Posted by PuJa on Desember 3, 2012
(kupasan ke nol dari sebelum paragraf ketiga, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi “Wahrheiten wollen erkannt und festgestellt, eben bewahrheitet sein; die Wahrheit selbst bedarf dessen nicht, sondern sie ist es, die allein bewährt, was irgend als wahr erkannt sein und gelten soll.” “Segala kebenaran maunya diketahui dan dinyatakan, dan juga dibenarkan; kebenaran itu […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on
(kupasan keenam dari paragraf kedua, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi Mitos angka tiga belas, banyak yang mengira sebagai nomor kesialan, mungkin ada yang menganggapnya hingga ke tataran mempercayai. Sebab kini menemui bilangan ke 13, saya kan membuka selaputan penuh kalimat pada paragraf satu dan dua dari esainya IK, melalui kaca mata tiga dimensi.
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on
(kupasan kelima dari paragraf kedua, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi Untuk menjadi telaah karya yang istimewa, harus ada ketajaman dalam menggali kepengrajinan karya, inspiratif dan orisinal, argumentasi yang meyakinkan, dan keberanian menafsir (Jakob Sumardjo).
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on
(kupasan keempat dari paragraf kedua, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi Kini marilah mengudar pahamnya Jean-Paul Sartre, “Man is condemned to be free” (Manusia dikutuk untuk bebas), yang saya benturkan dengan kalimat bernada kentir, “Man is blessed to be free” (Manusia diberkahi untuk bebas)?
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga