Home | Login

PUstaka puJAngga

  • [PUstaka puJAngga]
  • Kalender

    Desember 2012
    S S R K J S M
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  
    « Okt   Mar »
  • Pages

    • [PUstaka puJAngga]
  • Catagories

    • Ballad (3)
    • Ballads of Too Early Destiny (14)
    • Berita Utama (10)
    • Book of the Angels (25)
    • Canting (16)
    • Essay (190)
    • Interview (12)
    • Kulya* in deep space of Philosophy (14)
    • Poems (42)
    • Poetry (19)
    • PUstaka puJAngga (366)
    • Review (8)
    • Short Story (13)
  • Arsip

    • September 2021
    • Agustus 2021
    • Juli 2021
    • Juni 2021
    • Mei 2021
    • April 2021
    • Maret 2021
    • Februari 2021
    • Januari 2021
    • Oktober 2020
    • September 2020
    • Juli 2020
    • Juni 2020
    • Mei 2020
    • April 2020
    • Maret 2020
    • Januari 2020
    • Oktober 2019
    • April 2019
    • Maret 2019
    • Desember 2018
    • Agustus 2018
    • Juli 2018
    • Mei 2018
    • April 2018
    • Maret 2018
    • Desember 2017
    • November 2017
    • Oktober 2017
    • September 2017
    • Agustus 2017
    • Juli 2014
    • Agustus 2013
    • Juli 2013
    • Maret 2013
    • Desember 2012
    • Oktober 2012
    • Agustus 2012
    • Mei 2012
    • Desember 2011
    • November 2011
    • Oktober 2011
    • September 2011
    • Agustus 2011
    • Juni 2011
    • Mei 2011
    • Januari 2011
    • Desember 2010
    • November 2010
    • Oktober 2010
    • September 2010
    • Agustus 2010
    • Juli 2010
    • Juni 2010
    • Mei 2010
    • April 2010
    • Maret 2010
    • Februari 2010
    • Januari 2010
    • Oktober 2009
    • September 2009
  • Link

    • Ahmad Syauqillah
    • Bantar Sastra Bengawan
    • Forum Sastra Jombang
    • Forum Sastra Lamongan
    • Ichsa Chusnul Chotimah
    • Javissyarqi Muhammada
    • Lathifa Akmaliyah
    • Media APSAS (Apresiasi Sastra)
    • Media Dunia Sastra
    • Media Jawa Timur
    • Media Lamongan
    • Media Ponorogo
    • Media Sastra Indonesia
    • Media Sastra Nusantara
    • Media Seputar Indonesia
    • Media Seputar Pendidikan
    • Nurel Javissyarqi
    • Nurel Javissyarqi dan Para Apresian
    • Pasar Seni Indonesia
    • Pembebasan Sastra
    • Penerbit PUstaka puJAngga
    • Puisi-Puisi Indonesia
    • Sajak-Sajak Pertiwi
    • Sanggar Lukis Alam
    • Sastra Gerilyawan
    • Sastra Luar Pulau
    • Sastra Pemberontak
    • Sastra Perlawanan
    • Sastra Pesantren
    • Sastra Revolusioner
    • Sastra Tanah Air
    • Sastra-Indonesia.com
    • Sayap Sembrani
    • SelaSastra Boenga Ketjil
    • Seputar Sastra Indonesia
    • Seputar Sastra Semesta
    • Sosial Media Sastra
    • Wislawa Dewi
    • World letters
  • Visitor


    • widget
  • Visitor Locations

    Locations of visitors to this page

  • Bagian 9: Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia

    Posted by PuJa on Desember 2, 2012


    (kupasan kedua dari paragraf kedua, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)
    Nurel Javissyarqi

    Alibi, bukan sosok gagasan atau bayangannya pun bukan anak kembaran, tapi duplikat, palsu, plagiat. Alibi, bukan cahaya atau yang ditempainya, namun arsip bodong yang sengaja mencipta penggandaan semu, mengada sedari perkiraan yang direka-reka keberadaanya demi memperkuat nafsu yang tidak terlaksana.

    Tubuh alibi menempati ruang asing yang tidak berpijak pada detikan debu, namun ianya tetap mengusahakan dirinya demi dihayati kedudukannya sebagai materi, dengan membikin hukum kausalitas akal-akalan. Mereka terus memposisikan ada yang bukan di seberang jalan, tetapi di ladang kosong di sebaliknya. Kala bersikeras melacaknya sampai ke dasar tragedi, tidak ada alam puitik kecuali hampa atau tidak berlandaskan kenyataan. Di sana, tipuannya mudah diungkap sedari kecerdikannya, tersebab menempati ruang-ruang di kelas yang dangkal.

    Alibi, semacam mata rantai tipu daya atau kebohongan pohon dari bahan plastik yang cabang-cabangnya tidak berkembang alami, mandek sepanjang prodak kepalsuan yang meninggikan rantingnya. Terjatuh pada ungkapannya yang otomatis tidak akan merimbun di taman pemikiran.

    Di sini tiada harum sedap daun, kecuali aroma-aromahan. Barangsiapa menanamkan alibi, enggan bertanggugjawab, kala sudah diketahui khalayak. Seperti seorang yang tidak merasa bersalah, menghiasi ruangan dengan bunga-bungaan plastik.

    Alibi, mengusung menitan data untuk dipertaruhkan di meja hijau demi dihadapkan pada bukti lain yang berlawanan. Dan nyata alibinya ditempa hukum situasional yang dikandungnya. Tidak sekadar alasan juga menancapi bukti meyakinkan atas sugesti, agar patungnya hadir seolah-olah pernah ada, walau pun menjalar di sebrang lamunan. Di mana bahan plastik tersebut? Ialah hasil para kritikus yang mengusahakan sederajad pada kisah tokoh sebelumnya, mendempul dengan kurang mempedulikan bahan-bahan garapannya.

    Alibi bukan proses kloning, lebih tepatnya membikin jejak palsu sedari seorang buruan yang dikejar para tentara, kaki-kaki gemetar bersimbah darah oleh keterbatasan capaiannya. Tapak-tapak kakinya berpencaran sedari titik persinggahan yang diketahui pemburu, ke utara, selatan, timur, barat, berbolak-balik sebelum menjatuhkan pilihan ke arah persembunyiannya. Agar para pencari terperdaya serupa drama di televisi yang menampilkan kehidupan glamor demi mengejar reting, meski berpaling dari balada sesungguhnya (nyata) yang dihadapi para pemirsanya.
    ***

    Saya cari padanan sesuai untuk mengetahui seluk-beluk maksud SCB yang dilontarkan Dr. Ignas Kleden lewat menyusuri jejakan lama. Setelah menampilkan kata ‘imitasi’ melalui rerongga lain, guna membuka kemungkinan penghampiran dari kata duplikat, palsu, plastik. Dengan menengok buku “Aristotle Poetics” translated with an Introduction and Note by Gerald F. Else, terjemahan Sugiyanto, Penerbit Putra Langit, tahun 2003 Yogyakarta:

    “Bagi Plato, “imitasi” merupakan aktifitas yang mengalahkan diri sendiri dan tanpa muatan, maka bagi Aristoteles hal itu merupakan aktifitas yang positif dan subur -dalam batas-batas yang diperbolehkan.” (pengantar, halaman 13). Dan pada Catatan di halaman 104: “Mimesis, ‘imitasi atau peniruan’, juga berlaku aktif (memiliki sufiks yang sama -sis, = pe-, sebagaimana poiesis). Arti dari imitasi dalam pemikiran Aristoteles akan muncul secara bertahap. Memang ini bukan berarti sekedar penyalinan dari detail yang bermacam-macam. Namun “penyajian” atau “representasi” cenderung menyajikan suatu gagasan yang teramat abstrak. Akar mimesis adalah naluri mimikri manusia.”

    Maka terlihat jelas SCB membeletat kabur dari kearifan Plato serta Aristoteles, dengan istilahnya ‘alibi’ (puisi adalah alibi kata-kata), sikapnya senyawa pandangannya yang bertumpu pada kata ‘bebas.’ Sehingga Sutardji mematenkan perihalnya, ‘tidak bertanggungjawab atas karyanya.’ Ini menyimpang jauh dari pemikiran kedua filsuf tersebut, yang masih memiliki bayangan realitas, apalagi mimesis ialah naluri mimikri insan. Sebab proses mimikri pun tidak lepas setubuh yang dilakoninya, seperti perubahan warna bunglon untuk melindungi dirinya dari incaran predator.

    Sementara SCB berupaya menduplikat untuk meloloskan diri seperti uraian IK pada paragraf keduanya: “Dalam sebuah esainya Sutardji menulis “puisi adalah alibi kata-kata”. Dengan ungkapan itu dimaksudkan bahwa kata-kata dalam puisi diberi kesempatan menghindar dari tanggung jawab terhadap makna, yang dalam pemakaian bahasa sehari-hari dilekatkan pada sebuah kata sebagai tanggungan kata tersebut.”

    Kalau membaca gelagat IK di atas, maka terlihat tidak mau beresiko tinggi menuruti hasrat SCB yang mana sebelumnya Ignas sudah merombak kata ‘bebas’ ke ‘terobos.’ Di alam kesadarannya, Ignas melepaskan jejak-jejak kaki duplikat penyair SCB sebelum ke arah persembunyian (alibi).

    IK paham jika terlampau jauh membentuk ulang garapan SCB, akan kurang menghargai capaian penyair oleh keimananya yang terlalu. Karenanya, dengan ketentuan yang digenggamnya kuat pada esainya, berusaha menampilkan kadar berbeda, antara menghargai juga menentang secara sembunyi atau teguran samar.

    Umpama bercermin pada peristiwa terbunuhnya Socrates yang menenggak racun abadi, serta dihadapkan pada paham Plato dalam kitabnya Republic, yang teringkas di buku yang saya sebut di atas: “(1) penyair adalah peniru (imitator) benda, kemudian menghilang dari kenyataan, dan (2) penyair melayani emosi kita, yakni bagian tidak rasional dan anti rasional dari sifat dasar kita, khususnya kecenderungannya pada rasa kasihan dan ketakutan” (halaman 10-11). Lalu berbalik pada suguhan tahapan mimesis Aristoteles, maka terlihat SCB ingin lepas (melepas) dari kebenaran Socrates. Atau tidak menenggak racun kebajikan, tapi dengan membuat alibi sebagai dasar kepenyairannya, sebentuk melarikan diri dalam berpuisi (berproses kreatif).
    ***

    Kalau memahami alibi ungkapannya SCB, serupa menancapi tiang bendera yang dengan itu tidak mau dimaknai, tetapi mengartikan sendiri meski gagap. Ia tinggalkan jejak palsu demi menarik simpati dari ‘para pemikir’ yang terhanyut. Padahal tipuan itu hanya lampu ublik di tengah malam, seperti tarian telanjang tiada kompromi, sebab sudah birahi dalam ketegangan.

    Dan sangat kumprung jikalau konsep membebaskan kata dari makna, lalu di kemudian hari ada memaknainya. Sejenis guyonan tidak masuk akal atau permainan jatuh-bangun yang tergantung pemain (kritikus) di dalam mengamati keliarannya berkreasi.

    Pun tidak berdaging segar, maka tengoklah esai-esainya belum membongkar pemikirannya mengenai kata ‘bebas’ atas khasana bahasa, alias belum punya bangunan yang dapat sebagai pegangan bagi para pembacanya. Maka yang terjadi, para pembaca dan kritikus mencari-cari gapaiannya, menduga adanya ranting samar, jika tidak sopan dikatakan tidak ada.

    Tentu menjadi guyonan, sekiranya penyangkalan saya dianggap menumbangkan patung besar. Ini timbal-balik koreksi-mengisari demi pengadaan yang diungkap, didudukkan pada porsinya. Tidak me-makhluk-kan asing sedari jari-jemari tangan kesusastraan, yang entah dikarena sudah terlanjur dimitoskan sebagai mata lain susastra di sebelah sang penyair penyadur Chairil Anwar.

    Tidakkah hal menjauhkan realitas makna mewujud dalil hayalan, kembali ke jaman kebodohan, karena jauh sedari hukum kritis semata elang. Yang ditinggikan tanpa membangun realitas nalar, pasti terbuai angan-angan, dan tidak menurunkan benih hujan kemungkinan rahmat kehidupan.

    Alibi bukan bayangan, sebab meskipun liar cahaya menempa tubuh, tetap melekati hukum kepastian, yakni setiap gerak bentukan realitas. Alibi, berkemiripan sosok perompak bajing loncat yang membuang barang muatan truk di tengah malam, dari truk satu menuju truknya. Kelihaiannya mampu mengambil dokumen surat jalan, yang sampai gardu pemeriksaan aman telah mencuri, sedangkan pemilik barang truk aslinya kehilangan.

    Alibi berada di kelas ketiga, lulus keberanian sekaligus terlepas dari kejujuran. Yang terjadi, memindahkan realitas ugal-ugalan dengan hanya mengandalkan surat jalan. Tetapi sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga.

    Demikian pemaknaan dari pengelana yang bukan kritikus, tidak pembaca sastra yang baik melainkan amatir, mengenai kata ‘alibi.’ Menurut anda bagaimana?

    6 Agustus 2011 / 1 Malam 2 Juli 2015 / 10 November 2015.

    Filed under: Essay, PUstaka puJAngga

    Leave a Reply

    You must be logged in to post a comment. [Disabled, because any spamms]

    «Bagian 8: Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Bagian 10: Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia »

    ©2008-2025. PUstaka puJAngga. By PUstakapuJAngga.com. All rights Reserved