Penyakit Banyak Bertanya, Malas Membaca, Enggan Berpikir *

Nurel Javissyarqi

Seperti hari biasanya, mengelilingi kota Reyog sambil mengukir masa memahat waktu di kedalaman kalbu, kadang menghitung usia apa saja yang terlintas. Betapa damai jalan-jalan terlewati; menyusuri pemandangan alam ke Pulung, memutari keindahan telaga Ngebel yang pepohonannya tinggi menjulang, dan dedaunnya melambai ringan merekam jejak perjalanan, mungkin kelak diceritakan oleh angin musim pergantian. Lanjutkan membaca “Penyakit Banyak Bertanya, Malas Membaca, Enggan Berpikir *”

Kalimire’ng (Sungai Mendengar) “Burung Gagak dan kupu-kupu” *

Nurel Javissyarqi

Saya tahu Kota Gresik sejak duduk di bangku sekolah Mts, sewaktu pertama kali naik bus sendiri ke Surabaya, dengan maksud ke Tunjungan Plaza sekadar ingin menikmati suasana Kota Pahlawan. Saat melewati wilayahnya, saya disuguhkan berhektar-hektar tambak garam serta gudang-gudangnya; pada lintasan itu saya terpesona kerjanya kincir angin pula para petaninya yang tekun mengalirkan air laut ke ladangnya, dan kala menjelma butiran garam dikeruknya pelahan di bawah terik mentari. Lanjutkan membaca “Kalimire’ng (Sungai Mendengar) “Burung Gagak dan kupu-kupu” *”

SASTRA Versi Iklan Kecap INDONESIA *

Nurel Javissyarqi

“Nun, demi kalam (pena) dan apa yang mereka tuliskan.” QS. al Qalam (68) ayat 1.

Judul di atas mengambil olok-olokkannya kritikus Dami N. Toda kepada kritikus A. Teeuw dalam esainya “Mempertanyakan Sastra Itu Kembali” di bukunya “Apakah Sastra?” (Cetakan Pertama, Indonesia Tera 2005), yang termasuk versi iklan kecap menurut saya. Dan oleh karena kebetulan saya sedang menggarap buku kritik yang rencana judul besarnya “Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia” lewat satu esainya Dr. Ignas Kleden Puisi dan Dekonstruksi: Perihal Sutardji Calzoum Bachri.” Maka sajian sekarang tidak jauh dari apa yang teranalisa demi memudahkan saya berselancar. Lanjutkan membaca “SASTRA Versi Iklan Kecap INDONESIA *”

Pendidikan; Prospek Pembentuk Karakter Budaya *

Nurel Javissyarqi

Bismillahirrohmanirrohim. Sebelumnya maaf pengantarnya panjang, lantaran menyesuaikan tema yang telah tertandakan. Anggaplah sebagai musababnya materi yang kan tersampaikan atau asbabul wurud-nya demi mendapati pijakan realitas pada kata-kata yang ter-wedar-kan. Kebetulan saya tengah hijrah di bumi Reog, memang tidak jauh dari tanah kelahiran yang kini terpijak, ibunda pertiwi jiwa-raga ini. Bagaimana pun keadaan hijrah tidaklah menyenangkan, ada rindu seolah para muhajir kepada tanah suci atau anak yang mendamba surga di bawah telapak kaki ibu. Lanjutkan membaca “Pendidikan; Prospek Pembentuk Karakter Budaya *”

Bagian 25: Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia


(kupasan ke empat dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)
Nurel Javissyarqi

I
Taufiq Ismail: “Enak jadi penyair daripada yang lain.”

A Mustofa Bisri: “Enaknya gimana?”

Taufiq Ismail: “Kalau orang baca syair sampean keliru, misalnya. Yang disalahkan ndak sampean, yang disalahkan dirinya sendiri.”

A Mustofa Bisri: “Wah saya ndak paham ini, terlalu tinggi.”

(Ceramah Gus Mus pada acara Haflah Seni dan Budaya dalam Peringatan Tahun Baru Islam 1428 H di Pekalongan). Lanjutkan membaca “Bagian 25: Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia”

Bagian 24 (VII): Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia

Self Portrait Nurel Javissyarqi by Wawan Pinhole, 2013
Self Portrait Nurel Javissyarqi by Wawan Pinhole, 2013

(kupasan ke tiga dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)
Nurel Javissyarqi

Dialog Imajiner Mohammad Yamin tentang “Deklarasi Hari Puisi Indonesia.” (I-VII)

VII
Bung Karno sendiri menganggap Sumpah Pemuda 1928 bermakna revolusioner: satu negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke, masyarakat adil dan makmur, dan persahabatan antar bangsa yang abadi. “Jangan mewarisi abu Sumpah Pemuda, tapi warisilah api Sumpah Pemuda. Kalau sekadar mewarisi abu, saudara-saudara akan puas dengan Indonesia yang sekarang sudah satu bahasa, bangsa, dan tanah air. Tapi ini bukan tujuan akhir,” kata Soekarno dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-35 di Istana Olahraga Senayan, Jakarta 28 Oktober 1963. (Rudi Hartono, “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda,” berdikarionline.com 20 Mei 2011). Lanjutkan membaca “Bagian 24 (VII): Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia”

Semisal Resensi Ini-Itu Berthold Damshäuser


Nurel Javissyarqi

Sebenarnya ingin ngelenceki bukunya, namun belum ada kesempatan jauh, maka sekadarlah ucapan terima kasih, sebab bahasa Indonesia sudah diperkenalkan di Jerman dengan ketekunan penuh piawai, atau ini ikut-ikutan bijak seperti tulisannya; “Sebagai dosen bijaksana saya suka sekali kalau mahasiswa banyak bertanya.”

“Ini dan Itu Indonesia, Pandangan Seorang Jerman” buku karangan Berthold Damshäuser, dipengantari Agus R. Sarjono dan penutupnya Jamal D. Rahman, penerbit Komodo Books. Buku ini sangat ajaib, karena ada tulisannya yang dijumput dari Majalah Sastra Horison No.3/2016, hal. 13-17, padahal di buku itu adanya catatan Cetakan Pertama Mei 2015?

Saya tidak kenal pengarang ini, tapi bisa saja pernah bertemu di Jakarta, Jogja atau blas, tetapi-nya tiba-tiba ingin menulisnya, sebab dari bacaan terhadap bukunya, terbersitlah satu kata; kocak. Andai layang ini tak sampai tidak masalah, toh saya bisa kenal dapat akrab sangat dekat atau sok kenal sok akrab sok dekat, namun bukan. Saya tahu kelihaian Ibnu Khaldun, coraknya Hegel, wataknya Sartre, karekter Camus, nafsunya Nietzsche, perangainya Derrida, ketelitian Hassan Hanafi, ketampanan Goethe, kewibawaan Tagore dsb, padahal tidak pernah berjumpa belum sempat kenalan, namun rasanya lebih nyaman daripada guru bahasa Indonesia saya di bangku sekolah. Jadi bisalah mencantelkan ‘kocak’ di depan namanya; kocaknya Berthold Damshäuser. Ini bukan mensejajarkan pribadinya dengan para tokoh itu, hanya semata dari negara asing dengan nama asing pula terdengar di telinga.

Bahasa Indonesia-nya agak kocak, artinya mbanyol, lucu, menggelitik, menggelikan, jenaka, tapi tidak sampai keringkan bibir, dan kata ‘kocak’ jika digeser agak diselewengkan maknanya sebanding culun, tapi bukan di dalam kasusnya. Kocak juga bisa diartikan tidak seret sedikit kendor atau longgar menggelikan; biasanya dipakai dalam kejadian mur dan baut yang tidak erat berpelukan, keadaan renggang yang tidak sampai lepas keduanya.

Kata ‘kocak’ pernah dipopulerkan Radio Suzana Surabaya sekitar awal tahun 1990an; adanya acara; berita kocak, cerita kocak, bahasa mandari kocak, bahasa arab kocak, bahasa belanda kocak, bahasa jepang kocak, bahasa jerman kocak, dst. Kocak di situ maknanya lucu, karena di bukunya memiliki unsul hiburan, semisal sering mengawali tulisan dengan kata-kata; “Lapor! Sudah saatnya saya kembali melaporkan diskusi yang terjadi pada jam mata kuliah bahasa Indonesia di Universitas Bonn” dan mengakhirinya dengan kalimat “… saya meninggalkan kelas. Lonceng bel berbunyi” atau “Tiba-tiba lonceng berbunyi, jam kuliah sudah selesai. Alhamdulillah!” dan serupa-rupanya yang sebelumnya telah terbit di Majalah Tempo.
***

Sekecilnya ada empat nama besar yang tercatat ngincipi dataran bumi Nusantara; Tagore, Neruda, Hesse, Chamisso, dan kemungkinan ada belasan nama besar yang pernah singgah di tlatah Sumpah Palapa-nya Gajah Mada, namun tak ingin mencatatnya atau tidak mau dituliskan kejadiannya, barangkali dianggap kurang menarik ataupun menggelapkan proses perjalanan kreatifnya, maka di waktu sepertiga malam ini saya menujum orang asing itu.

Takdir memang bukan kita yang menuliskan, tapi dinaya tarik-menarik ketentuan serta ketetapan hidup, tidak lebih melalui prosesi panjang pergolakan batin antara condong menerima atau menolaknya, dan kecenderungan melapangkan perjalanan anak manusia menuju perjumpaan ajaib dirasa, tapi sangat akrab seolah baru kemarin bertemu atau ribuan tahun silam sudah mengenalnya, karena kelahiran serta kematian disegarkan embun waktu, diremajakan masa.
***

Menunggu lima tahun setelah terbitnya buku “Puisi Dunia, Gema Djiwa Slavia dan Latin;” Jilid I, disusun M. Taslim Ali, ia baru dilahirkan dunia, tepatnya di Wanne-Eickel (Jerman) 8 Februari 1957, tanah yang pernah menghadirkan filsuf tersohor yang pengaruhnya menggemparkan nalar, Nietzsche semacam Voltaire di lemah Prancis; satu mendorong Hitler memecahkan perang dunia ke II, satunya lagi menggerakkan kesadaran masyarakat merevolusi. Dan tatkala buku susunan M. Taslim Ali, “Puisi Dunia, Gema Djiwa Germania” terbit tahun 1953, tinggal 4 tahun alam menanti kehadirannya.

Barangkali usianya menginjak 11 tahun (1967) atau umur 17 (1973), ia sudah ber-papas-an dengan buku-bukunya M. Taslim Ali, bisa jadi mulai tertarik Pantun yang disebarkan oleh Chamisso, yang jelas di alam kemungkinan; deretan buku-buku pada perpustakaan keluarganya, sudah menyebarkan kabar keindahan tanah gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo ini, setidaknya tahun 1976 sudah mengenal nama Trisno Sumardjo disaat-saat mempersiapkan diri untuk perjalanan pertama kalinya ke Indonesia.

Pada umur 20 tahun itu, ia baca sebuah kumpulan cerpen Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, editornya Irene Hilgers-Hesse dan Mochtar Lubis, penerjemahnya Irene Hilgers-Hesse, Tübingen/Basel 1971 (lihat catatan kaki halaman 91). Enam tahun kemudian, ia merampungkan skripsi Master pada Jurusan Sastra Indonesia di Universitas Köln (“Trisno Sumardjo, Sang Sastrawan dan Karya-karyanya,” selengkapkan lihat catatan kaki selanjutnya). Saya tidak tahu persis apakah di antara tahun itu ia pernah keluyuran ke Indonesia? Apakah berjumpa Dami N. Toda di Hamburg atau tidak (1981)? Yang pasti setahun setelah kelulusannya dari Köln, ia menjadi mahasiswa tamu untuk program pascasarjana di Universitas Indonesia (1983) atau menginjak usianya ke 27. Berbeda perjalanan juga beda nasibnya, Neruda pada usia 23 (dalam tahun 1927) menginjakkan kaki di Kolombo (Sri Lanka), Batavia dan Singapura, sedangkan usianya Tagore 66 di tahun tersebut ke tanah Jawa.

Mengenai Dami, saya teringat penelitiannya yang belum matang sejenis kurang jeli, dan terlanjur cepat Allah menjemputnya. Kata-kata ‘belum matang kurang jeli’ bisa dibaca pada esainya yang bertitel “Kesibukan Hamba-Hamba Kebudayaan” lalu sejenis esai pertaubatannya yang dimuat Kompas 17 September 2006, yang berlabel “Pengakuan Anggota Waffen-SS” yang disebut juga oleh Afrizal Malna di Tempo 20 November 2006, dengan judul “Sejarah dalam Kulit Bawang,” lewat satu kunci perjalanan hidup pemenang Nobel Sastra 1999, Günter Grass.

Dan meski hanya sekali tatap muka di ruang kelas dengan Sapardi Djoko Damono, empat tahun berlalu dan ia putuskan balik ke Jerman (1986), mengabdi di Universitas Bonn, tepatnya mengajar bahasa dan sastra Indonesia pada Lembaga Kajian Asia, dan bersama Wolfgang Kubin menjadi editor Orientierungen. Di tahun 1987, untuk pertama kalinya menemui Ramadhan KH yang mendampingi istrinya berdinas sebagai diplomat di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bonn, perjumpaan yang sangat berkesan. KH sekitar lima tahun berada di sono (Jerman), dan tujuh tahun dilewati ke tahun 1993, KH diminta olehnya sebagai anggota redaksi Orientierungen, Zeitschrift zur Kultur Asiens.

Namun, empat tahun sebelum itu, tepatnya 1989, kedua anak manusia ini telah merampungkan hasil-hasil ikhtiarnya dalam kerjasama menerjemahkan sekaligus menerbitkan “Antologi dwibahasa puisi Jerman, Selama delapanratus tahun” yang diberinya titel “Malam Biru di Berlin” dengan kerjasama Kedutaan Besar Republik Federal Jerman di Jakarta. Sungguh hasrat yang luar biasa bermanfaat, bagi wacana kesusastraan di Nusantara. Kecocokannya dengan KH, memberikan dampak merindu penuh jiwanya pada Tanah Air keduanya yakni Indonesia. Dan atas permintaannya, KH di tahun 1997 bersedia menjadi anggota Komisi Indonesia-Jerman untuk Bahasa dan Sastra.

Ada yang saya sayangkan di pengantar “Malam Biru di Berlin,” paragraf ke 2 tertulis: “Sebelum penerbitan buku ini, belum terdapat antologi sajak-sajak Jerman yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Karena itu kami berpendapat, bahwa antologi ini sebaiknya mencoba memberikan gambaran yang luas tentang puisi Jerman. Maka yang dikumpulkan di sini adalah sajak dari abad keduabelas sampai abad keduapuluh yang diciptakan oleh delapan puluh tujuh penyair. Titik berat terletak pada sajak yang ditulis pada abad sekarang.” Kalimat itu seakan-akan menghapus kerjanya M. Taslim Ali sebelumnya, atau apakah terlambat mengetahui? Lalu seperti terpaksa disusupkan pada tulisannya, lihat sambil pelajari kepiawaiannya merakit kata, halaman 67.

Tulisannya mengenai “Ramadhan KH, Arsitektur Jembatan antara Jerman dan Indonesia” dimuat di buku yang berjudul “Ramadhan KH, Tiga Perempat Abad” Pustaka Jaya 2002, halaman 130-136, editornya Ajib Rosidi, Ahmad Rivai, Hawe Setiawan. Tahun 1997, ia menjadi anggota Komisi Jerman-Indonesia untuk Bahasa dan Sastra, yang didirikan atas petunjuk Kanselir Jerman dan Presiden Republik Indonesia. Tahun 1998 mulai berhubungan dekat dengan penyair Hamid Jabbar; orang saling dekat karena sama frekuensinya, serasi sepadupadan seirama nada naik-turunnya batin yang diembankan hayatnya, lalu di tahun 2004 tulisannya kepada sahabatnya Hamid terbit, lantas yang berjudul “Hatur Nuhun, Kang Atun! In Memoriam Ramadhan KH” (2006) hadir di majalah yang sama; Horison.

Bersama Agus R. Sarjono menjadi editor Seri Puisi Jerman yang terbit sejak 2003, kemudian tahun 2007 keduanya bersama-sama mengeditori buku bertitel “Johan Wolfgang van Goethe, Satu dan Segalanya” jilid IV Seri Puisi Jerman, yang dipengantari Jamal D. Rahman, penerbit Horison. Tahun-tahun berlalu semakin menjelajah, kian akrablah dengan para sastrawan serta kaum kritukus sastra Indonesia. Tahun 2010 ia dipilih Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, menjabat Presidential Friend of Indonesia, dan sejak 2011 bergiat sebagai redaktur Jurnal Sajak. Tahun 2014 dan 2015 ia menjadi anggota Komite Nasional Indonesia, selaku Tamu Kehormatan Pekan Raya Buku Frankfurt. Dan oleh ketekunannya menerjemahkan puisi Jerman ke bahasa Indonesia, puisi Indonesia ke dalam bahasa Jerman, tahun 2017 seterusnya, ia bagai bintang timur yang selalu dinanti kedatangannya di Indonesia.

*) Dusun Pilang, Desa Tejoasri, Laren, Lamongan, daerah yang dikelilingi Bengawan Solo, 27/8/2017.
http://sastra-indonesia.com/2017/08/semisal-resensi-ini-itu-berthold-damshauser/

Zainal Arifin Thoha, Suryanto Sastroatmodjo, Fahrudin Nasrulloh, A. Aziz Masyhuri

Nurel Javissyarqi *

KH. Zainal Arifin Thoha (5 Agustus 1972 – 14 Maret 2007)
KRT. RPA. Suryanto Sastroatmodjo (22 Pebruari 1957 – 17 Juli 2007)
Fahrudin Nasrulloh (16 Agustus 1976 – 30 Mei 2013)
KH. A. Aziz Masyhuri (17 Juli 1942 – 15 April 2017).

Ada nama-nama yang lewat (mangkat, almarhum), yang dari awal ingin menuliskannya semacam mengenang, tapi hawatir dikira mendompleng ketenaran, jadi wewaktu tersebut saya diamkan di kedalaman batin sambil merasa, menyimpannya dengan nafas-nafas berat kala ditariknya ulang; dimana diri ini melanjutkan perjalanan tanpa kehadirannya di sisi badan, atau ada masanya mereka berkunjung dan kita terpaku membisu. Mungkin kini saatnya tepat meziarahi mereka lewat kata-kata walau keterlaluan telat, namun tiada istilah terlambat, karena yang hidup pun yang wafat sama-sama menunggu, dan semoga kunjungan sekarang terasa lebih istimewa.

I
Gus Zainal, yang bernama lengkap Zainal Arifin Thoha (ZAT). Saya mengenalnya sebelum masa reformasi, entah acara sastra atau barangkali teater, ataukah sewaktu silaturahmi di kontrakannya Teguh Winarsho AS, Amien Wangsitalaja, Abdul Wachid BS (sempat bertemu D. Zawawi Imron), tapi sepertinya tidak. Sangat mungkin saat nongkrong di IAIN SuKa Yogyakarta, kala ngobrol dengan Hamdi Salad, Mathori A Elwa, Otto Sukatno CR. Jelas seingat saya bukan di kontrakan Joni Ariadinata, Kuswaidi Syafi’ie (nama-nama di depan, saya menyapanya Pak atau Mas), Marhalim Zaini, Raudal Tanjung Banua dan Satmoko Budi Santoso. Ada tiga sapaan yang biasa meluncur dari mulut ini ketika berbincang akrab dengannya, tergantung yang dibicarakan dalam suasana bagaimana, dalam aura biokimiawi serupa apa, saya memanggilnya Mas, Pak, Gus, setindak menyapa almarhum guru nulis saya KRT. Suryanto Sastroatmodjo dengan pelbagai sebutan. Suatu kali (setelah beliau merintis pesantren) saya tidak memanggil seperti biasanya Mas. Gus Zainal bertanya, “Kenapa kau mengganti panggilan untukku dengan sebutan Pak, Nurel?” “Tidak apa Pak” jawab saya sambil tersenyum.

Sebelum mendirikan Pesantren Mahasiswa Hasyim Asy’ari yang kondang disebut-sebut Pesantren Kutub, saya sering diajak ke kantong-kantong belajar (komunitas) di bawah naungan kampus UNY, untuk ngaji kitab seperti kebiasaan pesantren pada umumnya di Jawa Timur (mungkin saat itu ada Muhidin M. Dahlan, tapi saya belum tahu dan baru mengenalnya langsung tahun 2008 di Surabaya di Rumah Buku-nya Diana AV Sasa). Barangkali dari kegelisahannya atas jalan-jalan malam itu, awal gagasannya membabar pesantren dekat Krapyak (meski masih rumah kontrakan) di depan ndalem-nya, atau jauh sebelum itu sudah ada bibit meneruskan ruhaniah leluhurnya di Kediri. Darinya, saya banyak baca buku-buku khasana timur, para pemikir muslim di perpustakaan pribadinya, disamping berbincang soal pesantren semisal kangen suasananya. Penulis buku “Runtuhnya Singgasana Kiai NU, Pesantren, dan Kekuasaan: Pencarian tak kunjung usai” (Penerbit Kutub 2003) tersebut, tutup umur dalam usia sangat muda, tapi segenap pemikirannya telah terwariskan kepada para santrinya, tidak terkecuali kebiasaannya menulis sudah ditularkannya.

Saya belajar darinya mengenai kerendahan hati. Terus terang saat itu saya sangat congkak, mungkin lantaran proses kreatif dalam menulis dari autodidak nekat atau demikian watak ini idealis kebacut, kadang itu saya nikmati, sebab dunia tulis di Jogjakarta pada khususnya menyerupai sekumpulan preman, maka mentalitas tangguh kudu ditunjukkan, meski tetap bersikap unggah-ungguh Jogjaan. Saya belajar keikhlasan darinya juga, pun bersamanya batin ini disegarkan oleh kebiasaan berziarah kembali terawat, yang dulu hanya saya lakukan saat singgah di Jombang saja. Beliau tidak pelit ilmu, demikian bersahaja berbagi ihwal pengetahuan hingga nalar ini tercerahkan; ada kesungguhan dalam ketaatan, kesantunan arif, keluwesan bercengkerama, kehangatan sahabat dan saya menerima dengan ketelitian seirama menyimak buku-buku, atau teringat bulir-bulir pengetahuan dari kitab-kitab yang terpantul betapa indah kepadanya.

Sosoknya Gus, budi pekertinya Kyai, tapi dibalut persahabatan guyub, percandaan teman, kedekatan kawan seperjuangan, maka jarak sungkan melebur, tinggallah senyum manfaat tertoreh di kedalaman lubuk terdalam. Adalah benar ungkapan, orang-orang yang dicintai sejatinya tidak meninggalkan kita, jasadnya sekadar istirah dalam keharuman tanah mewangi, dan ketika kerinduan saling bicara; apakah kangennya menghampiri atau kayungyung kita menjenguknya. Daya tarik itu bertambah seiring waktu senantiasa menuju pengertian lebih, ke-anteng-an jiwa tampan; para pembaca tentu mengetahui betapa suksesnya ia, karena para muridnya banyak yang berhasil di bidang masing-masing terutama karya tulis, harapannya seakan terkabul semua. Yang pasti, jarang sekali pesantren ditinggalkan Kyainya, tapi tetap makmur dan dampaknya terus terasa di jiwa para santrinya, sampai yang tidak sempat mengenal beliau dalam kehidupannya, dan betapa langgeng pengaruh karya-karya anak didiknya menyebarkan pengetahuan yang sungguh melimpah bagi para pembacanya.

Ada ungkapan menawan yang keluar darinya sekaligus dipraktekkan dalam perjalanan hayatnya, “Orang sukses adalah yang bisa mensukseskan orang lain.” Kata mutiara tersebut umum, makolah lumrah yang biasa hadir di tengah perjalanan, tapi yang membuatnya merinding, beliau menerapkan dengan sangat ikhlas, tidak pernah sekalipun mengundat-undat atau bercerita semacamnya. Sekadar menyebut sebagian nama para santrinya, Gugun El Guyani, Lukman Santoso Az?, Bernando J. Sujibto, A Yusrianto Elga, Muhammadun AS, Mahwi Air Tawar, Salman Rusydi Anwar, Achmad Mufid AR, Ahmad Muchlish Amrin, Muhammad Ali Fakih, dst. Ibarat kembang tertanam merekah di hati, tak akan layu terus semerbak harum mewangi, demikian lelaku tanpa pamrih bersama mengikuti jalur keridhoan-Nya. Sosoknya pengasuh, jadi bisa menampung aliran apa saja apapun bentuknya, itu membentuk pribadinya tidak terkurangi malah bertambah, seperti bengawan menerima aliran dari mana saja, lalu dialirkan kepada siapapun yang menghendakinya.

Saya terima kabar duka meninggalnya beliau dari salah satu santrinya tertanggal 14 Maret 2007. Saya tidak ke Jogjakarta, namun langsung ke tanah kelahirannya bersama teman mondok saya sewaktu di Denanyar, Yunus Efendi yang juga asli Kediri. Gus Zainal dimakamkan di tanah lahirnya, desa Tiru Kidul, kecamatan Gurah, Kediri, Jawa Timur. Tahun 2009, terbitlah buku “Kesaksian Para Sahabat” beliau dengan judul “Mata Air Inspirasi, Mengenang Pemikiran dan Tindakan KH. Zainal Arifin Thoha, Pendiri dan Pelopor Pesantren Mandiri” Penerbit Kutub, Catatan Redaksi: Bernando J. Sujibto, Kata Sambutan: KH. Asyhari Abta. Tahun 2010, PUstaka puJAngga menerbitkan antologi puisi karya para santrinya bertitel “Antologi Puisi Mazhab Kutub” dipengantari Fahrudin Nasrulloh dengan label “Puisi dan Anak-anak Sejarah Zainal Arifin Thoha.” Akhirnya, Haul beliau terus berkumandang setiap tahun dan kembang di atas makomnya senantiasa harum; menyapa kabar para peziarah!

II
Guru tulis saya Suryanto Sastroatmodjo, ia banyak memberikan pengetahuan mengenai dasar-dasar menulis atau diri ini diharuskan memulai proses kreatif dari awal lagi, meski bacaan serta tulisan saya telah bertumpuk catatannya. Saya sudah banyak baca karya-karya besar kelas dunia (dari terjemahan) masa itu, tapi diwajibkan membaca karya-karya puisi anak sekolah di majalah, misalnya. Perkenalan dengannya sekitar akhir tahun reformasi, ketika kontrak rumah bersama tiga teman kampus UWMY di Nagan Lor, di depan persis beliau bermukim. Sebelah tempat tinggalnya, ada warung yang biasa kami bertatap muka dengannya sekadar bersapa, tak ada perbincangan, apalagi dialog sastra dalam tempo setengah tahun lebih sebelum dekat, karena masa itu gairah muda saya membara, tidak mau tunduk kepada siapa pun jua.

Mungkin sudah kehendak langit suratan takdir, waktu betapa ajaib seolah beliau dewa penolong jiwa ini yang tengah ditempa kegelisahan sangat. Kejadiannya berawal dari penolakan sebuah penerbit atas karya saya, dan sebendel catatan itu hampir terbakar semua, jika tidak diamankan teman kontrakan; karya yang terhimpun sejak sekolah Aliyah, saya bakar dengan isi kepala suntuk menghampiri putusasa. Dan teman saya Meindarto, Gandung, Suratman, menyelamatkan lewat melarikan karya saya ke hadapan beliau. Kebetulan Mas Sur tengah duduk di teras rumah seperti hari biasanya, dan buku itu sampai di tangannya. Dengan hati gelisah pun masih cinta buku tersebut, saya menyusul menghadap beliau. Dalam kondisi sedih memberat, pelahan saya diberi wejangan, namun telinga ini rasanya buntu, bunga-bunga segar harum sulit terhirup, gula-gula manis terasa ampang.

Waktu berganti, awan berarak tersibak bayu hadirkan langit membiru, saya seolah dihipnosis setelah kejadian di atas, lalu kerap berbincang akrab menimba pengetahuan darinya. Ada beberapa panggilan akrab kepadanya, tergantung aura biokimiawi suasana yang tengah dibicarakan beliau, Mas, Pak, Kak. Yang mengejutkan, beliau pun memanggil saya dengan sebutan berbeda-beda, Dimas, Adik, Mas, dan Nak. Sedang mereka yang bertamu kerap memanggil beliau Eyang, Romo, Kanjeng, Pak, Kiyai (versi Jawa). Ia dikenal di Jogjakarta sebagai ‘Ensiklopedi yang Berjalan’ dan saya tidak memungkiri, sebab kerap para tamu menanyakan sejarah-kebudayaan, diterangkan dengan sangat hapal seakan melihat siaran televisi langsung, lantas menceritakan ulang dengan detail. Namun tidak ke sembarang orang mau bicara lebih, yang sering terjadi berlaku seperti orang bodoh atau pura-pura tidak tahu. Sehingga banyak tamu kecelik mengira bukan beliau, lalu pulang dengan tangan hampa. Ini lantaran pakaian yang dikenakan setiap hari seoleh gembel, dengan sarung diselempang seperti tokoh boneka si uncil.

Kebiasaannya baca buku di teras rumah dengan pakaian seadannya itu, kadang tidak memakai baju, membuat para tamu kebingungan, apalagi tindak-tanduknya lugu. Semisal ada tamu ingin mendekat bertanya, “Sedang membaca buku apa Pak?” enteng saja dijawab, “Ini gambar-gambarnya bagus” dsb. Tidak jarang tamu itu dibiarkan menunggu sampai bosan lantas pergi. Namun ketika orang-orang dekat beliau membawa teman dengan kata pengantar, beliau biasanya ringan bercengkerama, jika tanpa prolog rasanya sulit mau berbicara lebih. Jika diamati, para tamu yang kecelik kebanyakan berpakaian necis membawa mobil; mungkin dari awal perjalanan telah membayangkan beliau tidak seperti pemulung perangainya atau memang sudah membaca, dan memilih jalan sikap orang yang tak paham apa-apa di depan mereka.

Saya belajar kerendahan hati darinya pula, menjadi gembel bukan siapa-siapa. Kebiasaan lainnya menyayangi kucing, kadang ada sepuluhan ekor yang diberinya makan setiap hari, semuannya liar tanpa tuan, dan seakan kucing-kucing tersebut tahu di jam berapa Pak Sur pulang dari kantor. Beliau termasuk redaktur senior koran Bernas (tempo itu), bolak-balik kantor ke Nagar Lor mengayu sepeda ontel berpakaian seadanya, tulisan-tulisannya berangkat dari tulisan tangan (dengan spidol biru atau pena), ini membuat repot para juniornya ketika hendak diterbitkan di koran harian, dan kertas-kertas yang dipakai sembarangan kertas bekas yang di baliknya masih kosong untuk ditulis. Ada memang beberapa karyanya diketik komputer, hal itu melalui jasa rental, dan ia seakan abai mendokumentasi lelembaran penghargaan yang pernah diberikan kepadanya, kebanyakan lecek hampir termakan rayap.

Perlu diketahui, beliau bermukim di Nagan Lor 21 bukanlah tempat tinggal pribadinya, tapi diminta temannya sewaktu kuliah di UGM untuk menempati, dan ia tidak milih kamar yang nyaman dalam rumah meski disediakan untuknya; malah tinggal di gudang belakang dengan berserakan buku-buku, dan saya tak pernah diperkenankan masuk di dalamnya, barangkali hawatir menghisap auranya. Saya bercerita demikian, karena suatukali sengaja mengikuti dan tahu itu sekejap saja, tatkala berbincang dengannya, lantas lekas ditutup pintunya. Sebenarnya bisa saja masuk tanpa sepengetahuan beliau, sebab kuncinya hanya dengan gagang sikat gigi dan itu tidak saya lakukan.

Suatu hari ngobrol dengan Mas Sur di teras rumah di bawah rimbunnya pohon sawo, ada seorang tamu dan tidak lama kemudian saya mengetahui kalau beliau penulis senior juga, Iman Budhi Santosa. Perlu pembaca tahu, sebutan saya kepada orang-orang biasanya tergantung selera kenyamanan, semisal menyapa Teguh Winarsho AS dengan Pak, sebab sejak kenal sudah berkeluarga (kini sebutannya bertambah, Pak Bos Araska), dan kepada Iman Budhi Santosa menyebutnya Mas, karena kedekatan semata. Lain hari saat duduk santai, kenal sastrawan Sri Wintala Achmad serta para penulis (dari wartawan) Bernas. Dan salah satu kawan pergerakan yang pernah saya ajak menemui beliau, Y. Wibowo (ini tidak saya tulis lebih, sebab bisa merantak pada kejadian tahun 1997-1998, yang di masa reformasi malah duduk-duduk di kosan Kadipaten Kulon 49 C). Sedangkan kenal penyair Akhmad Sekhu dan penulis Tulus S., semasa di Komunitas Sastra Mangkubumen (KSM). Mengenal sastrawan sekaligus kritikus Prof. Dr. Suminto A Sayuti, lewat pintu penyair Asa Jatmiko. Penyair asal Jombang yang bareng saya, Ahmad Muhaimin Azzet ketika membentuk Komunitas Sastrawan Tugu Indonesia (KSTI) tahun 2000, bersama penyair asal Lampung Y. Wibowo dan Si Thenk, mahasiswi ISI sang penggerak dunia teater atau pertunjukan di kota pelajar Yogyakarta sampai sekarang.

Kebiasaan Pak Sur yang lain, tak pernah berpakaian baru, andai ada yang menghadiahkannya, biasanya disimpan sampai usang, barulah kemudian dikenakan. Bersamanya, saya sering diajak keluyuran mengunjungi candi-candi sekitar Jogjakarta yang belum dikenal luas masyarakat luar, kebanyakan warga kampung pun belum tahu, semisal Candi Ijo; kami sempat menyaksikan para arkeolog membangun ulang pelahan, bertahun-tahun terbentuk kembali meski tak sempurna. Jalan tersebut biasanya berkait bacaan yang tengah saya pelajari, sambil memahami pepohonan serta daun-daunnya, menyapa alam mengajaknya bicara, mencari informasi dari burung-burung, pun betapa intim dengan bebatuan sampai paham jenjang usianya, ini sebab belajar mengakrabi, dipadu bacaan yang terpegang.

Beberapa bulan sebelum beliau mangkat, ada yang ganjil; banyak kucing liar di rumah saya di Lamongan, sampai sekarang ada saja kucing-kucing itu, seakan dipaksa merawat sambil mengingat beliau (sekitar tiga harian ini, kucing itu melahirkan tujuh anak). Kejadian tersebut saya ceritakan dan ia tersenyum saja, atau mungkin ‘merasa waktunya telah dekat,’ hampir semua karya beliau diberikan kepada saya kebanyakan belum tercetak, dan sampai kini tidak banyak yang terbit, sebab saya belum mampu menerbitkan, yang terbit barulah “Balada-balada Serasi Denyutan Puri” (2006, beliau masih sempat menyaksikannya), dan kumpulan prosa “Sahibul Hikayat al-Hayat” (2009, beliau telah wafat). Waktu ‘itu’ saya bengong tiada firasat atau lekas-lekas menghapus lintasan tidak menyenangkan, dan sekitar empat puluh harian saya berada di Lamongan, dada ini tersentak hebat, secara reflek teringat Mas Sur “Apakah Mas Sur sedang sakit?” (batin ini bertanya dalam diam). Dan setengah jam berlalu, Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, ada kabar dari Jogja, Mas Sur telah berpulang kepada-Nya, saat itu juga saya berangkat ke Jogjakarta.

Teman-teman seperjuangan ingin beliau dimakamkan di Taman Makam Seniman Budayawan Giri Sapto, yang terletak di Bukit Gajah, Girirejo, Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Namun keluarga besarnya berharap beliau dimakamkan di daerah yang dekat para kerabatnya yang masih hidup, desa Papahan, Tasikmadu, Karanganyar, Jawa Tengah. Lalu kami meluncur dari Nagan Lor 21 ke Papahan, diangkut bus yang dikomandani salah satu murid pengguritnya, Koh Hwat. Mas Sur, saya masih menulis!

III
Fahrudin Nasrulloh, lahir di dusun Mojokuripan desa Jogoloyo, kecamatan Sumobito, Jombang. Sejak di Denanyar pun semasa di Jogja dapat dibilang seangkatan, namun baru kenal akrab setelah balik kampung ke Jombang, dan saya kembali ke tanah kelahiran Lamongan; pertama kali mengenalnya, kalau tidak salah sewaktu saya bedah buku di Mojokerto terus berlanjut. Di Denanyar ia masuk sekolah MANPK, saya di MAN, andai saat itu berpapasan, paling banter ketika ngaji pagi di depan asrama Al-Aziziyah atau teras ndalem pengasuh KH A. Aziz Masyhuri. Meski seatap asuhan, bukan satu kelompok belajar, yang PK lebih ketat aturannya, yang bukan Program Khusus bisa keluyuran atau santri-santri mbeling, dengan leluasa nongkrong di warung kopi atau jalan-jalan ke kota, tentu beresiko di hari jum’at membersihkan kamar mandi atau semacamnya jikalau ketahuan.

Semasa di Jogja seingat saya pernah melihatnya, sore hari berpapasan di pinggir jalan raya di pagar kampus gedung IAIN Sunan Kalijaga sebelah timur (batin ini menerka; sepertinya ia anak lulusan MAN PK), di malam harinya, saya membaca puisi di gedung sebelah Sekretariat Teater ESKA. Ketidakbertemuan satu melodi ini mengingatkan kawan Haris del Hakim dan A. Syauqi Sumbawi (keduanya sastrawan asli Lamongan juga seangkatan, tetapi baru akrab sesudah balik di kampung halaman), Haris, Syauqi dan Fahrudin, sewaku akrab bercerita kalau pernah melihat saya di Teater Eska. Haris dan Syauqi kuliah di IAIN, namun bergabung di Sanggar Nuun, jadi praktis tidak pernah berjumpa pada tongkrongan ESKA. Memang saya bukan mahasiswa IAIN, tapi sering keluyuran ke beberapa kampus di Jogja yang ada sanggar teaternya, maka sangat jarang di kosan atau kontrakan (malah di Sanggar Eska, saya punya kamar tersendiri di atas plafonnya, 1999-2000).

Fahrudin, setahu saya namanya belum nongol di koran harian kala itu, semisal Kedaulatan Rakyat, Bernas pun Solo Pos, kemungkinan ia mulai menyebarkan karyanya sesudah balik di Jombang, dan awal melihat tulisannya di JawaPos berjudul “Pengarang dan Proses Kreatif” 6 Agustus 2006, sempat pengupas perjalanan saya dan PUstaka puJAngga dengan titel “Gerilya Penulis Pemberontak” di JP dan Pontianak Pos. Sekitar akhir tahun 2007, Fahrudin mendirikan komunitas Lembah Pring bersama para penulis Jombang, dengan jadwal rutinnya mengadakan acara sastra yang dinamakan ‘Geladak Sastra’ hingga 2011. Yang menggetarkan jiwa, sebelum meninggal ia mengirimkan puisi ke JP yang diberitahukan kepada saya, dikarena salah satunya dipersembahkan untuk saya. Ketika terbit di Jawa Pos 2 Juni 2013, beliau telah berpulang kepada-Nya, sungguh ini teror sangat luar biasa!

Rel, Masihkah Takdir Terlalu Dini
Fahrudin Nasrulloh

Rel, tanganku tak bisa jauh menuliskanmu. Kepingan-kepingan dunia berderak di mata kita. Apa kita sudah kalah. Apa kita sudah takluk pada nasib. Pada takdir. Kau pernah bilang, “di mana pun kita berpijak, di situlah tanah air kita.” Aku sendiri tak bisa mengendalikan nasib. Sebab aku lama terlempar di sumurnya. Sedang kau diombang-ambingkan nasib. Diombang-ambingkan takdir. Sementara dulu kau bilang, “Takdir harus kita tuliskan sendiri dengan pena dan puisi.” Tapi puisi, adalah kuda terbang bersayap gagak hitam, adalah penghancuran dari segala, adalah pembunuhan berkali-kali menikam. Kita musti kuat, Rel. Tak cukup kita menuliskan kekalahan-kekalahan cemerlang yang terlanjur mendekap erat ini.

Kita dikatai sudah mampus berkali-kali
Di padang suket teki ini
Kita harus bangkit, Rel
Tak ada jalan lain, tak ada jalan pintas

Dowong, 10 Maret 2013.

Dowong, yang berarti ditulis di rumahnya Sabrank. Saya jadi teringat, Sabrank pernah bercerita, kalau Fahrudin menuliskan puisi untuk saya di belakang rumahnya, di bawah rimbunnya pepohonan bambu dengan tiupan angin dingin. Jika ditelusuri, judul puisinya terambil dari kumpulan puisi Balada-balada Takdir Terlalu Dini, yang salah satu puisinya berjudul Takdir Terlalu Dini, karya saya terbitan FKKH (Forum Kajian Kebudayaan Hindis) 2001, terbit ulang 2006 oleh penerbit PUstaka puJAngga dan Lintang Sastra. Cetakan FKKH itu pernah saya hadiahkan bagi calon istri saya yang pertama, dan karena takdir terpisah, bercerailah ibundanya anak saya Ahmad Syauqillah dengan saya 2011. Dan atas puisi pula saya menikah lagi tanggal 5 Januari 2015, dengan maskawin sebuah puisi bertitel “Sajak Maskawinku Demi Lathifa Akmaliyah.”

Membaca puisi Fahrudin di atas jadi merinding hebat; “Rel, tanganku tak bisa jauh menuliskanmu…” Saya dilempar hempasan badai nasib besar, demi menjalani hidup berkelana ke bumi yang dulu saya singgahi, tanah Kyai Ageng Hasan Besari tahun 2001. Dan pengembaraan kedua di bumi Reyog 2011 akhir sampai pertengahan 2014, tinggal di Sutejo Spectrum Center (SSC) dan Pesantren Darul Hikam, sebelum-sesudah Fahrudin meninggalkan kita semua. Ia dengan saya setelah pertemuan di Mojokerto, terus berkelana bareng, bedah buku saya di Malang tepatnya IAIN, berkali-kali mengisi acara di kota Apel, menggerakkan komunitas sastra yang bertebaran di beberapa kota Jawa Timur, khususnya Jombang, Mojokerto, Surabaya dan Malang, sebelum adanya Pelangi Sastra Malang (bedah buku “Trilogi Kesadaran” generasinya A. Qorib Hidayatullah, bedah “Kitab Para Malaikat” generasinya Liza Wahyuninto bersama Fahrudin, bedah buku “Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan SCB” generasinya Denny Mizhar (Pelangi Sastra Malang), lalu ke Trenggalek mengenal esais Misbahus Surur. Lama sebelum itu bedah buku stensilan “Kajian Budaya Semi” di UNTAG, jauh sebelum generasinya EsoK (Emperan Sastra COK) Surabaya, buku KBS pun sempat dibedah di Jogja, pembedahnya RPA. Suryanto Sastroatmodjo dan Amien Wangsitalaja di IAIN Jogjakarta.

Jalan gerilya ke Pulau Garam Madura lewat pintu Gresik melalui penyair Mardi Luhung kepada penyair R. Timur Budi Raja, kepada penyair M. Fauzi di STKIP PGRI Bangkalan, menuju penyair M. Faizi di Pesantren An-Nuqayah Guluk-Guluk, Sumenep; menebarkan benih-benih kepenulisan di alam susastra, searah harapan kota lain seperti Yogyakarta dalam geliatnya bersastra. Waktu itu Fahrudin dan saya sependapat kalau Jombang ialah kuburan, tersebab para tokohnya kebanyakan ke luar kota, Jogja, Jakarta, dsb. Buku Fahrudin yang pernah diterbitkan PUstaka puJAngga “Syekh Bejirum dan Rajah Mantra” pengantarnya Afrizal Malna, 2011. Ketika ia sudah menikah dan berpindah tempat tinggal di Surabaya, saya agak jarang berjumpa kecuali ianya berkabar sedang di Jombang atau ada kegiatan sastra di tanah kelahirannya. Dalam kesempatan itu, saya sering menginap di tetangga desa Fahrudin yakni rumahnya penulis Sabrank, dusun Dowong (Dawung), desa Plosokerep, kecamatan Sumobito. Kabar mangkat-nya Fahrudin ketika saya di Ponorogo, dan lantas ke tanah kelahirannya mengikuti prosesi pemakamannya, lalu ke Lamongan. Di lain waktu balik ke Ponorogo. Di bawah ini puisi saya yang sempat memberikan inspirasi Fahrudin dalam menuliskan puisi kepada saya seperti di atas. Karena terlalu panjang, maka diambil bagian akhir saja:

(XXXIII)
Ku dengar satu bintang di langit
berkata padaku; “Bukankah aku lebih bangkrut?
Manusia bebas berkeliaran sedang nasibku menunggu?
Energi yang diberikan habis, aku tak dapat berbuat lebih
sebagaimana orang-orang impikan. Maka ikhlaslah terima
selagi dirimu masih bernafas.” Setelahnya, bintang itu redup
dan tiada pernah terlihat kembali pada malam-malam serupa.

30 September 2000, Gedong Kuning, Yogyakarta.

IV
KH. A. Aziz Masyhuri, lahiyo semua para santrinya memanggil beliau, ayah! Saya mengawali belajar menulis secara autodidak tepatnya di asrama Al-Aziziyah, Denanyar, Jombang, sewaktu kelas dua Aliyah tahun pelajaran 1993-1994, sejak itu mulai sadar pentingnya membaca dan keranjingan baca buku apa saja, ini lantaran tak mungkin membawa bentangan kanvas demi menyalurkan kebiasaan melukis di pesantren, ditambah setiap hari menyaksikan ketekukan ayah dalam membaca, menulis, bersuntuk buku-buku pun keluar kota menghadiri undangan, sepertinya hanya tersisa tiga jam istirahat setiap seharinya, atau di antara kesibukannya, beliau manfaatkan istirah barang sejenak. Itu saya ketahui karena rajin mengamati beliau semasa nyantri, dan sebab penasaran serta didorong jiwa muda, ikut-ikutan mencoba bersibuk ria, tapi hanya banyak baca sedikit menulis dengan tempo istirah sekadarnya, dalam waktu tiga hari rasanya tak mampu, di hari ketiga beliau menyindir, “Belajar ya belajar, tapi jangan sampai mabuk belajar.” Dan karena tahu pengetahuan umum beliau juga banyak, dalam suatu kesempatan acara, barangkali Isra’ Mi’raj atau mungkin sambutan ketua asrama (saat itu Al-Aziziyah masih di bawah naungan pesantren induk Mamba’ul Ma’arif), saya tidak mengutip hadits pun ayat-ayat dari kitab suci al-Qur’an, tapi mengambil kata-kata mutiara sedari pemikir Barat sebagai pembuka, hasilnya beliau melihat dengan tersenyum tanpa teguran setelahnya.

Setelah lolos dari kampus UWMY, menggelar pentas musikalisasi puisi berkolaborasi gamelan dan tari atas letupan buku Takdir Terlalu Dini, bersama penyair Evi Idawati di TBS dibantu komunitas Lapen 151, lalu balik mondok di Pesantren Darussalam WTC (Watucongol) Muntilan, Magelang. Ngincipi sebentar di Tegalsari (Pesantren Kyai Ageng Mohamad Besari) Ponorogo, berkeluarga, setahunan di Gunung Kidul, lalu pulang ke Lamongan mendirikan penerbit PuJa tahun 2004; saya membuat banyak buku-buku stensilan garapan sendiri, itu tidak lebih mengikuti kebiasaan beliau, yang awal karya-karyanya difotokopi serta dijilid sendiri untuk disebarkan kepara para santrinya sebagai salah satu kitab pelajaran. Buku stensilan saya pernah menemani Gus Zainal mengisi di Tambakberas, Tebuireng, Langitan, MA Matholi’ul Anwar, dan di Pesantren Sunan Drajat ketika Harlah PuJa. Buku stensilan masuk Jember lewat teaterawan Rodli TL dan mengenal pelaku teater Tomtom, yang selanjutnya menyutradari naskah saya “Zaitun; Cahaya di atas Cahaya” (dari buku TTD, bukan stensilan) di kampus UNEJ dan IAIN Surabaya, garapan Teater Tiang bulan Juli 2007.

Buku-buku stensilan saya (hak cipta dilindungi akal budhi) setiap kali lahir biasanya saya showankan kepada ayah, sejak itu kian dekat seolah beliau tidak menganggap diri ini santrinya semata juga teman menulis yang sama merasa getir pahit senang membikin buku-buku sendiri, dan semakin akrab ketika keadaan saya tengah berkelana kedua kalinya di Kota Warok. Saya kerap ditelepon diajak mengikuti acara beliau, seperti ke pesantrennya KH. Hasyim Muzadi PonPes Al-Hikam, menghadiri undangan semisal di Universitas Muhammadiyah Malang, dan yang sungguh berkesan menghibur batin tengah menduda, diajak menjumpai KH. Marzuki Mustamar di kampus UIN Malang, dan buku MTJK SCB dicium beliau di hadapan saya serta ayah, setelah mendiskusikan buku Aswaja yang penulisnya meminta ayah mengantarinya, Alhamdulillah pendapat saya diterima beliau berdua, yakni tidak memberikan pengantar buku tersebut, karena belum matang saat itu.

Sewaktu mukim di Ponorogo (kediamannya dosen STKIP PGRI Ponorogo, Bapak Sutejo di SSC), saya banyak bersentuhan karya-karya ayah, sebab diminta mengeditnya, salah satunya yang hendak cetak ulang “Ensiklopedi 22 Aliran Tarekat Dalam Tasawuf” yang dipengantari Habib Muhammad Lutfie bin Ali bin Yahya, Prof. Dr. KH. Said Aqiel Siradj MA., serta Martin van Bruinessen. Saya tidak tahu berapa banyak para santri beliau yang terjun ke dunia tulis, saya tahu yang membuat ayah kebingungan ialah Moammar Emka, ketika Jakarta Undercover terbit awal 2000an, ayah kerap diteror pertanyaan oleh para sahabatnya sewaktu di Jakarta. Moammar kakak angkatan, ianya kelas tiga saya di kelas satu Aliyah, namun satu asrama Al-Aziziyah kala itu. Kedua Edi AH Iyubenu (bos Penerbit DIVA Press), kalau tidak keliru saya pernah berpapasan dengannya ketika mengambil honor di kantor Kedautan Rakyat semasa mahasiswa. Dan sebelum ayah meninggal, Edi menerbitkan salah satu karya beliau, yang pada acara Reuni Akbar Al-Aziziyah, buku tersebut dibagikan untuk para santrinya. Ketiga Fahrudin seperti Edi lulusan MANPK. Lalu, salah satu santri beliau yang kerap showan meski jaraknya jauh ialah Ahmad Syauqi, ia perintis Pesantren An Nawawi di bumi Tanara, Banten, seorang menerus perjuangan Syekh Nawawi al-Bantani. Syauqi merupakan putra KH. Ma’ruf Amin, yang kini menjabat Ra’is ‘Aam PBNU (2015-2020) dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (2015-2020).

Pada suatu kesempatan di Pesantren Al-Aziziyah diadakan Temu Wicara Penulis Muslim Nusantara, sempat bertemu sastrawan Kyai M. Faizi dari Pondok Pesantren An-Nuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, yang sudah banyak melahirkan penyair, dan pesantrennya kerap dijadikan bahan penelitian. Saya mengajak Sabrank menghadiri pertemuan tersebut, ia memang sering saya ajak showan kepada beliau, berikut ini catatannya yang saya ambil dari status facebooknya; Dari Ponorogo bersama Nurel Javissyarqi, mampir Kediri. Maghrib baru menginjakkan kaki di rumah KH. A. Aziz Masyhuri, Denanyar, dalam niatan membagi buku Senarai Pemikiran Sutejo setebal 922 halaman. Satu jam lebih ngobrol dengan Beliau, ganti kami diberi buku karya-karyanya, salah satunya berjudul “Karya Intelektual Rais Akbar dan Rais ‘Aam Al Marhumin PB NU” yang dipengantari Dr. Andrée Feillard. “Buku saya yang diterbitkan penerbit sekitar 25 judul, yang saya terbitkan sendiri sekitar 60 judul. Ada juga buku yang dipengantari Martin van Bruinessen. Saya kalau ngetik di kantor, jam 8.00-12.00. Kadang kalau sedang asyik menulis hingga larut malam.” “Kiai masih aktif membaca?” “Iya, sepanjang masa.” (Sabrank Suparno, Catatan Perjalanan 11 Pebruari, 2013).

Sekitar setengah bulan sebelum mangkat, ayah memimpin doa dalam Haulnya Kyai Haji Bisri Syansuri (salah satu pendiri NU, yang lahir di desa Tayu, Pati, Jawa Tengah 18 September 1886 – meninggal di Jombang 25 April 1980) yang ke 38, serta Harlah Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Denanyar, Jombang ke 102. Setelah acara, saya menyerahkan lukisan potret KH. A. Aziz Masyhuri, hasil sapuan kuasnya pelukis Madiun, Rengga AP kepada Gus Muiz (Abdul Muiz Aziz Masyhuri), yang disaksikan Ibu Nyai. Kabar wafatnya ayah, saya ketahui lewat telepon dari saudara Ahmad Yani, santri induk seangkatan Ahmad Syauqi. A. Yani berasal dari Gebang Kulon, Babakan, Cirebon. Tidak lama kemudian saya meluncur sambil mengajak bareng Hamdan Jazila dengan janji bertemu di Kota Babat, Alhamdulillah masih diberi kesempatan mengangkat keranda beliau bersama berjubelnya para santri serta para warga masyarakat. Alfatikah…
***

*) Pengelana asal Lamongan, 4 September 2017. Dusun Pilang, desa Tejoasri, Laren, Lamongan, daerah yang dikelilingi Bengawan Solo.