Posted by PuJa on Desember 6, 2012
(kupasan kedua dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi I Wallahualam bissawab, setelah diperjalankan dari Lamongan ke Jombang, Kediri lalu berhenti di dataran bumi Reog Ponorogo, saya lanjutkan kini. Kenapa disebut ‘diperjalankan?’ Lantaran kaki ini kehendaknya damai di tanah kelahiran, namun air hayati menghempaskannya. Selepas 5 April 2012, saya seakan […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on
(kupasan pertama dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi I Siapa saja bisa marah. Marah itu mudah. Tetapi marah kepada orang yang tepat, dengan derajat kemarahan yang tepat, pada saat yang tepat, untuk tujuan yang tepat, dengan cara yang tepat, ini tidak mudah. (Aristoteles, 384-322 SM).
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on
(kupasan ketujuh dari paragraf tiga dan empat, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi I “Increscunt animi, virescit volnere virtus.” (Nietzsche) Sebagai prolog, mari mendengar lagu Holiday oleh kelompok musik Scorpions, sambil mengendus kalimat Nietzsche di atas. Saya menerbangkan ini atau tidak berkecamuk dalam kepekatan saja, namun telah tunjukkan luka-luka dari bagian I-XX, yang akan […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on
(kupasan keenam dari paragraf tiga dan empat, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi I Untuk mencapai nol kembali, harus mendengar lalu melaksanakan “kejahatan.” Beberapa hari di Watucongol, Muntilan, Magelang. Demi ke pucuk Gunung Pring tanpa dibebani wewaktu kesibukan, namun pelan seirama langgam kelanggengan sepautan kata-kata Nietzsche, bahwa kasih semacam kejahatan yang sempurna. Saya terjerumus […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga