Kandungan Buku Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia

0
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Cover Depan:

Nurel Javissyarqi

Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra
MEMBONGKAR MITOS KESUSASTRAAN INDONESIA
Buku Pertama: Esai-esai Pelopor Pemberontakan Sejarah Kesusastraan Indonesia

Andaikan kaum kritikus pun para sastrawan pula MASTERA, mau menerima dengan hati jujur terhadap teguran nyata dari Sang Maha Realitas, atas kesembronoan yang disengajakan pada ketiga teks pidato SCB: 1. “Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair” mengenai Asy-Syu’ara, 2. “Sambutan Upacara Penyerahan Anugerah Sastra Mastera,” dan ke 3. “Pidato Anugerah Sastra Dewan Kesenian Riau” pada kasus “Kun Fayakun,” Insya Allah hikmah dari musibah itu akan terbuka lebar jalannya. Di sana terdapat gumpalan materi padat kegagalan diri SCB sebagai sastrawan, yang gagap meramukan konsepnya menjadi utuh, lantas mencari-cari kepurnaan lewat ayat-ayat dari kitab suci yang disunat susunan beserta maknanya! Hebatnya lagi, ketiganya lolos sebagai pidato bergengsi, lalu dimuat di Koran Nasional, kemudian dibukukan, sampai kaum kritikus, para sastrawan yang biasa menulis di koran, sudah merasa puas sebagaimana tidak pernah saya temukan sanggahan dari mereka, mengenai tulisan-tulisan keblinger tersebut.
***

Cover Belakang:

… Namun alangkah sayang, keberhasilannya yang semu menumbuhkan tekat kelewat melunjak bertingkah ‘melupa dan mengingat’ dengan sangat ugal-ugalan menyulap “Kun Fayakun” dijelmakan (dirombaknya) membentuk kata-kata “Jadi maka Jadilah!” dan “Jadi, lantas jadilah!” (Bukan –Pidato Anugerah Sastra Dewan Kesenian Riau 2000- oleh SCB, yang terbit di “Bentara” Kompas, Jumat 11 Januari 2003, dan Sambutan SCB Pada Upacara Penyerahan Anugerah Sastra MASTERA, Bandar Seri Begawan, 14 Maret 2006)?
***

… seperti Dami N. Toda yang meski penelitiannya belum matang kurang jeli, dan terlanjur cepat Tuhan menjemputnya. Kata-kata ‘belum matang kurang jeli’ bisa dibaca di esainya yang bertitel “Kesibukan Hamba-Hamba Kebudayaan” lalu sejenis esai pertaubatannya yang dimuat Kompas 17 September 2006 yang berlabel “Pengakuan Anggota Waffen-SS,” yang disebut juga oleh Afrizal Malna di Tempo, 20 November 2006 dengan judul “Sejarah dalam Kulit Bawang,” dengan satu kunci perjalanan hidup sang pemenang Nobel Sastra 1999, Günter Grass.
***

Pengabdian yang besar tidak lepas dari hilaf dan semoga yang diungkapkan Elisa Dwi Wardani, hanyalah keterlepasan tidak pakem masanya. Entah sehabis mendapati penghargaan, sesudah syuting baca puisi di sebuah stasiun televisi atau TI teringat telah mengangkat begitu banyak penyair dari majalah sastra yang dipandeganinya, SCB misalnya. Lantas bayu bertiup kencang mengaburkan paham meninggikan derajat kepenyairannya, sampai-sampai seolah-olah penguasa kata-kata di alam jagad raya, dengan nada-nada:

“penyair adalah penguasa kata-kata,dengan menurunkan melodinya; “mungkin tidak mengendalikan kata-kata secara otoriter, memangkas atau mencukur” namun penyair juga “membiarkan kata-kata mengukur emosinya, dan bernikmat-nikmat dengan kata-kata untuk mendapatkan pencerahan.”
***

Seingat saya (dalam arti semoga kelak ada yang merevisinya), penerjemah, sastrawan, kritikus Sapardi Djoko Damono pernah mengimbau agar karya sastra dijauhkan dari ilmu pengetahuan (“Sapardi Djoko Damono: Jadikan Sastra sebagai Seni, Bukan Ilmu di Sekolah,” Kompas 14 Oktober 2010). Maka secara otomatis bisa dibilang menghasilkan karya klangenan, bobotnya hanya lamunan, mentok bikin rindu tidak ketulungan pada gergaji kepenyairannya, ini dapat dirujuk kepastiannya pada puisi-puisinya. Dan secara terbuka saya lebih condong kepada penyair sekaligus politikus Muhammad Iqbal pula filsuf Jacques Derrida yang dengan tegas berpendapat; Puisi ialah filsafat atau pun filsafat adalah sastra (puisi)” [kalau tidak keliru pada bukunya “The Reconstruction of Religious Thought in Islam” (Iqbal), dan “Margins of Philosophy” (Derrida)]. …
***

Halaman Lain

MEMBONGKAR MITOS KESUSASTRAAN INDONESIA
Buku Pertama:
Esai-esai Pelopor Pemberontakan Sejarah Kesusastraan Indonesia

Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra
PuJa XIII-VI 2011-2017
All Rights Reserved
@Nurel Javissyarqi

Penyunting : Lathifa Akmaliyah, S.Pd. M.Pd.
Setting Layout : Daniel Paranamesa
Ilustrator Cover : Sony Prasetyotomo
Design Cover : Bung

Diterbitkan oleh PuJa : PUstaka puJAngga
d/a Jalan Raya Desa Kendal-Kemlagi,
Karanggeneng, Lamongan, Indonesia
Email: pustaka.pujangga@gmail.com
Website: http://pustakapujangga.com

Berkerjasama dengan : Arti Bumi Intaran
d/a Mangkuyudan MJ III/216 Yogyakarta
Email: artibumiintaran@gmail.com
Website: http://artibumiintaran.net

Cetakan Pertama : Desember 2017
Terbitan Pertama : 9 Januari 2018
xii+500 hlm, 15x23cm
ISBN: 978602773190

Harga: Rp. 110.000,-
WA: 085 233 316 056

Pengantar dari Penulis

Jauh sebelum menuliskan buku “Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri” (terbitan SastraNesia dan PUstaka puJAngga, 2011), saya sudah terbiasa menulis di facebook. Awalnya berupa bahan-bahan mentah di status, terus diposting di ruang catatan fb, kemudian ke website, lantas di blogspot. Facebook bagi saya sebagai tempat belajar menulis secara spontan, tentu sewaktu diunggah di catatan fb, telah melewati perevisian, demikian pun sebelum dipublikasikan di web, mengalami pengeditan serta penyimakan ulang. Dan manakala akan dibukukan, saya tetap jenak membenahinya, ini karena sadar perihal ketumpulan nalar diri, namun tentu sesudah tercetak, sangat siap bersikap; berbeda paham berlawan data, Insyaallah

Calon buku ini awalnya bertitel “Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden?” dari pantulan esainya Dr. Ignas Kleden yang berjudul “Puisi dan Dekonstruksi: Perihal Sutardji Calzoum Bachri,” yang saya pikir perlu adanya pembongkaran. Ketika saya bedah pelahan, ada yang melalui satuan kata-kata, kalimat, paragraf; saya temukan kasus yang sangat mengecewakan, oleh sebab sampai kini tetap diabaikan para kritikus sastra di Indonesia. Seperti perkara “Pidato Anugerah Sastra Dewan Kesenian Riau, tahun 2000,” dan “Sambutan SCB Pada Upacara Penyerahan Anugerah Sastra MASTERA, tahun 2006,” mengenai “Kun Fayakun” yang dirombaknya membentuk kata-kata “Jadi maka Jadilah!” dan “Jadi, lantas jadilah!” Lalu soal kefatalan kata-kata Taufiq Ismail, kehilafan Sapardi Djoko Damono, keragu-raguan Maman S. Mahayana, dan keserampangannya Dami N Toda, Umar Junus, Abdul Hadi WM, serta perihal Hari Puisi Indonesia, yang terlepas dari sejarah, ini mungkin mereka terlalu lama dan terlanjur terbiasa dengan imajinasi, tanpa memperhatikan riwayat sekelilingnya.

Penulisan awal buku ini terposting di catatan fb tertanggal 15 Juni 2011 pukul 19:55 (Bagian I) sampai tanggal 26 Oktober 2012 pukul 10:37 (Bagian XXIII), dapat dikata sudah masuk 80%. Yang 10% lagi Bagian XXIV dari ranting ke satu hingga ke VI tertanggal 4 Agustus 2013 pada website pustakapujangga.com. Sedangkan 10% terakhir, penambahan sampai wujudnya buku ini sebagai Jilid Pertama buku “Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia,” adalah Bagian XXIV di ranting ke VII sampai Bagian XXV beserta lampiran-lampirannya. Maka dapat dibilang hanya menempuh 2 tahun setengah. Sementara baru akhir tahun 2017 terbit, karena persoalan pribadi yang harus dituntaskan, sekaligus menumpas segala keraguan. Alhamdulillah, sedari lambannya perjalanan, malah menemukan kematangan dari beberapa pembacaan terbaru, semisal pandangan yang tetap saya pegang atas awal temuan, namun akhirnya dilepaskan demi mantabnya buku ini diterbitkan!

Nurel Javissyarqi
Pengelana Waktu, tinggal di Dusun Pilang, Desa Tejoasri, Laren, Lamongan
(sebuah pulau kecil di daerah terpencil, yang dikelilingi aliran Bengawan Solo).

Daftar Isi:

Pengantar Penulis… v
Daftar Isi… vii
Bagian I Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia… 1
Bagian II Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia (kupasan pertama dari paragraf awal, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)… 6
Bagian III Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia (kupasan kedua dari paragraf awal, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)… 11
Bagian IV Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia (kupasan ketiga dari paragraf awal, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)… 16
Bagian V Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia (kupasan keempat dari paragraf awal, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)… 22
Bagian VI Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia (kupasan kelima dari paragraf awal, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)… 26
Bagian VII Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia (kupasan keenam dari paragraf awal, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)… 30
Bagian VIII Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia (kupasan pertama dari paragraf kedua, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)… 37
Bagian IX Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia (kupasan kedua dari paragraf kedua, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) … 42
Bagian X Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia (kupasan ketiga dari paragraf kedua, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)… 47
Bagian XI Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia (kupasan keempat dari paragraf kedua, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) … 53
Bagian XII Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia (kupasan kelima dari paragraf kedua, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)… 58
Bagian XIII Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia (kupasan keenam dari paragraf kedua, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) … 65
Bagian XIV Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia (kupasan ke nol dari sebelum paragraf ketiga, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) … 76
Bagian XV Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia (kupasan pertama dari paragraf tiga dan empat, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)… 122
Bagian XVI Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia (kupasan kedua dari paragraf tiga dan empat, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)…136
Bagian XVII Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia (kupasan ketiga dari paragraf tiga dan empat, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) …162
Bagian XVIII Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia (kupasan keempat dari paragraf tiga dan empat, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) …186
Bagian XIX Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia (kupasan kelima dari paragraf tiga dan empat, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) …212
Bagian XX Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia (kupasan keenam dari paragraf tiga dan empat, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)…225
Bagian XXI Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia (kupasan ketujuh dari paragraf tiga dan empat, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)… 260
Bagian XXII Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia (kupasan pertama dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) …282
Bagian XXIII Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia (kupasan kedua dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) …304
Bagian XXIV Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia (kupasan ke tiga dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) …322
Bagian XXV Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia (kupasan ke empat dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)…396

LAMPIRAN
Puisi dan Dekonstruksi: Perihal Sutardji Calzoum Bachri (Ignas Kleden)…. 411
KREDO PUISI (Sutardji Calzoum Bachri)…425
BUKAN-PIDATO ANUGERAH SASTRA DEWAN KESENIAN RIAU 2000 (Sutardji Calzoum Bachri) …427
Sambutan Sutardji Calzoum Bachri Pada Upacara Penyerahan Anugerah Sastra MASTERA … 429

Kumpulan tulisan terkait dalam rentang penggarapan buku ini:
Membo-membo Jadi Iblis di Kediri (Nurel Javissyarqi)… 431
Pendidikan; Prospek Pembentuk Karakter Budaya (Nurel Javissyarqi)… 448
SASTRA Versi Iklan Kecap INDONESIA (Nurel Javissyarqi) …458
Kalimire’ng (Sungai Mendengar) “Burung Gagak dan kupukupu” (Nurel Javissyarqi)… 468
M. Paus (Membaca: “Pesan al-Qur’an untuk Sastrawan”) karya Aguk Irawan MN (Nurel Javissyarqi)… 476
Penyakit Banyak Bertanya, Malas Membaca, Enggan Berpikir (Nurel Javissyarqi)….485
Dan Fenomena Presiden Penyair Daerah sebagai Dagelan Populer? (Nurel Javissyarqi) … 491
BIOGRAFI PENULIS … 497

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Share.

About Author

Leave A Reply

Translate »