M. Paus (Membaca: “Pesan al-Qur’an untuk Sastrawan”) karya Aguk Irawan MN

Nurel Javissyarqi *

Sudah lama saya tidak menulis, Bismillah…
Tanggal 15 Juli 2012 saya membedah salah satu karyanya penulis ini (Penakluk Badai; novel biografi KH. Hasyim Asy’ari) tanpa makalah (lantaran informasi kepada saya mendadak, dan di hari itu juga mengisi acara di kampus STITAF, Siman, Sekaran, Lamongan, dengan makolah bertitel “Pendidikan; Prospek Pembentuk Karakter Budaya”, untunglah jadwal waktunya tidak bertabrakan; pagi hingga siangnya di Pesantren Sunan Drajad, siangnya sampai sore di kampus).

Bagian 24 (VI): Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia

(kupasan ke tiga dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)

Nurel Javissyarqi

(VI)

Data-data di bawah ini, jumputan sepintas dari Wikipedia, sedangkan urutannya mengikuti buku bertitel “Tanah Air Bahasa, Seratus Jejak Pers Indonesia,” terbitan I:boekoe, Cetakan I, Des 2007. Ketika menulis buku kenang-kenangannya di tahun 1952, Ki Hajar Dewantara mencatatkan Tirtohadisoerjo, seperti berikut ini:

Bagian 24 (V): Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia

(kupasan ke tiga dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)

Nurel Javissyarqi

(V)

Nurel: “Pak Yamin, ini Bapak Ki Hadjar Dewantara pengen nimbrung juga, boleh kan?”

M. Yamin: “O… Mas Dewantara, persilahkan masuk Nurel. Di sini kita mengalir saja.”

Nurel: “Ya Bapak.”

Bagian 24 (IV): Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia

(kupasan ke tiga dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)

Nurel Javissyarqi

(IV)

M. Yamin: “Ambilkan pengertian Sumpah Palapa lebih dulu di Wikipedia, sebelum larut berkelana.”

Nurel: “Ya Bapak: Sumpah Palapa ialah suatu pernyataan atau sumpah yang dikemukakan Gajah Mada pada upacara pengangkatannya menjadi Patih Amangkubhumi Majapahit, 1258 Saka (1336 M).

Bagian 24 (III): Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia

(kupasan ke tiga dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)

Nurel Javissyarqi

(III)

M. Yamin: “Nurel, kenapa kau tak ambil kalimat dari buku-bukuku, biar agak gimana gitu? Hehe…”

Nurel: “Pengennya, tetapi buku-buku Bapak berada di Lamongan, sementara saya masih di Ponorogo. Ya semoga sebelum rampung catatan ini, bisa pulang terlebih dulu ke kampung halaman.”