
147. Yang beramal secara sirri (tersembunyi), besar kemungkinan pahalanya melampaui langit bumi.
148. Sanjungan bagimu menjadi racun, maka jangan kau telan dan lebih senanglah kepada kritik sebab pahitnya seperti jamu.
149. Ketakutan ialah hantu penunggu kegelapan dalam kehidupan manusia.
150. Pujilah yang berhak, agar tidak dikira melontarkan manisnya cacian.
151. Orang dalam ketakutan tidak memperhitungkan saat-saat terpejamnya mata.
152. Terlihat kabur kesaksian mereka, kalau kita menutupi kehilafan mereka.
153. Mungkin yang duluan masuk surga, itu yang mengajak ke jalan sesat, dan dia cepat bertaubat.
154. Mendapati cahaya di padang rumput dan ambillah dengan kalimah suci.
155. Yang menjaga kebersihan akan ditambah beberapa jengkal usianya.
156. Meremehkan sesama ialah dosa sulit terampuni, bila tidak dengan tawadhuk.
157. Bertemu orang-orang dalam kembaraan, ternyata mereka pernah dirindukan.
158. Tiliklah, bahwa semua laba-laba sudah dijatah makannya pada waktunya.
159. Kebaikanku serasa dari kumpulan doa-doa ibunda.
160. Dan kesalahanku terasa dari beberapa fikiran ayah.
161. Aku mencurigai kekenyangan perutku dan kuselidiki rasa laparku, yang mengajak berlalu.
162. Sayap-sayap malaikat kepakkan hawa dingin dalam tubuh manusia.
163. Jangan cepat riang sebelum menemukan janji tuhan dalam kitab kalbumu.
164. Yang merasa aman sesungguhnya terlena.
165. Yang merasa tidak aman senantiasa terjaga.
166. Sedangkan kepasrahan ialah wujud manunggalnya cinta.
167. Dengan suci hati lagi tawadhuk, ilmu dan ilham mengalir ke pangkuan.
168. Niat sebagaimana bekal takkan habis di perjalanan dan untuk meneguhnya pendirian.
169. Jadikan niatmu bersayap, mengepak, terbang dan mengembang kembara.
170. Niat ibarat magnit yang sanggup menarik jarum ke dekatnya, dan menggetarkan lempeng besi walau mata tak menyaksikannya.
171. Membawa beban sampai tidak mampu berjalan, setingkat kesakitan hingga mengalami kebisuan.
172. Ada terbunuh di persaingan karna membawa bajunya seorang incaran.
173. Yang tahu letak kehormatan dan pahala, hanyalah penyombong.
174. Seorang kembara mencari ilmu, sebaiknya tidur tidak beralaskan kasur.
175. Tingkat kematangan seseorang terhitung berapa kali menangis di hadapan tuhan.
176. Jangan bertanya bila nantinya menenggelamkan keyakinanmu, maka dengarkan dan bacalah.
177. Sekali-kali tenggelamkan keyakinanmu agar sampai kepada kedalamannya.
178. Kadang kita perlu melawan kebijakan untuk menemukan hakekatnya.
179. Selami jiwamu, sebab hidup memberat bila terbang sambil menaburkan emosi.
180. Alangkah arif, mengunyah kedirian hingga menemukan lautan madu.
181. Maafkan ia sebab masih takut bersetia, oleh belum tahu tentang dirinya dan dirimu.
182. Kehidupan ruh dan jasad ada tangga tingkatannya, serupa bertumpukan lelapisan langit.
183. Cermin akhirat membawa hati ke penyadaran menuju pulau kebajikan.
184. Tidur itu mati sementara, sedangkan mimpi ialah perjalanan tidak tersangka.
185. Kematian ialah pisahnya raga dan pindahnya ruh ke alam keabadian.
186. Yang tahu waktu kematiannya seperti penjala, faham akan batas lemparannya.
187. Dua pelaku sudah cukup menjadi saksi kebenaran di hadapanmu.
188. Orang beriman yang jujur tidak membutuhkan saksi lagi untuk keyakinannya.
189. Yang selalu ingat dan waspada, sangat memahami teguran meski pun halus.
190. Yang berkarya memindahkan hidupnya kepada bentuk abadi, dari pengertian umur.
191. Berniat lagi mengusahakan maka kau akan tahu diri; pecundang atau pemberani.
192. Diri sebagai ruang penuh udara serupa kau menikmati hidup dalam diri.
193. Kenali orang-orang gila dan temukan banyaknya hikmah yang tidak tersangka.
194. Doakan orang-orang yang telah tiada saat kembaramu, kau senantiasa bertalian.
195. Para sufi melihat dunia seampas tebu, walau sebagian lainnya menjadi pemulung.
196. Curahkanlah makna samudra kepadaku tuhan, kan ku pelajari langit-Mu.
197. Limpahkanlah langit-Mu tuhan, kan ku fahami samudra kalbuku kepada-Mu.
198. Yang terlupa laparnya saat melewati atmosfir keagungan dan menemukan senyum yang sama.
199. Kepada batu besar membenturkan kepala dan hanya ia yang mendapati pecahannya.
200. Yang senang deritanya tidak merasakan kepayahan sesungguhnya.
201. Ada berbuat dosa kecil untuk khusukkan ibadah yang pahalanya lebih.
202. Orang jujur dapat menilai kesungguhan orang lain.
203. Bathinnya orang jujur tidak gampang ditipu.
204. Orang jujur berpeluang selamat atau diselamatkan atau beruntung.
205. Jika sadar dirimu ditipu jangan tersenyum, mungkin kau berbedak kebodohan.
206. Kematangan diwarnai jamannya tetapi terpenting ialah kesadaran mencipta.
207. Sabar itu kemenangan belum terkuak, dan ketabahan ialah perang maha dahsyat di medan hati.
208. Penderitaan menjelma kekuatan ampuh untuk memenangkan permainan.
209. Jika digali dan didaki keraguan, menambah dalam dan tinggi keyakinan.
210. Kesadaran mustinya senantiasa lekat, suatu hikmahnya ialah mudah menjalanani hidup.
211. Nasehat terbaik dari dalam diri setelah pengendalian jiwa pada jarak stabil.
212. Banyak kehilangan akan banyak pula yang didapat.
213. Yang merasa kehilangan semakin faham dirinya yang sebenarnya.
214. Di jalan bathin ada kesangsian hening, sebab waktu belum menampar muka.
215. Menunggu atau menunda ialah pertanyaannya seorang pemalas.
216. Berimbanglah antara kepentingan diri di antara suasana, kau akan matang.
217. Lebih agung mitos dari harapan tinggi tanpa bunyi.
218. Lebih mulia mimpi dari impian tidak terlaksana.
219. Masalah tidak kan rampung sekadar duduk tetapi duduklah sebentar, kau kan menemukan jalan terbaik.
220. Menentukan pilihan terasa muda bila waktunya telah tiba.
221. Tali-temali kasih sayang menumbuhkan bulu di sayap, memudahkan jangkauan.
222. Mintalah ketajaman penglihatan memandangi kebaikan.
223. Mintalah daya terang hikmah dari keangkaraan.
224. Raut yang terlihat bengis, ketika menceritakan kenangan, hilanglah perangai buruknya.
225. Ketika sakit dilalui bertemulah kebahagiaan, jadilah kelemahan berkekuatan.
226. Aku sangat menikmati saat-saat berangsurnya kesembuhan.
227. Bila sakit jangan cepat diobati, tetapi rasakan terlebih dulu, agar tahu betapa berharganya sehat.
228. Penyakit tuli pun bisa lantaran flu.
229. Menunda pekerjaan menambah was-was dan hantu beralasan menjerumuskanmu.
230. Yang menyukai jalan kebaikan, bila ke jalan sesat ia terhalang-halangi.
231. Marilah belajar ikhlas kepada satu hal kecil dulu, dan penambahan itu mudah.
232. Yang memberi juga menanti balasan, mendekati perbuatan judi.
233. Memasuki waktu keheninganmu dan dengarkan tembang kerahasiaannya.
234. Wahai kaum hawa, apa geloramu agar ku setiai di jalan menanjak di sekeliling rahasia.
235. Tenang di kekosongan hati itu hampa, tetapi ketenangan oleh kedamaian hati itu berisi.
236. Dalam hening terdengar suara, padahal tiada bunyi.
237. Saat pejamkan mata, terlihat bayangan.
238. Di butuhkan ketegasan di saat menentukan putusan.
239. Ada was-was mempercepat kemajuan pesat, bagi sang tekun mencari kebenaran.
240. Jala sutra ialah saat-saat menentukan, merdeka atau terpenjara.
241. Masa pun sanggup membebaskan sayapnya kepada langit keberuntungan.
242. Pengembala bahagia sebab melihat gembalaannya sibuk mengunyah rumput.
243. Renungkanlah udara pembalut alam ini, akan kabut waktu terus berlalu.
244. Bahagialah yang selalu dilahirkan fajar dari malam permenungan.
245. Terimalah pemberian-Nya meski kadang menyakitkan, sebagai tanda digenapinya keganjilanmu.
246. Hormatilah pengajar dan tatalah buku dengan santun, sebagai awal kebaikan mencari ilmu.
247. Lebih indah ilmu daripada engkau, tetapi tidak pantas kecemburuan ditaruh di sini.
248. Jika ingin membunuh, jangan membaca terlebih dulu.
249. Ilmu berupa kalimah-kalimah, sebagian lagi rahasia-rahasia terungkap.
250. Tambal dan kenakan baju yang sobek sebagai awal pelajaran musafir.
251. Sedikit waktu berfikir, berarti mengurangi harapan hidup lebih lama.
252. Berfikir dan berjiwalah muda, ketika tua jadilah piramida cermin.
253. Setiap penari pernah terkilir sebelum menemukan gerak ekstasi jiwanya.
254. Ketika melalui oase ia menutup buku, lalu menyimak bisikan bayu.
255. Pada jalan yang sama dan waktunya berbeda dimaknai serupa, ia takkan balik.
256. Maju menunggu dicambuk ibarat keledai dan seekor burung menuruti naluriahnya.
257. Lihatlah bagaimana burung camar bermain mengantisipasi ombak sambil memikat.
258. Ku kira lebih tua ombak daripada karang. Kau tahu kan yang ku maksud?
259. Penantian karang seakan sia-sia sebab tidak mampu ke pedalaman.
260. Wujudkan gagasanmu, ada masanya ia hidup senafasmu saat menulis.
261. Impian akan purna bila dikerjakan sungguh dengan jiwa berkobar.
262. Indahnya tarian pena atas dinaya alam, bukan dari tenaga dendam.
263. Amat banyak naskah percobaan demi menghadirkan karya terbaik.
264. Ide itu mengagumkan dan ilham semacam pencerahan.
265. Karya sanggup menelanjangi penciptanya, sekaligus membuat rahasia di dalamnya.
266. Ekspresi memperbanyak pengalaman dan mereka hanya mendapati beritanya.
267. Ciptakan menara tidak tertumbangkan, dan buatlah pondasinya sedalam keinginan bumi kau setubuhi.
268. Orang bercita-cita tinggi selalu pertimbang kegiatannya.
269. Yang benci sesuatu karena hanya tahu akibat dan buta akan penyebabnya.
270. Mati ku tidak membawa lembaran kertas, maka rawatlah tinta hidupku.
271. Berkali-kali menyeket ibarat membaca, pada dataran penguasaan.
272. Melukis itu suatu kegembiraan meskipun menuangkan kesedihan.
273. Berpuisi itu kesenangan tertulis walau menuturkan kesengsaraan.
274. Berkarya dan berpropaganda ialah lebih baik daripada pembuatan organisasi tak sejiwa.
275. Hati dan nalar bekerja, indra sebagai penanya, dan kejujuran jiwanya kesatria.
276. Kesambillaluan, tiduran dan mati ialah yang menghentikan kesempatan.
277. Kau lebih berkesempatan daripada tokoh sebelummu, karna bergelayutnya nyawamu.
278. Spekulasi paling ngeri ada dalam permainan billiard.
279. Kajilah sejarah secukupnya jangan terlena, lantas ciptakan bersama keyakinanmu.
280. Pelajarilah matahari, awan, lintang dan rembulan yang mengajak bersabar.
281. Semakin belajar dari mereka akan bertambah faham bagaimana melampauinya.
282. Sedikit demi sedikit impian ternyatakan dari yang ringan menuju kobaran.
283. Dengan bekerja ia cukup senang walau harapannya ditimbun kekinian.
284. Bermimpi dan bekerjalah, kau akan menuai hasil secara logis dan Ilahiyah.
285. Makna bisa belum tentu mampu karna kemampuan itu kesadaran kekuatan.
286. Sedangkan bisa dapat dilakukan tanpa sadar dan tidak memiliki daya hakiki.
287. Jauh lebih purna merasakan terlebih dulu, baru berpendapat.
288. Matangkan air hingga tenang sebelum mempersembahkan.
289. Yang hidup tetapi jiwanya sekarat sebab cita-citanya terpenjara keadaan.
290. Jiwa bunuh diri itu yang tidak memiliki cita-cita sama sekali.
291. Orang merdeka ialah yang bisa berjalan melalui cita-citanya.
292. Cahaya terbaik itu pengalaman orang lain.
293. Kemajuan memang menyakitkan, tetapi bagian terbesar itu senyum kebahagiaan.
294. Kebahagiaan langsung teresap di saat pelukis menggarap karyanya.
295. Pujangga tidak kalah bahagia ketika sejarah impiannya terlukiskan.
296. Apalagi yang diinginkan setelah bahagia, sungguh insan cepat dahaga.
297. Berkarya menjadi terapi kesembuhan terbaik bagi sang pesakitan.
298. Ada yang lancar berteori tetapi dalam berkata-kata masih mengeja.
299. Igauan kelana: Matiku entah di mana? Nyatakah bara dalam dada?
300. Heran bercampur syukur ketika doa terkabul, lantas setan meniupkan keangkuhan.
301. Ada membaca buku bagaikan kuda pacuan saat menggebu; sang penyuntuk.
302. Ada membaca buku serupa kucing bermalas-malasan; si pelamun.
303. Ada membaca buku seperti keledai tercambuk, ketika membacanya sebagai obat jiwa.
304. Ada membaca buku laksana angin sepoi saat membacanya sebagai teman setia.
305. Ia suntuk manakala doanya tidak terjawab, jika berlarut menjelma kemarahan, kesadarannya ke dasar kehinaan.
306. Cat, kanvas, pena, kertas dan secangkir kopi mengatur komposisi.
307. Watak sederhana membentuk bathin tentram diruapi sejahtera.
308. Ketika timbul keraguan, keyakinan ditanam dalam-dalam, lalu nalar menyetujui kembali.
309. Pupuklah kesabaran dengan kegiatan positif, nantinya memperoleh kemenangan sejati.
310. Jika hidup itu penantian, maka matangkan dirimu sebelum dijemput masa.
311. Tenanglah agar luapan hikmah dapat kau petik dari kenangan.
312. Buah-buahan yang diketemukan kembara lebih bermakna tersendiri baginya.
313. Kenapa yang bijak sering terhempas dan terangkat kala dibutuhkan?
314. Berilah makan kepada orang gila, demi menghindari kegilaan pribadi.
315. Senangkanlah anak-anak kecil, agar kau merasakan kebahagiaan.
316. Ketika merasa tidak menjadi apa-apa, ringanlah langkah setelahnya.
317. Pemabuk itu seperti orang sombong juga sama berkeadaan junub; hilangnya daya pikat serta tidak memiliki tameng.
318. Bercermin sisirlah rambutmu perlahan, kau akan temukan kilauan ketenangan.
319. Suara gerimis di tengah malam itu bisikan bidadari.
320. Hikmah memakai wewangian dapat menjaga pribadi, ketenangan serta wibawa.
321. Sederhanalah menggunakan wewangian, agar tidak menjadi bahan gunjingan.
322. Berilah wewangian pada bebatuan mulia, agar mendapati kilauan pemikatan.
323. Salah satu cara menemukan makna hidup, dengan berjalan berkilo-kilo meter.
324. Ruh bermuatan nyawa, sedangkan jiwa bermuatan rasa.
325. Bathin bermuatan kehendak terdalam, dan sukma berisi suara-suara dari dalam.
326. Yang merawat hati dan fikirnya, terjaga dari kesesatan panjang.
327. Kajilah umurmu untuk memerdekakan sesuatu, minimal membebaskan diri sendiri.
328. Jika tidak mampu, lepaskanlah seekor ikan lalu lihatlah bagaimana ia berenang.
329. Yang pernah diguncang keyakinannya, tentu mengerti betapa manisnya iman.
330. Betapa sepi nan suwong ketika kalbu tanpa keimanan.
331. Yang menikmati dunia senantiasa kecanduan, yang mencecap madu akhirat berkecukupan.
332. Watak nerimo ing pandum (menerima apa adanya), akan mudah beradaptasi mempercepat laju.
333. Kelana yang haus ilmu, cinta pengembaraan dengan membaca dan penelitiaan.
334. Perjumpaan melanggengkan ikatan sebab seirama bathin, tentunya menciptakan rindu.
335. Benarlah cahaya itu fokus pandangan yang menampilkan warna juga bentuk.
336. Dzikir sirri itu terindah; kata bidadari pemalu.
337. Kesalahan melahirkan sesal tetapi kenapa masih sering melalaikan.
338. Kembara yang membaca selalu tersenyum dan kecut memandangi diri.
339. Yang melakukan lelaku, banyaklah hikmah menaburi kepalanya.
340. Mata pemberani sanggup meredupkan matahari; kata pemuda.
341. Jaman edan memang, orang miskin sulit mencari teman.
342. Jaman edan memang, orang penekat banyak teman.
343. Umpatan pelacur menjelma doa tidak terelak, sehalilintarnya kalbu menyeret badai.
344. Secawuk teguk air perigi menguatkan kembara melalui keyakinannya.
345. Kembaralah agar menemukan dirimu lewat sahabat-sahabatmu.
346. Makna kembara itu menyadari hidup lebih cepat dari berdiam diri.
347. Kalau kau dermawan, tidak akan ada mengharapkan kau terhinakan.
348. Pencari bebatuan mulia yang bimbang sebab belum merasa dirinyalah istimewa.
349. Benar hidup itu ujian dan jalan tengah keseimbangan seharusnya selalu dijaga.
350. Lidah keluh menyaksikan keagungan ilmu dan begitu ciut (sempit) melihat dunia ini.
351. Yang mengagumi suatu karya, namun tidak berkarya adalah pembual.
352. Kerja melelahkan sebab ambisi dan tersadarkan setelah muntah.
353. Sungguh nikmat benar kalau bekerja itu wujud panggilan nurani.
354. Yang berpengalaman serupa batu menyimpan api dan air.
355. Pondasi hidup adalah rasa sakit (kesakitan).
356. Lupa itu sebentuk mengurangi waktu tahanan.
357. Orang crewet itu hidupnya tidak mau menerima takdir.
358. Penangkal kehawatiran maupun was-wis dengan membaca.
359. Bedakan semangat dengan ambisi.
360. Kemiskinan menyembunyikan harta paling berharga; yakni tabah.
361. Bidadari menanti kucuran keringat petani yang kepanasan di ladang siang.
362. Aku menjaga jarak dengan orang yang susah memberi pemaafan, sejauh pandangan.
363. Kegembiraan tidak bisa menerbangkan, paling hanya melayang-layang.
364. Kesakitan melesatkan dirinya dari tempat duduk berpenuh keyakinan.
365. Ukurlah perjalanan mimpimu, kau akan yakin bahwa hidup bersangkut kubur.
366. Aku tidak kerasan di rumah orang kaya yang mengukur hartanya.
367. Aku tidak betah di kediaman orang alim yang mengukur kedalaman ilmunya.
368. Dengarkan nasehat-nasehat dan bersabarlah untuk menyetiai.
369. Berhati-hatilah membanggakan anak sebab bisa menumbuhkan keangkuhan.
370. Waktu dan gerak sangat berpengaruh dalam menentukan jalan hidup seseorang.
371. Yang berjiwa seni tinggi, sanggup mengakui keindahan bathin seseorang.
372. Tidak ada kalimah yang tidak bisa difahami, kalau diterima terlebih dulu.
373. Tidakkah buah yang matang di pohonnya lebih nikmat daripada yang karbitan?
374. Bedakan cita-cita tinggi dengan keserakahan.
375. Sering-seringlah bermandi taubat, kau akan segar nan damai luar-dalam.
376. Ku kira orang yang pasrah senantiasa dibimbing dan terbimbing jalannya.
377. Ramai di kesunyian itu bising, dan sunyi dalam keramaian itu kesepian.
378. Orang yang patut menjadi panutan itu yang berjiwa mapan.
379. Walau tanpa cahaya, pastikan dapat menentukan sesuatu sebab kaulah cahayanya.
380. Nikmatilah kesunyianmu yang tersakiti hingga bermakna.
381. Benih kemarahan itu dari tergesa-gesa.
382. Yang tidak sabar, bersiap-siaplah menerima kegagalan.
383. Tanda orang yang cepat putus asa ialah mudah tersinggung.
384. Murah hati dapat diukur dari keikhlasan, dan hanya mampu ditimbang diri sendiri.
385. Temukanlah kata-kata baru setelah lupa.
386. Bersikap tegaslah untuk wibawa.
387. Bedakan ketegasan dengan garang.
388. Sayap-sayap terbakar mendekati unggun keyakinan.
389. Menghela nafas panjang setelah menyaksikan karya besar, dan malu bercampur cemburu dibuatnya.
390. Tariklah lelapisan kesadaran, lantas tatalah dengan seunting kenangan.
391. Bulu-bulu sayap burung timur ditakdirkan sebagai pena para penulis.
392. Dirinya berhutang banyak kepada kaum hawa atas karya-karya ciptaannya.
393. Setelah membaca sejarah akan tersadarkan, bahwa para utusan itu hadir tidaklah mudah.
394. Campuran warna, kata, waktu serta tempat, menambah bobot karya.
395. Keputusan terbaik lebih memukau daripada pebukitan emas seluruh.
396. Berkaryalah penuh sungguh nan senang sebab hasilnya begitu nyata dalam jiwa.
397. Manusia memiliki kalbu dan otak menakjubkan di saat-saat dibutuhkan.
398. Yang tidak mengerjakan hari ini, esok takkan terjadi dan sulit mencapai ketepatan.
399. Aku menyukai kebebasanmu yang sanggup menentukan pilihan bercita-cita.
400. Kadang diterima kesungguhan dengan ragu, lalu sambillalu menghampiri keyakinan.
401. Tidak mereka tahu ketika ia di antara dua pendapat, dua kemungkinan juga keduanya.
402. Yang tersembuhkan kamar hening, ibarat burung mahal.
403. Yang diikuti seekor kupu-kupu besar ialah tamu agung; kata teman.
404. Jiwa tidaklah sama dalam satu suasana ketika memandang perbebedaan.
405. Jiwa dan pemikiran sanggup mewujudkan bentuk-bentuk kemungkinan.
406. Kemungkinan yang terpecahkan seperti kerjanya bom atom.
407. Lihatlah sebelum-belumnya dan tanjaki cita-citamu hingga berbunga.
408. Bila hidup itu hutang kepada nilai-nilai tertanam, bayarlah lewat berkarya.
409. Keluguan serta keraguan awal, tidak perlu dicampakkan.
410. Setiap kucuran keringat, buatlah menjelma tinta emas seluruh.
411. Terlalu cepat mengambil keputusan di permukaan, yang sebenarnya dapat diselesaikan dalam ketenangan, akan ada penyesalnya.
412. Lebih baik berhasil meski beresiko tinggi, daripada tiada hasil beresiko rendah tetapi di dalam situasi besar tidak sanggup bernafas.
413. Tiga tahun terlalu dini itu sepi dan tiga tahun terlambat itu ompong.
414. Satu tahun yang tepat menguasai seabad, dan bila melampaui akan mensejarah.
415. Yang menilai kesabaran orang lain seperti dirinya, itu yang tak pernah belajar sabar.
416. Jiwa tenang nan penuh penantian kan terjadi, dan yang meluber itu revolusi.
417. Melihat burung terbang mengimpikannya, ketika mengamati kepakan, urunglah niatan.
418. Cermin mereka ada padaku, yang tidak lenyap lemparan batu, tidak terhalang awan-gemawan.
419. Teka-teki hidup itu terjawab oleh para pemintal untuk pakaian.
420. Orang pintar membaca kebodohannya, sedangkan orang bodoh terjebak perbuatannya.
421. Kemanusiaan itu seluruh tubuh, dan ketidakadilan menghilangkan bagian-bagiannya.
422. Bersyukurlah tersebab diselamatkan dari kelupaan-kelupaan.
423. Hidupmu memasuki ruang mereka, akan nyata ruang-ruang itu sama kegunaannya.
424. Aturan-aturan itu seyogyanya dilampaui, ketika ketaatan identik dengan kesalahan.
425. Kesalahan terbesar itu lahir dari keraguan.
426. Para penemu tidak lama mendapati hukum ciptaannya, jika membaca mimpi-mimpinya.
427. Engkau lebih tahu bagaimana cara beristirahat bagi dirimu.
428. Karya yang belum terselesaikan ibarat hutang yang musti dibayar umur.
429. Karena persahabatan, ia sanggup bertahan hingga sekarang.
430. Persahabatan itu pohon berkembang, dedaun serta bebuahnya ialah hikmah atau petaka.
431. Cinta pemuda kepada lawan jenis akan mengurangi banyaknya teman, meski tidak terlihat.
432. Persahabatan itu cangkokan pohon persaudaraan, berbuah sesuai kodratnya.
433. Kembara yang tersesat membengkakkan biaya dan menghabiskan banyak masa.
434. Nalar menjangkau ke langit tidak menemu apa-apa selain tenaganya, itu pun sedikit.
435. Ia terbang meninggalkan bayangannya, menjauhi habisnya nafas-nafas karya.
436. Cintaku kepada karya sebab mereka menganggap aku hidup jika berkarya.
437. Kalau tidak ada yang mengenal, lalu siapa yang sudi mendoakan aku.
438. Keberanian diri ialah kunci untuk bisa walau pun kadang terpaksa.
439. Hidup itu bertenaga dan mencari tenaga baru demi harapan-harapannya.
440. Ilmu dan pengalaman membentuk gaya hidup seseorang.
441. Lebih baik waktu menunggu kita, daripada kita menantinya.
442. Jangan malu atas kegagalanmu, setelah menemukan kemenangan dalam kalbu.
443. Sketsa kebaikan berasal dari akal sehat, dan sketsa keburukan itu hasil dari perasaan kacau.
444. Yang memanjakan diri ialah budak jaman dan dirinya tidak memiliki nyanyian sejati.
445. Aku berharap masa depanku penuh orang-orang menghargai kejujuran karya.
446. Aku memiliki jaman gemilang bersayap kebijakan; kata firasat hidupku.
447. Rencana tidak mungkin terwujud meski berharap-harap cemas, tetapi perbuatanlah yang kan mewujudkan.
448. Yang berkepribadian maju senantiasa sadar kekurangan, lagi terus mencari dan mencoba teknik baru.
449. Segarkanlah nalar serta perasaan dengan menggubah keadaan juga meresapi jiwa alamnya.
450. Lebih baik terjatuh dari langit daripada jatuh dari pohon; kata pemberani.
451. Jika berpeluang dan ada pemberani memanfaatkannya, berarti ia mengambil untung dari mereka (di sekitarnya).
452. Bila hidup tiada mimpi tak kan ada ide cemerlang di muka bumi; kata pemimpi.
453. Proses impian-impian mencontoh mimpi; kata pemilik inisiatif.
454. Yang berhasil mempengaruhi lingkungan sebab tahu karakternya.
455. Mudah sekali mempengaruhi lingkungan sebab mengerti kebutuhannya.
456. Seorang penakut menyebut dirinya telah dewasa, sedangkan yang berpengalaman tidak sebut apa-apa.
457. Kesegaran hidup ialah pencarian lebih baik dari proses sebelumnya.
458. Sakit di perjalanan manakala mengarungi keyakinan, akan mengukuhkan keyakinannya.
459. Keyakinan itu sesuatu yang ditancapkan dan kepercayaan sebagai fitrohnya.
460. Siapakah yang melaparkan dirinya sendiri demi impian ke tepian nyata?
461. Haus dan berlaparlah, kau akan menemukan daya revolusi yang sesungguhnya.
462. Laparlah sebelum dan disaat mencipta suatu karya, agar tiada pendarahan berlebih ketika melahirkannya.
463. Kegilaan tidak dianggap keanehan bagi yang sering merasakan lapar.
464. Seorang pemuda jelmaan dewata sebab kehendak berkuasanya.
465. Ada kemungkinan mencapai purna; mati atau gila.
466. Yang mencapai batas nol kembali, menentukan kegilaan pun masih sulit.
467. Ada tempat begitu nol drajad, setiap gairah seolah terpatahkan alam.
468. Para revolusioner menata hidupnya sejak dini, dan mencintai mimpi-mimpinya.
469. Wujud sempurna iblis ialah penjajahan sesama manusia.
470. Jiwanya penulis tersembuhkan, setelah menaburkan kedamaian bagi kemanusiaan.
471. Perang tidak selamanya akibat, maka cobalah menciptakan sebab.
472. Sebab itu pokok daripada ide, dan ide ialah bonggol daripada kehidupan.
473. Aku meragukan konsep demokrasi kalian, padahal saya sangat demokrat; kata pecundang.
474. Sesuatu yang mati dapat bangkit sebab ada yang membangkitkan, dan permulaan gerak hayat itu berasal dari Sang Maha Faham akan ruh.
475. Seorang bocah yang selamat dari bencana, suatu saat akan menjadi pemimpin di antara mereka.
476. Gurunya seorang revolusioner, kudu (harus) menerima bantahan sang murid, meskipun kadang keputusan itu konyol.
477. Revolusi itu ibarat bocah yang tenggelam di kali dan tak bisa berenang, maka merangkaklah ia ke tepian keselamatan.
478. Dalam segala hal kau terpukul, bila membalas dengan beban yang sama artinya penakut.
479. Keyakinan pemuda sering dianggap konyol sebab tidak dilakukan para pendahulunya.
480. Nilai kecantikan sanggup menentukan gerak revolusi bagai seteguk air di malam letih.
481. Revolusi yang mewujudkan impian menjadi kenyataan, hanyalah segelintir makna dari keberadaan-Nya.
482. Impian dan realita ialah dua jalan yang mampu menunjukkan cahaya kemuliaan.
483. Aku kagumi mereka, yang dengan sesingkat umurnya sanggup mempengaruhi peradaban.
484. Ada yang lebih agung dari sebuah ketenaran, yakni keabadian yang sering dunia pertanyakan.
485. Aku sering membunuh rasa kantuk, bila tidak mau bermesraan terlebih dulu dengan lelah.
486. Mengorbankan waktu demi balas dendam, sesalnya tiada akhir.
487. Balas dendam hanya ada dalam kamusnya si mata satu, yakni kepicikan.
488. Lebih baik berkemauan walau pun belum bisa, daripada bisa namun tidak memiliki kemauan.
489. Yang melempar kartu-kartu kecil dengan kesenangan, para pengamat akan kesulitkan menerkanya.
490. Yang mengetahui kepribadian orang lain, mudah melemahkan sekaligus gampang memberi motifasi.
491. Lawanlah mimpi-mimpi burukmu agar terbebas dari belenggu mitos-mitosmu.
492. Ketika waktu yang besar terlahir, terhempaslah kecengengan pecundang.
493. Revolusi bukan imbas dari luar, tetapi dari kawah diri kemanusiaan.
494. Dalam diri bangsa ada nyala menyengat sebagai pecahnya perang bintang.
495. Munculnya fajar senantiasa baru, serupa matahari merevolusi dirinya.
496. Ketika lelah diteruskan. Di mana sandaran keamanan?
497. Penodong yang berpisau masa depan, lebih punya rasa malu akan makna tanggung jawab.
498. Peperangan itu salah satu bidang pengetahuan yang seseorang bisa terpikat hingga mencintai.
499. Di saat dunia serasa penuh, berjangkitlah semangat kembali kepada alam.
500. Dari peperangan berharap perubahan, laksana pepohonan jati lebat kembali.
501. Di dalam peperangan orang-orang merasa muda, inilah kejiwaan penyuntuk.
502. Revolusi sederas hujan lebat, memecahkan tubuh kacanya pada bebatuan rindu.
503. Revolusi ibarat keris gandring yang belum dilambari kebajikan.
504. Revolusi itu sebuah karya belum selesai dan tidak akan rampung.
505. Ruh daripada revolusi, itu berasal dari alam dan akan kembali kepada hukum-hukum alam.
506. Gerak naik turun memberat jika masih membawa beban tubuh.
507. Melaju ke samping terasa ringan sebab lemparan manusiawi.
508. Pesawat pengebom itu mengikuti gerak turun dan dipercepat gaya grafitasi.
509. Berebutlah terlebih dulu, sebab kedamaian semu tidak ada harganya.
510. Tidak ada yang membeli kedamaian semu, kecuali para penakut yang duduk di kursi rapuh.
511. Tatanan negara menjadi kacau di tangan orang-orang yang baru belajar memerintah.
512. Alangkah merugi yang menuruti nafsu dengan mengesampingkan perasaan sejarah.
513. Awal peradaban manusia ketika bertemu goa lalu memasukinya.
514. Gema di dalam goa menjelma nyanyian, dan pemahatan dindingnya merupakan seni yang pertama.
515. Lantas orang-orang pendatang berfilsafat dan tidak jauh darinya, petapa menimba hening.
516. Buronan waktu berlarian, mengumpat dan sesenggukan dalam sekapan.
517. Ketika peradaban dunia ke tiga bergerak, yang pertama dan yang ke dua terkena efek.
518. Mengefek ialah gemuruh kesadaran dari idealisme yang ditegakkan.
519. Hidup itu merugi, tidak melangkah lebih payah sebab tidak tahu namanya bangkrut.
520. Yang mabuk impian terbentur kenyataan, yang mabuk fakta terdampar di angan-angan.
521. Raja di singgasana, tangannya berdekatan awan-gemawan.
522. Tidak ada peperangan tidak ada perbudakan, dan para budak ialah jelmaan raja-raja.
523. Jangan terlalu percaya kepada dokter, bila telah hafal memahami diri sendiri.
524. Ramuan para tabib tidak ada apa-apanya, dibandingkan keyakinanmu menyunggui sembuh.
525. Sejarah terus berjalan, kau mengikuti atau diikuti atau terhempas?
526. Mati ganas dalam hidup keras akan dikenang, dan semilir bayu berabadi.
527. Laksana legenda harum melati, kebenaran wangi dari kelopak-kelopaknya.
528. Sepasang semut mengagumi laut, dan si bijak membawanya berlayar, tetapi semut itu menyesal.
529. Pengamen sebaiknya membuat nyataan bernada datar, bukannya riang.
530. Apabila berharap upah, para pengamen mustinya tembangkan kenangan.
531. Yang di lengannya ada jam tangan begitu seringnya mengulur waktu.
532. Yang di rumahnya ada kalender, merasakan hidupnya masih lama.
533. Salah satu ciri orang mendapatkan hidayah-Nya ialah senantiasa ingat akan mati.
534. Seorang penulis yang produktif ibarat burung terbang yang tak pedulikan siapapun.
535. Yang sibuk dengan keinginan tinggi, sapaan maupun kritik dianggapnya angin lalu.
536. Belajarlah menjadi sutradara sejak dini, dengan itu nyatakan hayalan-hayalanmu.
537. Ketakutan duniawi ada dalam fikiran dan bukan di balik hati.
538. Para penjual itu menanti pembeli setelah cukup berusaha.
539. Tirakatnya para penjual dengan modalnya.
540. Orang bodoh makanannya (melahap ilmunya) orang pintar, itulah makna yang seharusnya.
541. Jangan menjadi bui yang centang-perenang tetapi pilihlah, siapa menitih bui akan aman badan ke seberang; ambillah kemungkinan terbaik.
542. Jangan lekas puas sebab dunia terisi realitas serta mimpi hidup.
543. Yang hidup dianggap tiada sebab kebodohannya.
544. Orang ceroboh juga terlalu berperasaan, tidaklah tenang hidupnya.
545. Rasa malu yang berlebihan dapat membuat tidak betah atau tidak kerasan.
546. Jangan bertanya kepada orang gusar sebab kesadarannya separuh persen.
547. Berbohong pada satu permasalahan, cabang-cabangnya akan berbohong juga.
548. Aku dengar hidup itu perjalanan, maka aku berseru; berlarilah!
549. Batu sandungan terbaik berbentuk tajam meruncing melukai diri lagi membekasi.
550. Enak-tidaknya suatu makanan itu tergantung kunyahan fikir pada kesadaran lapar.
551. Keberuntungan sanggup kalahkan logika dan tidak dapat dibeli.
552. Keberuntungan itu pertolongan tuhan yang tak disangka-sangka.
553. Keberuntungan yang tersangkakan dan ternyatakan ialah keimanan.
554. Yang tertipu rencana sesungguhnya sebab hanya melihat kulitnya semata.
555. Rumusan cita-cita itu peryataan logis dari panggilan nurani.
556. Walau bulan separuh rata, cahayanya tak kurang menerangi malam.
557. Cerecah burung melintasi sepinya malam bertanda hujan meredah.
558. Melihat sosok lain menambah rindu pada bungamu dan terlupakan mimpimu.
559. Langit berhujan deras mengajarkan tidak ragu atau cepat patah semangat.
560. Terimalah pendapat orang lain dengan senyum hormat, tetapi jangan lupa gagasanmu semula.
561. Kepercayaan mereka kepada kita ialah karya yang semakin lama bertambah nilainya.
562. Mendung dan hujan ialah keramat kehidupan, sedangkan petir berdekatan dengan murka tuhan.
563. Hujan mengantarkan kelahiranku yang menggeraikan kesejukan; kata para penyaksi.
564. Aku cemburu kepada para penemu, dan aku berharap mereka iri akan kehidupanku.
565. Mundurlah selangkah bila sebab ajakan, lalu berlarilah secepat tidak terkirakan.
566. Gerak efektif-efisien seharusnya seirama kesadaran langkah juga nalar.
567. Belajar sungguh dan percaya diri adalah kegilaan kaum rasionalis.
568. Agama itu ruh kebudayaan ialah sifatnya, sedangkan lainnya sebagai pelengkap kehidupan.
569. Bila kebudayaan nyawanya waktu; berkaryalah, dan bumi memberi masa demi suara-suara.
570. Tuhan menurunkan kitab-kitab suci laksana embun di kalbu pagi.
571. Pengekangan nafsu itu puasa tertinggi dan pahalanya dirindu seribu kebajikan.
572. Kata orang-orang di pasar; pekerjaan dapat ditiru tetapi nasib tidak bisa. Apa jadinya kalau bisa?
573. Yang lagi diuji keimanannya, ia sedang mempertaruhkan nilai-nilai luhur kemanusiaan.
574. Berfikir dan berdzikir, sedangkan perjalanan tercepat itu berserah diri kepada-Nya.
575. Kata “tidak” ialah penjara dan kata “ya” merupakan penjelmaan dari perjuangan.
576. Sedangkan “ragu” atau “keraguan” itu sekawanan awan menunda hujan.
577. Ada perlambang yang sejajar dengan yang dilambangkan, ia memiliki kesamaan melodi ke muaranya, dan ada pula perlambang yang berkawinan dengan yang dilambangkan.
578. Melegenda gairah tekadku, terhimpun satuan-satuan waktu bersekutu dengan nasibku; kata penggagas.
579. Puisi itu alunan lagu diam yang terbacakan lewat antologi.
580. Puisi itu tarian yang ditampilkan jika terbaca di atas panggung.
581. Puisi merupakan berita gembira yang tercipta dari kesakitan bathin.
582. Puisi yang tertuang dalam ruang waktu ganjil, menjelma sesuatu yang agung.
583. Puisi tidak dapat dilukiskan sebenarnya jika berharap dimensi kesuciannya.
584. Namun bagaimana tahu puisi itu suci atau tidak, kalau tak dilukiskan.
585. Puisi memasuki ruang tiga dimensi kehidupan, bagaimana ia dilahirkan pun terlahirkan;
586. Pertama, puisi merekam waktu lampau yang memuat hikmah serta kekinian.
587. Kedua, puisi merekam kejadian di sekitar penciptaan atau kekinian yang bertahan dalam usianya dan lebih.
588. Ketiga, puisi itu merekam masa kan datang, serta berabadi sebab pertolongan tuhan.
589. Lelangkah di tengah malam serasa cepat sebab grafitasi bumi melentur berkabut.
590. Di siang hari mereka mencipta grafitasi masing-masing, hingga sesaklah oleh ribuan kaki melangkah.
591. Pengutil yang sulit terampuni ialah yang mengambil obat-obatan di rumah sakit.
592. Banyak orang berkata; uang tiada nilainya kalau sudah memasuk rumah sakit.
593. Koruptor yang membelanjakan uang kotornya seperti menghabiskan kebahagiaannya.
594. Yang melihat dunia sebagai panggung gemerlap, pastilah sadar itu hanya sekejap.
595. Yang telah menghamburkan hawa nafsu, semestinya lebih cepat bertaubat.
596. Orang Barat berkata; sebaiknya membangun pabrik roti, dan biarkan mereka kelaparan di atas timbunan peluru.
597. Ketika menuju ujung timur, kau melihat matahari separuh air separuh api.
598. Hari-hari kelabu anak muda itu lebih dendam dari sebuah rencana besar.
599. Gerak kontinyu memercikkan energi dan nyalanya ke titik konsentrasi.
600. Rayu atau propaganda memudahkan ide memasuki nalar dan kalbu, tanpa batas bangsa serta warna kulitnya.
601. Revolusioner keluar dari kesakitan membawa ajaran-ajaran pembebasan.
602. Seorang rasionalis berkata; yang faham akan keadaan ibarat tuhan.
603. Seorang seniman angkuh merasa bahwa tuhan sekadar teman sekutu.
604. Dalam diri insan ada sifat ketuhanan dan manusia itu tuhan sekejap; kata pelupa.
605. Kata orang di ujung ateis; bila tuhan masih ada, Ia punya rencana.
606. Janganlah resah sebab aku bukan belenggu, tidak kucuri apa yang kau miliki.
607. Ambillah apa yang menjadi dirimu dan harapanku tidak kurang dari itu.
608. Sebuah kata ialah perjuangan dan warna menjadikan nyawanya.
609. Bacalah kejiwaan penulisnya jika inginkan lebih dari sekadar kutu buku.
610. Tubuh itu kayu bakar, nyala api jiwanya, abu-arang sebagai hasil sucinya.
611. Di saat berlalu lalang, lagu alam dilupakan dan bulan tergantung membosan.
612. Air mata cinta menyuburkan benih setia, dan memperteguh langkah mengarungi keyakinan.
613. Lentik bebulu mata oleh tangis menajamkannya, dan kerling pemikatan mempertemukan rindu.
614. Aku mempermainkan yang hanya melihat bajuku, dan dia merasa bersalah ketika aku tersenyum.
615. Tuhan tidak sudih melihat bayanganmu, apalagi tubuh badutmu; munafik.
616. Lebih baik berkawan orang giat yang gembel, daripada berteman dengan mereka yang sok sibuk.
617. Sayang, ada yang menghinaku tetapi juga mengambil kata-kataku.
618. Bersikaplah keminter kepada yang pelit menularkan ilmu.
619. Bersikaplah bodoh kepada yang pemurah mengalirkan ilmunya.
620. Ada yang lebih mulia, yakni merasakan dirinya seperti gelas kosong.
621. Ucapan selamat atau belas kasihan merupakan hutang; ini jadi merepotkan.
622. Samudera langit berbusa gemawan, menghempaskan gerimis ke muka bumi.
623. Janganlah larut memandangi gelombang awan, nantinya kau terlena laksana di pantai.
624. Para penyair menghancurkan ataupun membangun generasinya dengan nalar melewati perasaan.
625. Pujangga menuangkan perasaan bathinahnya untuk direnungkan.
626. Kau tidak yakin ketika telanjang dan penuh mantap saat berbusana.
627. Benda terpandang hidup sebab melihatnya berpandangan hidup.
628. Benda terpandang mati bila melihatnya berpandangan kematian.
629. Yang sudah lanjut usia merasa lamban di masa mudanya, maka marilah mengecangkan yang kendor tadi.
630. Ringankan beban kembaramu seperti berplesiran menyongsong fajar baru.
631. Mitos di belakang, sedangkan impian menghadang dan kini sejarahmu.
632. Jawaban yang benar belum tentu kebenarannya, olehlah perlu ketepatan.
633. Jangan jatuhkan cita-citamu sebelum ruh meninggalkan jasad.
634. Aku tidak sanggup berdiri lama namun mampu berjalan jauh.
635. Manusia banyak merahasiakan daripada yang terucapkan; kata petapa.
636. Ketika mencium ketakberuntungan sebaiknya berdiam, nanti kan ada yang menyadarkanmu.
637. Sembuhkan rasa sakitnya, namun ia bahagia dengan duka sepinya.
638. Apakah jatah doaku dikabulkan habis? Lalu aku bertaubat setelah terjawab.
639. Jangan meremehkan waktu longgar, nanti kan terinjak olehnya.
640. Yang menjual kebohongan seperti memakan buah maja.
641. Yang tersenyum memandangi langit, itu sang jujur angannya terlintas.
642. Ranumnya cabe merawat dendamnya, namun ia masih punya hati tak mematikan rasa.
643. Kebodohan itu benturan tak berdarah, tapi benjolan di kepala membuat rasa malu.
644. Terimalah kata-kata dalam jiwa sebelum keringat kering menidurkan raga.
645. Hujan pertama jangan riang-riang, nanti malamnya kau bakal meriang.
646. Sebelumnya belum tersadari kalau kan kena musibah, musibah datang setelah disadarinya.
647. Dalam ruangan ada gema hampir putusasa; muntahkan serta pilihlah.
648. Air suci perisai yang terawat keikhlasan, bila terkelupas oleh sifat riya.’
649. Kemapanan itu setelah melewati kesakitan bertubi.
650. Tiada musim panen berkarya sebenarnya sebab semuanya tergantung jiwa.
651. Kayu yang belum berarang tersiram hujan bagaikan mimpi tertunda.
652. Ketentuan takdir seperti timbangan, dapat terubah oleh keringat atau pun malas.
653. Ketentuan takdir terjelma di setiap atomnya detik oleh ucapan “ya” atau “tidak.”
654. Setiap gejala waktu terikat masa kan datang yang telah tertandakan.
655. Nostalgia menjadikan waktu keriput di pagi-pagi ciumi bau rumput.
656. Makna hayat ibarat mengambili reranting demi selogam uang di pasar.
657. Inteljen seperti pembantu berbisik ke telinga istriku, ketika beranjak tidur istriku membisik ke telingaku, lalu dalam dadaku ada misteri terselip di antara misteri.
658. Para pekerja tiang jembatan layang itu, menimbang resapan air di dalam tanah.
659. Waktu meninggalkan pelena, ketika bersemangat digayuh masa, sedangkan deru jiwa sayapnya.
660. Habislah kata-kata dilampaui, adat dilangkahi, orang utama berserah diri.
661. Dunia tak hanya berupa kabut, sakit itu hidup dan lupa sebagaimana mati.
662. Yang menyapa berembun basah akan diterima dengan kesegaran jiwa.
663. Kau memberi waktu akan dihadiahkan tempat bagimu.
664. Dalam lukisanmu ada ruh di ruang dadaku; kata pengamat.
665. Kasih mempersembahkan sekuntum lekuk tubuh di malam harum.
666. Oh tuhan, berilah hakikat kebimbangan agar terpastikan senyum perawan.
667. Setengah rata bulan di matamu menandai keterikatan matahari.
668. Perencanaan itu mengurai detak jantung disimpannya dalam tabung rencana.
669. Nyamuk mengintai di pebukitan tubuh demi hidup ia menyakiti.
670. Sepenggal cinta di detak jantung, sepenggal lainnya dibiarkan merana.
671. Gerak kecepatan kalbu, jauh melesat dari jangkauan nalar.
672. Ketika membaca berilah tanda garis di bawah, jika kau anggap penting.
673. Catatan pinggir bukan mengotori jika ditujukan demi penajaman arti.
674. Jangan menjadi penerima tetapi jadilah pemberi laksana gelombang.
675. Waktu adalah tetap dan tidak bergerak cepat walau kau berlarian.
676. Seorang kutu buku tanpa kenangaan musik ibarat putik tanpa angin.
677. Malam mematangkan buah-buahan yang bergelantungan di pepohon.
678. Lewatilah jalan kedamaian, nanti kan sampai lebih awal tanpa menunggu.
679. Akrapilah sekitarmu agar disapa yang tersembunyi dari dunia kelembut.
680. Tiada keluh-kesah dalam pendakian malam, dan sang surya lahir di kakinya.
681. Berjagalah di waktu malam agar jiwamu senantiasa terjaga.
682. Ribuan lintang menerangi malam walau tanpa sewajah bulan.
683. Jadilah bagian malam terpenting dan bagian siang yang menghujam.
684. Kerajaan malamlah yang kuasai fajar dan senja kehidupan; kata penyair.
685. Ketika rahimmu kuisi dengan nyanyian rindu, maka lahirlah rembulan.
686. Orang sibuk dapat digoda namun keikhlasan tak mungkin tergoda.
687. Pakailah celak atau bercakaplah untuk mengurangi rasa kantukmu.
688. Ada cahaya hikmah yang terambil, adapula yang jatuh laksana pulung.
689. Sikap bersyukur murah hati sanggup menolak bencana serta mampu melapangkan dada.
690. Bahagialah yang dapat memberikan manfaat kepada kehidupan orang lain.
691. Perasaan penyair lebih lembut dari hati seorang perawan.
692. Tangisan pejaka lebih berharga dari kehormatan perempuan.
693. Cahaya lenyap di pandang mereka ketika kecepatannya lewat.
694. Menyadari banyaknya ruang-waktu serta persembahkan kesendirianmu.
695. Banyak yang mengagumi butiran mutiara, tapi kenapa tak terpukau pencariannya?
696. Musik itu ruh yang melayang-layang dan suatu lagu ialah ruh yang terbentuk.
697. Siapakah yang mengambil kata-kata tanpa gagasan itu?
698. Bertafakurlah serupa burung berkaca di atas telaga.
699. Membaca buku itu cat yang tak habis, kuas yang tak lelah menari.
700. Tiada terelak sedikit demi sedikit berbukit-bukit, itulah pegunungan seribu.
701. Sugesti semacam mitos ialah suatu unsur pembentuk pengetahuan.
702. Sugesti paling istimewa nan mulia ialah cinta.
703. Perasaan merupakan hasil gesekan ingatan serta pengalaman.
704. Ketika nyatanya telah sampai seolah makna tak diperlukan lagi.
705. Cahaya matahari itu material dan cahaya rembulan ialah spiritual.
706. Ingatannya adalah alamat yang dituju kembangkan.
707. Dunia bukanlah kebetulan tetapi saling tarik-menarik dan hindar-menghindari.
708. Perasaan takut, rasa malu, harapan serta cemas, ada dalam cinta, betapa luas samudranya.
709. Bagaimana bisa terbang melebihi kenyataan, sedangkan sayapnya masih ada.
710. Ruh ialah makna hayati yang dihidupi atau sesuatu yang dimaknai serta memaknai.
711. Seekor burung belajar pada dedaunan, mendung serta anak sungai, ia keturunan matahari dan rembulan.
712. Jikalau dikatakan nabi sebab menggubah syair-syinair, tentu wanitalah tuhannya.
713. Banyak penyair yang melantunkan keindahan namun tiada dimengerti dirinya sendiri.
714. Siapa yang tega mengusik ketenangan telaga, tidaklah memberimu segala.
715. Kalau mempersempit waktu beribadah, masa-masamu dipersempit oleh-Nya.
716. Dua mata satu pandangan memberi pengajaran konsentrasi.
717. Ruhlah yang menebarkan abu munculkan bara.
718. Jiwalah yang tenggelam dalam lautan asmara.
719. Tidak ada kutukan namun yang ada ketetapan.
720. Istirahlah setengah tidur, kau akan temukan alam di antara maya serta nyata.
721. Teks merupakan batang besi memudahkan melihat getaran, setelah mendekati magnit fikiran.
722. Pengalaman-pengalaman tanpa direnungkan, hanyalah tong kosong menggolong.
723. Suatu kalimah renungan akan menjelma jutaan kemungkinan dan kenyataan.
724. Ketika waktu terlahir, lahirlah instrumen suara yang melalui sayap-sayap malaikat.
725. Setiap kata ialah doa dan setiap doa pastilah didengar, maka berhati-hatilah menulikan sesuatu; teguran dariku.
726. Karya ialah penampakan maka yang terbaik ambillah, yang salah campakkan.
727. Adalah harapan itu mampu memperlambat penularan penyakit, dan sebagai pertahanan paling ampuh.
728. Harapan ialah jalan membahagiakan, dan dari dirinyalah ide kehidupan.
729. Bukan waktunya tidak nyambung, tetapi penempatan ruangan yang tidak tepat.
730. Untuk mengenali permulaan seharus mencintai terlebih dulu.
731. Berhati-hatilah kalau mencari pendapatan dengan pendapatmu.
732. Perasaan sebagai pengetahuan pertama; kata pecinta.
733. Otak filsuf ibarat terpedo, sekali putar berefek pada rerantai pemikiran.
734. Diri kita sering dipermainkan ide serta keyakinan sendiri; kata sudara.
735. Tiada di dunia ini keseragaman, yang ada ialah keberagaman.
736. Allah kabulkan doamu, tidak berarti Dia pelayanmu dan kau rajanya.
737. Nalurilah yang menciptakan aliran-aliran serta madzab-madzab.
738. Jadilah penguasa tidak menguasai sebab belum tentu tulus diterima.
739. Kehendak berkuasa ialah kekuasaan itu sendiri.
740. Kehendak ialah ruh kekuasaan.
741. Semua orang dikuasai, maka berbahagialah yang dikuasai kebajikan.
742. Keajaiban dan mukjizat ialah ilmu pengetahuan, tetapi dalam ilmu pengetahuan tak ada keajaiban atau yang dinamakan mukjizat.
743. Cepat perubahan suhu di dalam tubuh oleh kesungguhan atau ragu.
744. Suatu sifat filsuf ialah meragukan sesuatu, sebelum memasukkan ke dalam keyakinan nalarnya.
745. Berbolak-baliknya hati manusia dalam rencana, sebagai tanda kuasa-Nya.
746. Kesan itu penerimaan yang melahirkan pesan.
747. Gagasan ialah prodak yang dihasilkan kenangan, yang mengendarai imaji.
748. Imajinasi terlahir dengan seperangkat logika yang didramatisir.
749. Gagasan itu sesuatu yang telah melampaui, sedangkan imaji ialah yang sedang melampaui.
750. Kata “saat” menempati reruangan besar bernama waktu.
751. Dalam kata “akan” tersimpan daya lebih untuk meneruskan.
752. Kata “sudah” itu penyelesaian imajiner, dan kata “telah” merupakan kesepakatan nyata.
753. Kata “jika” merupakan penarikan sedari jauh.
754. Kata “bila” ialah pengandaian yang berdasar.
755. Kata “kalau” sebagai pengandaian merayu.
756. Kata “andai” itu pengharapan dengan beban perasaan malu.
757. Firasat itu semacam terkaan yang berasal dari pencerahan atau kebeningan bathin insan.
758. Firasat melampaui logika, bukannya berkendaraan imaji, tetapi yang dibimbing cahaya keyakinan.
759. Firasat di atas mitos pada tahapan sebagai bapaknya pengetahuan.
760. Sihir itu penajaman tampakan dari halusinasi.
761. Halusinasi hadir sebab lemahnya logika atas kuatnya daya imaji.
762. Kata “mandek” itu pemberhentian yang terpastikan, atau teryakini akan janji ketenangan.
763. Imajinasi masih dalam kesadaran nalar, hanya saja ikatan rasionalitasnya sangat longgar.
764. Akal sehat tanpa perasaan itu kering, sedangkan perasaan tanpa akal sehat itu buta.
765. Segala yang abstrak, absud serta maya, apabila diulang atau dipelajari-mendalam, akan menemukan hekikatnya. Jadi, segalanya tidak mungkin ialah mungkin.
766. Yang menjadikan tidak mungkin sebab kesadaran akan ketidakmungkinan.
767. Ada rancangan sistematis dalam otak manusia, dan perasaanlah yang menghaluskannya.
768. Penipuan di dalam penelitian sering muncul, sebab ketidakjujuran serta oleh kebodohan pengamatan.
769. Maka kebodohan sama jenisnya dengan ketidakjujuran, hanya saja kerjanya yang berbeda.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Share.

About Author

Leave A Reply

Translate »