Short Story – PUstaka puJAngga http://pustakapujangga.com Wed, 25 Aug 2021 11:54:27 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.9.4 http://pustakapujangga.com/wp-content/uploads/2021/02/cropped-Logo-PUstaka-puJAngga-32x32.jpg Short Story – PUstaka puJAngga http://pustakapujangga.com 32 32 Bagaimana Cinta Menghabisi http://pustakapujangga.com/2021/08/25/bagaimana-cinta-menghabisi/ http://pustakapujangga.com/2021/08/25/bagaimana-cinta-menghabisi/#respond Wed, 25 Aug 2021 11:54:27 +0000 http://pustakapujangga.com/?p=2091 Muhammad Yasir

Di atas meja triplek berwarna hitam, berlembar-lembar kertas berserakan. Di luar jendela, gang sempit membentang lengkap dengan bendera kebangsaan yang lusuh, melambai-lambai diterpa angin, seakan-akan atau seperti yang telah dikatakan bahwa bangsa ini telah merdeka dari kolonialisme putih. Di sisi kanan meja, ada kursi kayu tua dipernis sedemikian rupa, sehingga dapatlah engkau melihat dirimu di sana. Di sisi kiri meja, gorden berumbai pembatas ruangan yang tidak begitu luas itu dengan dua kamar, terayun-ayun. Tujuh kaki dari meja itu, pintu kaca berdecit. Itu terdengar seperti requiem. Kadang-kadang, terlihat seperti rengkuh seorang tentara yang hidup tanpa sepasang tangan. Tak lama kemudian, seorang lelaki pendek, berantakan, dan jelek muncul dari balik pintu. Wajahnya masam. Langkah kakinya hampir tidak terdengar. Dia duduk di kursi kayu itu dan meraba-raba setiap lembaran kertas itu. Kemudian, tangannya yang pendek mengambil selembar kertas dan membacanya dengan seksama.

Aku penulis cerita yang buruk, gumamnya. Bagaimana para penerbit cerita-cerita semacam ini?! Lelaki pendek itu kemudian mengambil lembaran kertas kedua dan membacanya secara seksama. Cinta, gumamnya lagi. Para redaktur yang agung, jelas akan mengejek cerita semacam ini! Oh! Kemudian lelaki itu mengambil lembaran kertas ketiga dan membacanya secara seksama. Kali ini, dia membisu. Sepasang matanya terpaku pada plot cerita di dalamnya. Bagaimana pun, dia tak mungkin bisa memungkiri bahwa pada lembaran kertas ketiga itu, tampak rumah-rumah baja tumbuh menjamur di atas tanah gersang – tanah kelahirannya yang telah habis. Kata demi kata yang telah ditulisnya, membuatnya terperanjat, mendongakkan kepala, kemudian memejamkan mata. Dan, cerita ini baru saja dimulai.

Orang kebanyakan bisa memperindah kesedihan korban-korban penindasan. Orang kebanyakan bisa mengatakan bahwa kaum miskin kota adalah simbol kegagalan negara. Namun, tidak seorang pun di antara mereka memiliki kesudian menjadi dan hidup di antara korban-korban dan kaum miskin kota itu. Lelaki pendek itu bangkit dari dipan tuanya. Matanya sembab dan merah. Semalam, pada musim hujan pertama, dia menghabiskan bacaannya; sebuah buku kumpulan cerita pendek tentang kesaksian dan cinta. Hal itu dia lakukan selama tiga tahun belakangan ini. Untuk membunuh kemalasan menulis, katanya. Setelah sarapan, lelaki pendek itu menapaki anak tangga yang berujung persis di ruangan berpintu serba kaca. Di sanalah, hampir sepanjang hari dia menghabiskan waktu untuk menulis.

“Menulis, membuatku hidup. Kata-kata telah membentuk diriku. Bagaimana aku akan mengkhianati itu dengan berpura-pura bekerja sebagai juru parkir atau tukang pos?! Katakan kepadaku, wahai penulis yang malang!” kata lelaki pendek itu kepada dirinya sendiri ketika dia berdiri persis di depan pintu, kemudian melanjutkan, “hari ini aku harus melahirkan satu cerita yang menarik yang bisa membuatku bertahan.”

Bagi lelaki pendek itu, menjadi penulis adalah kutukan. Engkau, katanya, takkan mungkin dapat membaca kehidupan dan kekacauan yang telah lalu. Karena kutukan, dia merasa ada semacam kengerian tersendiri. Bagaimana pun, pikirnya, sudah terlampau banyak penulis yang hidup sebagai parasit dan menulis cerita-cerita sekadarnya. Pula sudah terlampau banyak penulis, kiri-kanan-atas-bawah-haluan kiri-haluan kanan, melakukan kejahatan; mereka mengambil semangat perjuangan korban-korban penindasan dan kaum miskin kota menjadi cerita yang menarik, indah, dan menyengit. Maxim Gorki dan Pramoedya Ananta Toer sekalipun! Bukankah mereka menulis bukan atas dasar kemerdekaan individu, melainkan titah partai! Dan, bukankah segala bentuk titah adalah kekuasaan yang bisu yang sukar kita lawan, sekali pun kita adalah bagian dari perjuangan dan pesakitan?! Lelaki pendek itu, tiba-tiba, merobek selembar kertas berisi bakal cerita miliknya.

Setelah itu, lelaki pendek itu membanting penanya dan kursi kayu tuanya. Kemarahan yang meledak-ledak di dadanya. Dia mencintai dunia penulis, tetapi tak satu pun cerita selesai tertulis. Ada semacam kutukan yang lain, kutukan bahwa sesungguhnya dia belum pantas menjadi seorang penulis. Cintanya kepada dunia penulis, membuatnya hina. Kemudian, lelaki itu duduk di kursi di tepi gang sempit yang membentang lengkap dengan bendera kebangsaan yang lusuh, melambai-lambai kepadanya. Matanya yang sembab dan merah menatap bendera itu cukup lama. Imajinasi kepenulisannya muncul. Bendera kebangsaan itu tampak seperti sebuah rumah baja yang telah merampas tanah-airnya. Ada ribuan orang hidup di sana, di tanah gersang itu. Tidak lain. Semakin lelaki pendek itu menatap bendera kebangsaan itu, semakin hanyut pula dia dalam imajinasinya, sehingga pada satu titik dia bertemu dengan seorang buruh, perempuan yang mirip seperti ibunya, mengangkat sekarang pupuk yang sama beratnya dengan tubuhnya.

Ketika lelaki pendek itu hendak membantu, perempuan itu menolak. Tak baik, katanya. Orang kota seperti lelaki pendek itu tak semestinya berada di lingkungan rumah baja. Para petugas atau para mandor akan mencurigainya. Bahkan, tak segan-segan menghabisinya. Tetapi, lelaki pendek itu bersikeras dan mengatakan bahwa perempuan itu mirip dengan ibunya. Sekali lagi, perempuan itu menolak. Dan, lelaki pendek itu kalah. Dia menghentikan dirinya untuk memaksa perempuan itu. Akhirnya, dia menunggu perempuan itu menyelesaikan pekerjaannya. Sembari menunggu, pintu serba kaca itu berdecit. Kini, itu tak terdengar seperti requiem, melainkan suara istrinya.

“Apa yang engkau lamunkan?” kata istrinya.

Lelaki pendek itu terkejut, kemudian bangkit dan berjalan perlahan menuju istrinya.

“Tidak ada yang bisa kita makan hari ini. Cobalah pergi ke toko buku dan jual beberapa buku koleksimu. Atau, bukankah engkau memiliki seorang teman yang memiliki penerbitan. Katakan, bahwa engkau memiliki cerita-cerita yang menarik tentang perjuangan, penindasan, perlawanan, dan kegagalan sebagai hasilnya. Bukankah para pembacamu menyukai cerita-cerita demikian?! Aku malu, sungguh, jika aku harus datang ke rumah keluarga besar. Mereka tidak sepertimu, jadi jangan memaksa diri untuk tampak bahwa engkau memiliki kemampuan.”

Lelaki pendek itu tak menggubris. Kemudian dia duduk di kursi kayu tuanya dan mengambil selembar kertas baru untuk cerita baru yang muncul dalam kepalanya. Sementara itu, istrinya kembali ke kamar dan berharap bahwa lelaki pendek itu dapat menyelamatkan mereka.

Pukul sebelas malam, gerimis tiba sejam sebelum terompet kereta terdengar. Lelaki itu berjuang sekuatnya untuk menulis cerita tentang cintanya kepada tanah air dan keluarganya; lebih-lebih dia berharap temannya yang memiliki penerbitan itu bersedia membacanya dan membayar di awal. Akan tetapi, hingga langit subuh sebentar lagi robek, matahari segera muncul, dan hidupnya akan begitu saja lagi, tidak satu pun cerita berhasil dia tuliskan. Semua percobaan berakhir di kata pertama, kata pembuka. Entah mengapa. Karena sudah tak kuasa lagi, lelaki pendek itu pergi ke dapur, mencopot tabung gas kemudian melempar sebilah korek api ke sana, maka api menyala-nyala membakar semuanya. Benar, semuanya. Tak tersisa. Bau daging panggang dan rambut terbakar memenuhi setiap sudut gang! Dan, bendera kebangsaan itu berhenti melambai-lambai. Entah mengapa.

Surabaya, 2021

]]>
http://pustakapujangga.com/2021/08/25/bagaimana-cinta-menghabisi/feed/ 0
Skandal : cerpen Bidadari Bunga Sepatu karya Afrilia dan Pengakuan Terbuka! A.S. Laksana http://pustakapujangga.com/2021/06/07/skandal-cerpen-bidadari-bunga-sepatu-karya-afrilia-dan-pengakuan-terbuka-a-s-laksana/ http://pustakapujangga.com/2021/06/07/skandal-cerpen-bidadari-bunga-sepatu-karya-afrilia-dan-pengakuan-terbuka-a-s-laksana/#respond Mon, 07 Jun 2021 02:56:05 +0000 http://pustakapujangga.com/?p=2003 Bidadari Bunga Sepatu


A.S. Laksana *
JawaPos.com, 6 Juni 2021

Satu kali ia datang ke dalam mimpiku, dengan paras cantik, seperti orang mati yang berubah menjadi bidadari, dan aku menyapanya, ”Hai.”

IA mengabaikan sapaanku dan pergi meninggalkanku, menyelinap di antara rumpun bunga sepatu di pekarangan. Ia dan bunga sepatu hilang pada saat aku membuka mata dan aku merindukan keduanya, ia dan bunga sepatu. Bertahun-tahun aku berharap mimpi itu muncul lagi, tetapi tak ada mimpi kedua tentangnya.

”Mungkin sekarang kita bisa meneleponnya, Nyonya Maria,” kataku.

Nyonya Maria melintas di depanku dari jalur berbatu-batu putih yang membelah warna hijau rumput-rumput pelataran, dan di pelataran itu batang-batang cemara tegak berjajar, dan Nyonya Maria berhenti sebentar.

”Ia yang akan menelepon. Ia bilang ia yang akan menelepon,” katanya.

Ia adalah Akina, wanita Jepang bersepatu merah tumit tinggi, sepatu yang berbunyi seperti tapak kuda setiap ia melangkah. Aku tak pernah melihat perempuan secantik itu datang ke rumahku.

”Kamu seperti bidadari!” kataku.

Aku sedang memetiki bunga sepatu di pelataran rumah, menyesap pangkal-pangkalnya, mendapatkan rasa manis pada tetes cairan di pangkal-pangkal bunga itu. Ia datang bersama ayah. Kuserahkan kepadanya bunga yang belum kusesap, bunga sepatu, semerah sepatunya yang berderap seperti kuda.

Ia tersenyum, ”Gushonu hana!” katanya.1

”Kau benar, Sani. Akina adalah bidadari!” kata ayah.

Saat itulah aku tahu namanya, dan aku senang mendengar persetujuan ayah, dua belas tahun silam, saat surga, bidadari, dan kematian hanyalah gambar di benak kanak-kanakku. Kupikir ayah mungkin telah melakukan hal yang Jaka Tarub pernah lakukan: ia mencuri selendang dan menghadiahi aku seorang ibu yang tak pernah kumiliki.

Akina adalah bidadari dengan sepatu yang berbunyi seperti derap kuda. Ia berbeda, sepatunya berbeda. Semua sepatu biasanya pendiam kecuali sepatu Akina. 2 Di kepalaku terdengar lagu ”Pada Hari Minggu” dan aku membayangkan suara sepatu kuda berderap dari kejauhan dan kuda meringkik ketika kereta menepi. Ayah sering tersenyum di sebelah Akina, seperti kuda meringkik dan menepi.

Akhirnya kami berkendara bersama, bukan pada hari Minggu dan bukan ke kota seperti dalam lagu, melainkan ke tempat jauh, terlalu jauh, tempat terjauh sepanjang hidupku. Aku tertidur karena setiap kali aku bersemangat mengajak Akina bicara ayah selalu menyela dengan meletakkan jari telunjuk pada bibirnya. Pengetahuan pertamaku tentang bidadari adalah fakta bahwa mereka tak bicara. Aku lelah memandang jalan yang kabur oleh hujan badai yang tak berakhir, dengan wiper mobil yang terus bergerak ke kiri dan ke kanan, seolah sedang menyihir mataku. Aku tertidur.

Saat aku bangun Tuhan sudah selesai menyapu bersih warna hitam pada langit dan aku bertanya pada ayah di mana kita dan ia menjawab, ”Di surga!”

Ayah pernah berkata, ketika aku bertanya tentang ibu, bahwa ibuku telah menjadi bidadari di surga. Ayah menceritakan surga seolah-olah surga adalah taman bermain bagi orang-orang yang sudah mati, dan ibu adalah bidadari yang menemukan surganya dan ia senang bermain di sana tanpa harus menceboki aku atau memberiku susu saat malam.

”Kita akan bertemu ibu?” tanyaku.

”Surga tak cuma satu,” katanya.

Kupikir hanya ada satu. Tapi aku paham bahwa taman bermain memang ada bermacam-macam. Dan sebuah tempat bernama surga pasti letaknya jauh, dari dulu aku meyakini itu, dan kami sudah pergi sangat jauh, dan itu bisa kujadikan alasan untuk memercayai kata-kata ayah bahwa kami tiba di surga. Aku memang selalu memercayai kata-kata ayah karena aku hanya hidup berdua dengannya dan ayahku tak pernah seperti ayah orang lain. Ia tak pernah merasa perlu berbohong, seperti ia tak merasa perlu menghiburku karena ia sendiri memerlukan hiburan untuk dirinya.

Kendaraan memasuki pekarangan dengan sebuah bangunan yang terlihat seperti kastil tua. Ayah dan Akina menggandengku masuk ke dalam bangunan yang dikelilingi oleh tembok pagar yang tinggi dan pohon-pohon besar yang menjulang. Kami melangkah di atas batuan putih yang berderik kala terinjak dan itu menambah kesan suram-muram pada tempat ini.

Seorang wanita paro baya dengan wajah kaku menyambut kami dengan menyebut namaku. Ia memaksakan suaranya terdengar ramah dan itu membuat ia terlihat tersengal oleh napasnya sendiri.

”Mari kutunjukkan tempat bermain!” katanya.

”Ikutlah dengannya, Sani!” kata ayah dengan jari telunjuk yang ia tekan pada belakang bahuku, mendorong aku maju.

Usiaku enam tahun lewat tujuh bulan saat itu, saat bidadari meninggalkan aku di tempat itu dan pergi membawa ayahku tanpa pernah kembali lagi.

”Nyonya Maria, bisakah kau menelepon ayahku?” tanyaku.

”Nanti, kau bisa menelepon ayahmu sendiri setelah cukup banyak belajar!” katanya sehari setelah ayah meninggalkan aku.

Sehari, seminggu, sebulan, aku tak pernah lagi mendengar derap kuda kaki-kaki Akina yang berwarna merah. Aku hanya menemui wajah kaku wanita tua, Nyonya Maria. Sepertinya Nyonya Maria bukan bidadari; ia tidak cukup cantik untuk menjadi bidadari.

Hari-hari kemudian adalah hari ia terus mengulangi kata-katanya di setiap jarum jam berputar kembali ke angka dua belas. Setiap kali aku bertanya, aku akan mendapatkan jawaban yang sama dan aku akan terus-menerus mencoba memercayainya. Kata-kata Nyonya Maria memang lebih baik dipercayai tanpa perlawanan, sebab tidak memercayai kata-katanya akan sama dengan menambahkan sesak napas setelah lelah menangis.

Setelah lima tahun kepergian ayah, aku kembali bertanya kepada Nyonya Maria.

”Nyonya Maria, bisakah kau menelepon ayahku sekarang?”

Kali ini Nyonya Maria tak menjawab. Ia tak lagi mengatakan kata-kata penuh harapan. Ia hanya diam. Aku berpikir tak mungkin akan mendapatkan jawaban lain dengan pertanyaan yang sama, maka aku perlu membuat pertanyaan lain.

”Nyonya Maria, bisakah kita menelepon bidadari?”

Nyonya Maria tetap diam. Ia masih melihatku dengan wajah kakunya.

”Sudah lima tahun, tetapi kau tak juga belajar sesuatu?” katanya.

Aku pikir aku telah cukup belajar tentang kematian setelah lima tahun dan, seperti bunga sepatu yang membawa kehidupan baik setelah kematian, aku rasa sekarang adalah waktunya. Namun, aku tak mengatakan apa-apa yang ada dalam pikiranku. Aku hanya memandang wajah Nyonya Maria dengan tatapan permohonan dan raut menyedihkan. Perempuan tua itu mungkin mudah tersentuh oleh wajah menyedihkan seorang anak, tetapi ia tetap tak peduli berapa ratus kali pun aku memohon.

”Ayahmu telah memilih surganya pada hari kau menginjak tempat ini, Nak!” kata Nyonya Maria.

Aku terdiam. Aku berharap Akina adalah bidadari yang sesungguhnya sejak semula aku melihatnya di balik perdu bunga sepatu pekarangan rumahku. Ia adalah bidadari dengan langkah seperti derap kuda, dan ia akan datang lagi menjemputku bersama ayah. Ia adalah bidadari yang akan membawa aku dan ayah bertemu ibu, agar ibu tak hanya bersenang-senang sendiri di surga. Aku memikirkan hal itu bertahun-tahun.

Namun, kata-kata Nyonya Maria hari itu meresahkanku. Ia mengatakan surganya. Akhiran ”nya” berarti sebuah kepemilikan, sama dengan rumahnya, ibunya, ayahnya. Ayah pergi ke surganya seperti ibu pergi ke surga miliknya sendiri.

Aku terkenang pada kehidupanku dahulu saat bersama ayah. Saat aku mengompol tengah malam dan ayah marah karena harus mengalasi kasur dengan alas plastik agar bisa melanjutkan tidur. Ia mengelap kasur sambil memaki ibu dan aku bertanya kepadanya, ”Kenapa ibu lebih suka di taman bermain surga daripada bermain bersama kita, Ayah?”

Aku takut oleh pikiran bahwa ayah juga akan memilih bersenang-senang di taman surga seperti ibu dan tak ingin mengajakku.

”Aku juga akan ke taman surga, Ayah!”

”Ya, nanti pergilah setelah kau berumur delapan belas tahun!”

Suaranya terdengar marah; ia juga memandangku dengan mata marah dan pergi malam itu walau aku menangis. Ia mengatakan akan pergi ke taman bermain mencari bidadari yang tidak pergi meninggalkan anak dan tidak pula menyewa pengacara yang memaksa dirinya membesarkan anak hingga berumur delapan belas. Ayahku tak pernah berbohong.

Di usia delapan belas, aku mendengar lagi derap kaki kuda. Nyonya Maria menemuiku dan menemukanku lagi dengan Akina. Ia mengatakan bahwa Akina adalah pengacara ibuku.

”Gushonu hana!” kata Akina. Ia memberiku banyak sekali kertas yang harus aku tanda tangani.

”Bisakah aku ke taman bermain?” tanyaku.

”Apa pun yang kamu mau!” Nyonya Maria menyahut dan ia tertawa dengan wajah kaku.

Diiringi suara sepatu merah Akina, kami keluar dari kastil dan berpacu jauh ke sebuah taman bermain di kota yang lain. Di sana aku hidup bersama ibu yang terasa seperti orang asing bagiku, dan aku masih merindukan ayah ada bersama kami meski suaranya kadang keras.
***

Catatan:
1) Gushonu hana merupakan penyebutan kembang sepatu di bagian selatan Okinawa yang berarti bunga kehidupan sesudah mati.
2) Inspirasi berasal dari cerpen Sepasang Sepatu Tua Sapardi Djoko Damono.

*) A.S. LAKSANA, Penulis buku Bidadari yang Mengembara (2004), Murjangkung: Cinta yang Dungu dan Hantu-Hantu (2013). Alumni Ilmu Komunikasi UGM.


Pengakuan Terbuka!

Teman-teman, hari ini cerpen saya dimuat di Jawa Pos, tetapi saya harus berterus terang bahwa itu bukan cerpen saya.

Ia betul-betul seperti bunyi kalimat dalam paragraf penutup “Otobiografi Gloria”: “Kau mungkin mengira bahwa cerita ini ditulis oleh A.S. Laksana. Sesungguhnya bukan, ia sudah lama tidak menulis dan kurasa ia sedang tidak memiliki gagasan apa pun untuk ditulis.”

Beberapa waktu lalu saya menyampaikan kepada para peserta kelas penulisan bahwa dimuat di koran adalah urusan mudah. “Jika cerpen kalian saya kirim ke koran dengan nama saya sebagai penulisnya, cerpen itu pasti dimuat,” kata saya.

Yang lebih penting dari sekadar pemuatan sebuah cerpen adalah kesediaan melatih diri untuk mendapatkan kecakapan menulis dan selalu mempertahankan keinginan belajar, sehingga ketika kita mampu menulis bagus satu kali, kita mampu mengulanginya dan tetap mampu menulis bagus di waktu-waktu selanjutnya.

Saya bisa memahami gairah mereka untuk mengirimkan tulisan ke media-media. Mereka sudah menyiksa diri beberapa bulan berlatih menulis; mereka ingin menguji apakah tulisan mereka sudah cukup bagus; menerbitkan tulisan di media-media massa hanyalah salah satu cara untuk melihat bahwa ketekunan mereka melatih diri tak pernah sia-sia.

Melatih diri adalah menyiksa diri. Itu fase paling tidak menyenangkan tetapi harus dilalui dalam pemerolehan kemahiran–dalam bidang apa pun. Pada fase itu orang tak bisa melakukan sesuatu semau-maunya. Kalimat harus diperhitungkan ketukannya, detail harus dipikirkan relevansinya, metafora harus dipertimbangkan penalarannya, dan sebagainya. Ada sekian teknik yang perlu dipelajari, sebagian menjadi pengetahuan, sebagian lainnya pelan-pelan menjadi bagian diri, menjadi kecakapan baru hasil dari melatih diri.
Enam atau tujuh atau tiga belas bulan menyiksa diri dengan urusan teknis adalah waktu yang singkat dibandingkan dua puluh tahun mengerjakan sesuatu dengan kecakapan yang mandek di tempat. Seseorang yang bermain badminton tiap hari di kampung dengan gairah sepenuh-penuhnya selama lima tahun pada suatu malam dikalahkan dengan mudah oleh anak yang baru tujuh bulan berlatih di klub. Itu pengalaman pribadi pada pertandingan tujuh belasan.

Untuk cerpen yang dimuat Jawa Pos hari ini, ia adalah cara kami bersenang-senang di tengah kesuntukan berlatih menulis. Penulis sebenarnya adalah Afrilia.

Saya hanya menyumbang paragraf pertama: Cerpen itu memang lahir setelah saya memposting satu paragraf pembuka di grup WA dengan pesan: “Ada yang berminat melanjutkan paragraf pembuka ini menjadi cerita?”

Ini paragraf pembuka yang saya sampaikan:

“Satu kali ia datang ke dalam mimpiku, dengan paras cantik, seperti orang mati yang berubah menjadi bidadari, dan aku menyapanya, “Hai.” Ia mengabaikan sapaanku dan pergi meninggalkanku, menyelinap di antara rumpun bunga sepatu di pekarangan. Ia dan bunga sepatu hilang pada saat aku membuka mata dan aku merindukan keduanya, ia dan bunga sepatu. Sampai sekarang ia tak pernah lagi mengunjungi mimpiku.”

Afrilia menulis cepat. Ia merampungkan cerita pada hari berikutnya. Saya mengirimkannya ke Jawa Pos dengan nama saya sebagai penulisnya.

Apakah Jawa Pos kecolongan? Tidak. Ia memuat cerpen bagus. Saya mengedit cerpen itu dan menjadikannya lebih bagus, sebab memang itu urusan editor. Dan dalam hal ini, saya editor. Dalam urusan penulisan dan penerbitan naskah, saya sering mengatakan kepada teman-teman: Kita beruntung jika naskah kita ditangani oleh editor yang cakap dalam urusannya, atau yang jauh lebih baik pengetahuannya ketimbang kita. Naskah kita berpeluang menjadi lebih bagus di tangan editor seperti itu.

Para penulis bagus punya editor hebat. Biografi Max Perkins bisa menjadi bacaan menarik untuk memahami kerja seorang editor.

Saya tahu ada inspirasi dari cerpen Garcia Marquez “I Only Came to Use the Phone” dalam cerita Afrilia itu. Saya tahu ada inspirasi dari novel Ken Kesey “One Flew Over the Cuckoo’s Nest” dalam cerita Marquez itu. Cerita-cerita bagus memang cenderung menginspirasi lahirnya cerita-cerita bagus berikutnya.

Terakhir, pengakuan ini saya sampaikan demi mengembalikan cerpen “Bidadari Bunga Sepatu” kepada penulis aslinya, Afrilia. Juga sebagai ucapan terima kasih kepada Jawa Pos yang telah memuatnya.

Salam,
A.S. Laksana

NB. Saya tentu hanya akan satu kali melakukan hal seperti ini. Satu kali pun sudah lebih dari cukup. Namun, saya terpikir juga untuk membantu meringankan pekerjaan redaktur: Jika saya kelak mengirimkan cerita karangan siapa pun kepada mereka, mereka boleh meyakini bahwa saya sudah menjalankan fungsi editor untuk tulisan itu sebaik-baiknya.
http://sastra-indonesia.com/2021/06/skandal-cerpen-bidadari-bunga-sepatu-karya-afrilia-dan-pengakuan-terbuka-a-s-laksana/

]]>
http://pustakapujangga.com/2021/06/07/skandal-cerpen-bidadari-bunga-sepatu-karya-afrilia-dan-pengakuan-terbuka-a-s-laksana/feed/ 0
SEBUAH KESALAHAN YANG BISA DIMAKLUMI * http://pustakapujangga.com/2021/03/01/sebuah-kesalahan-yang-bisa-dimaklumi/ http://pustakapujangga.com/2021/03/01/sebuah-kesalahan-yang-bisa-dimaklumi/#respond Sun, 28 Feb 2021 17:45:04 +0000 http://pustakapujangga.com/?p=1911 Gabriel García Márquez
Penerjemah: Rambuana **

Saat itu hari Selasa di Cali. Pria itu, yang baginya akhir pekan adalah sebuah periode yang keruh tak berujung–tiga hari tanpa bekas–telah mengangkat gelas demi gelas dengan pantas dan cekatan dan keras kepala hingga tengah malam pada hari Minggu. Pada Selasa pagi, saat dia membuka mata dan merasa kamarnya dipenuhi oleh rasa pening sebesar raksasa, pria itu meyakini dia hanya telah berpesta di malam sebelumnya dan telah terbangun pada Minggu pagi. Dia tidak mengingat apa pun. Namun, dia merasakan penyesalan yang serius terhadap beberapa dosa besar yang mungkin telah dia lakukan, tanpa mengetahui dengan pasti pada tujuh dosa besar yang mana penyesalannya mengacu. Itu hanya sebuah penyesalan. Penyesalan yang tersendiri, tanpa syarat, mandiri dengan garis keras dan anarkis tak tergoyahkan.

Satu-satunya hal yang pria itu ketahui dengan pasti adalah dia ada di Cali. Setidaknya–dia pasti telah berpikir–selama gedung yang berdiri di luar jendelanya adalah hotel Alférez Real dan selama tak ada seorang pun yang membuktikan kepadanya secara matematis bahwa bangunan itu belum dipindahkan pada Sabtu malam, maka selebihnya dia yakin dia berada di Cali. Sepanjang dia membuka matanya, rasa pening yang memenuhi kamarnya duduk di samping ranjang. Seseorang memanggil pria itu dengan namanya tetapi dia tak menoleh. Dia hanya menganggap seseorang, di kamar sebelah, sedang memanggil satu orang yang benar-benar tidak dikenalnya. Sisi yang tersisa dari gap yang dimulai pada Sabtu sore. Sisi yang lainnya adalah dini hari yang tak menyenangkan ini. Hanya itu. Dia berupaya menanyakan kepada dirinya sendiri siapakah dia sebenarnya. Hanya saat dia mengingat siapa namanya, barulah dia menyadari bahwa dialah yang dipanggil dari kamar sebelah. Bagaimanapun, dia sudah terlalu sibuk dengan penyesalan untuk khawatir tentang panggilan tak penting itu.

Tiba-tiba sesuatu yang tipis dan pipih dan mengkilat masuk melalui jendela dan jatuh di lantai, tak jauh dari ranjangnya. Si pria pasti telah mengira itu adalah daun yang tertiup angin, dan matanya tetap terpaku pada langit-langit yang mulai bergerak, mengambang, terbungkus dalam kabut rasa peningnya. Tapi sesuatu mengetuk-ketuk papan-papan lantai di samping ranjangnya. Si pria duduk, menoleh ke sisi lain dari bantalnya, dan melihat seekor ikan kecil di tengah-tengah kamarnya. Dia tersenyum sinis; dia berhenti memandanginya dan memalingkan wajah ke dinding. “Sungguh aneh!” pikirnya. “Seekor ikan di kamarku, di lantai tiga, di sini, di Cali yang begitu jauh dari laut.” Dan dia terus tertawa dengan sinis.

Tetapi tiba-tiba, ia meloncat turun dari ranjang. “Seekor ikan,” bentaknya. “Seekor ikan, seekor ikan di kamarku.” Dan ia melesat terengah-engah, meradang, menuju sudut kamar. Penyesalan keluar menemuinya. Ia selalu menertawai kalajengking-kalajengking berpayung, gajah-gajah berwarna pink. Tetapi sekarang dia tak bisa memiliki keraguan sedikit pun. Apa yang melompat, apa yang menggelepar, apa yang mengkilat, di tengah-tengah kamarnya, adalah seekor ikan!. Si pria menutup matanya, mengatupkan giginya, menimbang jarak. Kemudian datanglah vertigo, ruang tak berujung dari jalanan. Dia telah melompat dari jendela.

Keesokan harinya, saat si pria membuka matanya, ia berada di kamar rumah sakit. Dia mengingat segalanya, tapi sekarang dia merasa sehat. Dia bahkan tak merasa sakit di bawah balutan perban. Dalam jangkauannya adalah surat kabar hari ini. Si pria ingin ada sesuatu untuk dilakukan. Terhibur, ia mengambil surat kabar itu dan mulai membaca:

“Cali.18 April. Hari ini, pada jam-jam awal di pagi hari, seorang tak dikenal telah meloncat keluar dari jendela apartemennya yang terletak di lantai tiga dari sebuah gedung di kota ini. Keputusannya itu tampaknya telah terkait dengan rasa gugup akibat kegirangan yang dihasilkan oleh alkohol. Pria yang terluka itu sekarang berada di rumah sakit, dengan kondisi yang terlihat tidak terlalu serius.”

Si pria mengenali dirinya dalam artikel berita itu, tetapi sekarang dia merasa terlalu tenang, terlalu tenteram, terlalu khawatir pada mimpi buruk di hari sebelumnya. Dia membalikkan halaman dan membaca berita-berita lokal. Ada artikel lainnya. Si pria, merasakan lagi pening, berkeliaran mencari mangsa di sekitar ranjangnya, membaca informasi berikut ini:

“Cali. 18 April. Warga ibukota Valle del Cauca telah luar biasa dikejutkan pada hari ini, saat mereka mengamati pada jalan-jalan di pusat kota, penampakan dari ratusan ikan kecil keperakan, dengan panjang sekitar dua inci, yang tampak tersebar di seluruh tempat.”

20 April 1950, El Heraldo, Barranquila.

*) Dari buku Scandal of the Century, judul asli: An Understandable Mistake, diterjemahkan dari terjemahan bahasa Inggris oleh Gregory Rabassa.

**) Rambuana, pedagang kaki lima yang gemar membaca, senang menulis, dan suka menerjemahkan karya-karya sastra, tinggal di Tangerang, Banten.
http://sastra-indonesia.com/2021/02/sebuah-kesalahan-yang-bisa-dimaklumi/

Terkait: http://sastra-indonesia.com/2021/02/abad-yang-lalu-tak-ada-skandal-pada-abad-ini/

]]>
http://pustakapujangga.com/2021/03/01/sebuah-kesalahan-yang-bisa-dimaklumi/feed/ 0
BERJALAN JAUH KE SELAMANYA http://pustakapujangga.com/2021/02/11/berjalan-jauh-ke-selamanya/ http://pustakapujangga.com/2021/02/11/berjalan-jauh-ke-selamanya/#respond Wed, 10 Feb 2021 23:32:23 +0000 http://pustakapujangga.com/?p=1871

Kurt Vonnegut
Penerjemah: Rambuana *

Mereka telah tumbuh sebagai tetangga depan rumah satu sama lain, di daerah pinggiran kota, dekat dengan tanah-tanah lapang dan hutan dan kebun-kebun buah, dengan pemandangan indah dari menara lonceng milik sekolah bagi anak-anak tunanetra.

Sekarang mereka berumur duapuluh tahun, dan tak bertemu satu sama lain selama hampir setahun. Mereka selalu bercanda, selalu hangat dan nyaman di antara mereka, tetapi tak pernah ada pembicaraan tentang cinta.

Si anak lelaki bernama Newt. Si anak perempuan bernama Catharine. Pada satu awal sore, Newt mengetuk pintu depan Catharine.

Catharine menghampiri pintu. Ia membawa majalah tebal dan mengkilat yang sedang dibacanya. Majalah itu sepenuhnya dikhususkan bagi pengantin wanita. “Newt!” katanya. Ia terkejut melihat dia.

“Kamu mau ikut aku jalan-jalan?” kata Newt. Dia seorang pemalu, bahkan dengan Catharine. Dia menutupinya dengan berbicara ringkas, seolah-olah apa yang jadi perhatian sebenarnya sangatlah jauh–seakan-akan dia seorang agen rahasia yang berhenti sejenak dalam misi di antara tujuan-tujuan yang indah, jauh dan mengancam. Cara berbicara seperti itu telah menjadi gaya bicara Newt, bahkan dalam masalah-masalah yang sangat menggelisahkannya.

“Jalan-jalan?” tanya Catharine.

“Selangkah demi selangkah,” kata Newt, “melalui jalan setapak, melewati jembatan—-”

“Aku tak tahu kamu ada di kota.”

“Baru saja sampai.”

“Masih di kesatuan, kan.”

“Tujuh bulan lagi,” kata Newt. Dia adalah prajurit satu di batalion artileri. Seragamnya lusuh. Sepatunya kumal. Dia perlu bercukur. Dia mengulurkan tangannya meraih majalah. “Coba kulihat buku cantik ini,” katanya.

Catharine memberikan padanya, “Aku akan menikah, Newt,” katanya.

“Aku tahu,” kata Newt. “Ayo kita jalan-jalan.”

“Aku benar-benar sedang sibuk, Newt,” kata Catharine. “Pernikahannya cuma tinggal seminggu lagi.”

“Kalau kita pergi jalan-jalan, itu akan membuatmu berbunga-bunga. Itu akan membuatmu menjadi pengantin wanita yang berbunga-bunga.” Dia membalikkan halaman-halaman majalah. “Seperti dia–seperti dia–seperti dia,” katanya, menunjukkan pada Catharine para pengantin wanita yang berbunga-bunga.

“Itu akan menjadi hadiahku untuk Henry Stewart Chasens,” katanya, “dengan mengajakmu jalan-jalan, aku akan memberinya pengantin wanita yang berbunga-bunga.”

“Kamu tahu namanya?”

“Ibu menyuratiku,” katanya. “Orang Pittsburgh?”

“Iya,” kata Catharine. “Kamu bakal menyukainya.”

“Mungkin.”

“Bisa—bisa kamu datang ke pesta pernikahan?”

“Kalau itu aku ragu.”

“Cutimu tak cukup panjang?”

“Cuti?” Dia melihat-lihat dua halaman iklan sendok-garpu dari perak. “Aku tidak sedang cuti.” katanya.

“Aku apa yang mereka bilang A.W.O.L (Absent Without Leave. penj).”

“Oh, Newt! Kamu tidak–”

“Tentu saja iya.” katanya, masih melihat-lihat majalah.

“Kenapa, Newt?”

“Aku harus mencari merek produk buat sendok makan perakmu,” katanya. Dia membaca merek-merek peralatan makan perak dari majalah. “Albermale? Heather?” katanya. “Legend? Rambler Rose?” dia menoleh, tersenyum. “Rencananya aku akan memberimu dan suamimu sendok.”

“Newt, Newt–katakan sebenarnya padaku,” kata Catharine.

“Aku mau jalan-jalan,” kata Newt.

Catharine meremas-remas tangannya sendiri dengan cara sedih seorang saudara perempuan.

“Oh, Newt, kamu membodohiku soal kamu jadi A.W.O.L.”

“Newt menirukan bunyi sirine polisi dengan pelan, ia mengangkat alisnya.

“Dari mana?”

“Fort Bragg.”

“Carolina utara?”

“Iya,” katanya. “Dekat Fayyeteville—tempat Scarlet O’hara sekolah.”

“Bagaimana kamu bisa sampai ke sini, Newt?”

Dia mengangkat jempolnya. Melucu dengan tingkah seorang pembonceng di jalan. “Dua hari,” katanya.

“Apa ibumu tahu?”

“Aku tak datang untuk ketemu ibu,” katanya pada Catharine.

“Siapa yang mau kamu temui?”

“Kamu.”

“Kenapa aku?”

“Karena aku cinta kamu,” katanya. “Sekarang bisa kita jalan-jalan?” katanya. “Selangkah demi selangkah, melalui jalan setapak, melewati jembatan—”
***

Mereka sekarang berjalan-jalan. Di pinggir hutan, di jalan tanah yang dipenuhi daun-daun kecokelatan.

Catharine benar-benar marah dan bingung, parau menahan tangis. “Newt,” katanya. “Ini benar-benar gila.”

“Kok bisa?”

“Benar-benar waktu yang gila untuk bilang kamu cinta padaku,” katanya. “Kamu tak pernah bicara seperti itu sebelumnya.” Ia berhenti berjalan.

“Ayo kita terus jalan,” kata Newt.

“Tidak,” katanya. “Sudah terlalu jauh. Jangan lebih jauh lagi,” katanya. “Aku seharusnya tak ikut jalan-jalan denganmu sama sekali.”

“Kamu ikut, kan.”

“Agar kamu keluar dari rumah,” katanya. “Kalau seseorang kebetulan lewat, dan mendengar kamu bicara seperti itu, seminggu sebelum pernikahan—-”

“Apa yang akan mereka pikirkan?” kata Newt.

“Mereka akan pikir kamu sudah gila,” katanya.

“Kenapa?”

Catharine menarik napas dalam-dalam, ia mulai menyusun pembicaraan, “Katakanlah aku benar-benar tersanjung dengan hal gila yang kamu lakukan,” katanya. “Aku tak percaya kamu benar-benar A.W.O.L., tapi, mungkin kamu begitu. Aku tak percaya kamu benar-benar cinta padaku, tapi mungkin kamu iya, tapi—”

“Aku sungguh-sungguh.”

“Kalau begitu, aku sungguh tersanjung,” kata Catharine. “Aku sungguh menyukaimu sebagai teman, Newt, sangat-sangat suka—tapi ini sudah terlambat.” Ia selangkah menjauh darinya. “Kamu bahkan belum pernah menciumku,” katanya, dan ia menutupi wajah dengan kedua tangannya. “Aku tak bermaksud kamu harus melakukannya sekarang. Maksudku hanya semua ini benar-benar tak terduga. Aku belum punya ide terjauh bagimana untuk menanggapinya.”

“Berjalan saja lagi,” kata Newt. “Senang-senang sajalah.”

Mereka mulai berjalan lagi.

“Menurutmu bagaimana reaksiku seharusnya?”

“Bagaimana aku tahu apa yang seharusnya,” kata Newt. “Aku tak pernah melakukan ini sebelumnya.”

“Menurutmu aku harus merobohkan diri ke tanganmu?”

“Mungkin.”

“Maaf harus mengecewakanmu.”

“Aku tidak kecewa,” kata Newt. “Aku tak mengharapkannya. Ini sudah sangat menyenangkan, hanya jalan-jalan.”

Catharine berhenti lagi. “Kamu tahu apa yang akan terjadi selanjutnya?” katanya.

“Tidak.”

“Kita salaman,” katanya. “Kita salaman dan berpisah sebagai teman,” katanya lagi. “Itu yang akan terjadi selanjutnya.”

Newt mengangguk. “Baiklah,” katanya. “Ingatlah aku. Ingatlah aku dari waktu ke waktu. Ingatlah bagaimana aku begitu cinta padamu.”

Tak diduga, Catharine meluapkan tangis. Ia membalikkan badannya dari Newt, dan memandangi deretan pilar-pilar yang tak terhitung di pinggir hutan.

“Apa itu maksudnya?” tanya Newt.

“Kemarahan!” kata Catharine. Ia mengepalkan tangannya. “Kamu tak punya hak untuk—”

“Aku harus tahu,” kata Newt.

“Kalau aku cinta padamu,” kata Catharine, “aku akan membiarkanmu tahu sebelum saat ini.”

“Kamu akan memberitahu?” kata Newt.

“Ya,” katanya. Ia menghadap padanya, menatapnya, wajahnya cukup merah. “Kau akan tahu,” katanya.

“Bagaimana?”

“Kau akan bisa melihatnya,” katanya. “Perempuan tak begitu pintar menyembunyikan itu.”

Newt memandang wajah Catharine dari dekat sekarang. Untuk keterkejutannya yang melumpuhkan, Catharine menyadari bahwa apa yang baru saja dikatakannya itu benar, bahwa perempuan tak bisa menyembunyikan cinta.

Newt melihat cinta sekarang. Dan dia melakukan apa yang harus dilakukan. Ia menciumnya.
***

“Kamu susah sekali untuk paham!” kata Catharine, setelah Newt melepaskannya.

“Aku begitu?” kata Newt.

“Kamu harusnya tak melakukan itu.”

“Kamu tak menyukainya?”

“Apa yang kamu harapkan?” kata Catharine—“hasrat liar yang terabaikan?”

“Aku sudah katakan padamu,” kata Newt, “aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.”

“Kita bilang selamat tinggal.”

Newt sedikit mengerutkan kening. “Baiklah,” katanya.

Catharine membuat pembicaraan lain. “Aku tak menyesal kita ciuman,” katanya. “Itu manis sekali. Kita telah begitu dekat. Aku akan selalu mengingatmu, Newt, dan semoga berhasil.”

“Kamu juga.”

“Terima kasih, Newt.”

“Tiga puluh hari.”

“Apa?”

“Tiga puluh hari dalam tahanan,” kata Newt—“itu harga dari sebuah ciuman yang harus kubayar.”

“A—Aku minta maaf,” kata Catharine, “tapi aku tak memintamu melakukan A.W.O.L.”

“Aku tahu.”

“Kamu tentu tak akan mendapat penghargaan kepahlawanan untuk melakukan sesuatu setolol itu.”

“Pastinya menyenangkan jadi pahlawan,” kata Newt, “apa Henry Stewart Chasens seorang pahlawan?”

“Bisa saja,” kata Catharine,” jika dia punya kesempatan.” Ia tampak tak nyaman saat mereka mulai berjalan lagi. Salam perpisahan itu telah terlupakan.

“Kamu cinta padanya?”

“Tentu saja aku cinta padanya!” kata Catharine gusar, “Aku tak akan menikah dengannya kalau aku tak cinta padanya.”

“Apa baiknya dia?”

“Yang benar saja!” ia menangis. Berhenti lagi. “Apa kamu sadar betapa menyinggungnya kamu? Banyak, banyak, banyak sekali hal yang baik dari Henry! Iya,” katanya, “dan banyak, banyak, banyak hal yang mungkin jelek juga. Tapi itu sama sekali bukan urusanmu. Aku cinta Henry, dan aku tak perlu membicarakan tabiatnya denganmu.”

“Maaf,” kata Newt.

“Yang benar saja!”

Newt menciumnya lagi. Dia menciumnya karena Catharine ingin ia menciumnya.
***

Mereka sekarang berada di kebun buah yang luas.

“Bagaimana kita bisa begitu jauh dari rumah, Newt?”

“Selangkah demi selangkah, melalui jalan setapak, melewati jembatan.”

“Mereka terus bertambah—langkah-langkah itu.”

Lonceng berdentang dari menara sekolah bagi anak-anak tunanetra dekat dari situ.

“Sekolah untuk orang-orang buta,” kata Newt.

“Sekolah untuk orang-orang buta,” kata Catharine. Ia menggeleng-gelengkan kepala, dengan tampang yang mengantuk. “Aku harus pulang sekarang.”

“Katakan selamat tinggal,” kata Newt.

“Setiap kali aku mengatakannya,” kata Catharine, “tampaknya aku selalu mendapat ciuman.”

Newt duduk di atas rumputan yang dipotong pendek di bawah pohon apel. “Duduk sini,” katanya.

“Tidak.”

“Aku tak akan menyentuhmu.”

“Aku tak percaya padamu.”

Catharine duduk di bawah pohon yang lain berjarak dua puluh kaki darinya. Ia menutup matanya.

“Mimpikanlah Henry Stewart Chasens.”

“Apa?”

“Mimpikanlah calon suamimu yang hebat itu.”

“Baiklah. Akan kulakukan,” kata Catharine. Ia menutup matanya lebih ketat, mencoba menangkap selintas calon suaminya.

Newt menguap.

Beberapa ekor lebah berdengung di atas pohon. Catharine nyaris saja ketiduran. Saat ia membuka matanya, ia melihat Newt benar-benar tertidur.

Dia mulai mengorok dengan lembut.

Ia membiarkan Newt tertidur selama satu jam, dan selama dia tertidur, Catharine mengaguminya dengan sepenuh hati.

Bayang-bayang dari pohon apel tumbuh ke arah timur. Lonceng di atas menara sekolah untuk tunanetra berdentang lagi.

“Chick-a-dee-dee-dee,” sayup bunyi chickadee.

Dari kejauhan, bunyi starter mobil meringkik, dan gagal. Meringkik, dan gagal. Tetap mogok.

Catharine keluar dari balik pohonnya, berlutut di depan Newt.

“Newt?”

“H’m?” katanya. Newt membuka matanya.

“Terlambat,” kata Catharine.

“Halo, Catharine.”

“Halo, Newt.”

“Aku cinta padamu.”

“Aku tahu.”

“Terlambat,” kata Newt.

“Terlambat,” kata Catharine.

Newt mengerang, meregangkan badannya. “Jalan-jalan yang menyenangkan,” katanya.

“Kupikir begitu.”

“Kita berpisah di sini?”

“Kamu mau ke mana?

“Mencari boncengan ke kota, menyerahkan diri.”

“Semoga berhasil,” kata Catharine.

“Kamu juga,” kata Newt. “Menikahlah denganku, Catharine?”

“Tidak.”

Newt tersenyum, menatapnya lekat-lekat beberapa saat, lalu berjalan menjauh dengan cepat.

Catharine mengamatinya menyusut semakin kecil dari sudut pandang bayang-bayang dan pepohonan, mengetahui bahwa jika dia berbalik sekarang, jika dia memanggilnya, ia akan berlari menujunya. Ia tak akan punya pilihan.

Newt benar-benar berhenti. Benar-benar berbalik. Benar-benar memanggil. “Catharine,” panggilnya.

Ia berlari menujunya. Merangkulkan tangan kepadanya. Ia tak bisa bicara.

(1960)

*) Rambuana, pedagang kaki lima yang gemar membaca, senang menulis, dan suka menerjemahkan karya-karya sastra, tinggal di Tangerang, Banten. http://sastra-indonesia.com/2021/02/berjalan-jauh-ke-selamanya/

]]>
http://pustakapujangga.com/2021/02/11/berjalan-jauh-ke-selamanya/feed/ 0