Komentar Vladimir Nabokov tentang Metamorfosis

Diringkas oleh: Sigit Susanto

“Siapa melihat sesuatu yang lebih terhadap karya Kafka `Metamorfosis` dari sekadar sebuah fantasi serangga, saya menyambutnya sebagai pembaca yang benar pada deretan yang bagus.” (Vladimir Nabokov).

Judul: Die Verwandlung – Franz Kafka
Mit einem Kommentar von Vladimir Nabokov
(Metamorfosis – Franz Kafka dengan sebuah komentar dari Vladimir Nabokov)
Penerbit: Fischer, 1991
Tebal: 107 Halaman Lanjutkan membaca “Komentar Vladimir Nabokov tentang Metamorfosis”

Kritik Tanpa Subyektivitas

Subagio Sastrowardoyo *

Judul Buku: Mitos dan Komunikasi
Penulis: Umar Junus
Penerbit: Sinar Harapan
Edisi: Cetakan Pertama, 1981
Halaman: 237
Tempo, 18 Juli 1981

KRITIK sastra modern cenderung kehendak bersifat ilmiah. Unsur subyektif di dalam penghayatan karya sastra, seperti kesan dan citarasa pribadi, sebanyak mungkin hendak dihindari. Cita-citanya kini adalah mendapatkan metode penelitian, ukuran penilaian, ketepatan peristilahan serta kesimpulan pemikiran yang dapat dipertanggungjawabkan kepada penalaran yang bisa berlaku secara umum. Lanjutkan membaca “Kritik Tanpa Subyektivitas”

Sepucuk Surat Getir kepada Generasi Baru

Peresensi: Ruth Indiah Rahayu *
Judul Buku: Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Gramedia, 2001
majalah.tempointeraktif.com

Tak seorang pun yang dapat menolong mereka. Di sini pula mereka kehilangan segala-galanya: kehormatan, cita-cita, harga diri, hubungan dengan dunia luar, peradaban dan kebudayaan …suatu perampasan total. Lanjutkan membaca “Sepucuk Surat Getir kepada Generasi Baru”

Potret Pramoedya Sehari-hari

Judul Buku: Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali
Penulis: Koesalah Soebagyo Toer
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan: I, Juli 2006
Tebal: xiv + 266 halaman
Peresensi: Bagja Hidayat
ruangbaca.com

Pramoedya Ananta Toer, penulis Indonesia paling terkenal itu, punya ilmu kebal. Ilmu itu didapatnya ketika muda dari seorang dukun di Tanah Abang. Pram dan seorang pamannya datang ke sana sengaja untuk meminta kekuatan tubuh dalam menghadapi gonjang-ganjing revolusi. Lanjutkan membaca “Potret Pramoedya Sehari-hari”