Home | Login

PUstaka puJAngga

  • [PUstaka puJAngga]
  • Kalender

    April 2019
    S S R K J S M
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  
    « Mar   Okt »
  • Pages

    • [PUstaka puJAngga]
  • Catagories

    • Ballad (3)
    • Ballads of Too Early Destiny (14)
    • Berita Utama (10)
    • Book of the Angels (25)
    • Canting (16)
    • Essay (190)
    • Interview (12)
    • Kulya* in deep space of Philosophy (14)
    • Poems (42)
    • Poetry (19)
    • PUstaka puJAngga (366)
    • Review (8)
    • Short Story (13)
  • Arsip

    • September 2021
    • Agustus 2021
    • Juli 2021
    • Juni 2021
    • Mei 2021
    • April 2021
    • Maret 2021
    • Februari 2021
    • Januari 2021
    • Oktober 2020
    • September 2020
    • Juli 2020
    • Juni 2020
    • Mei 2020
    • April 2020
    • Maret 2020
    • Januari 2020
    • Oktober 2019
    • April 2019
    • Maret 2019
    • Desember 2018
    • Agustus 2018
    • Juli 2018
    • Mei 2018
    • April 2018
    • Maret 2018
    • Desember 2017
    • November 2017
    • Oktober 2017
    • September 2017
    • Agustus 2017
    • Juli 2014
    • Agustus 2013
    • Juli 2013
    • Maret 2013
    • Desember 2012
    • Oktober 2012
    • Agustus 2012
    • Mei 2012
    • Desember 2011
    • November 2011
    • Oktober 2011
    • September 2011
    • Agustus 2011
    • Juni 2011
    • Mei 2011
    • Januari 2011
    • Desember 2010
    • November 2010
    • Oktober 2010
    • September 2010
    • Agustus 2010
    • Juli 2010
    • Juni 2010
    • Mei 2010
    • April 2010
    • Maret 2010
    • Februari 2010
    • Januari 2010
    • Oktober 2009
    • September 2009
  • Link

    • Ahmad Syauqillah
    • Bantar Sastra Bengawan
    • Forum Sastra Jombang
    • Forum Sastra Lamongan
    • Ichsa Chusnul Chotimah
    • Javissyarqi Muhammada
    • Lathifa Akmaliyah
    • Media APSAS (Apresiasi Sastra)
    • Media Dunia Sastra
    • Media Jawa Timur
    • Media Lamongan
    • Media Ponorogo
    • Media Sastra Indonesia
    • Media Sastra Nusantara
    • Media Seputar Indonesia
    • Media Seputar Pendidikan
    • Nurel Javissyarqi
    • Nurel Javissyarqi dan Para Apresian
    • Pasar Seni Indonesia
    • Pembebasan Sastra
    • Penerbit PUstaka puJAngga
    • Puisi-Puisi Indonesia
    • Sajak-Sajak Pertiwi
    • Sanggar Lukis Alam
    • Sastra Gerilyawan
    • Sastra Luar Pulau
    • Sastra Pemberontak
    • Sastra Perlawanan
    • Sastra Pesantren
    • Sastra Revolusioner
    • Sastra Tanah Air
    • Sastra-Indonesia.com
    • Sayap Sembrani
    • SelaSastra Boenga Ketjil
    • Seputar Sastra Indonesia
    • Seputar Sastra Semesta
    • Sosial Media Sastra
    • Wislawa Dewi
    • World letters
  • Visitor


    • widget
  • Visitor Locations

    Locations of visitors to this page

  • OBITUARI UNTUK PELUKIS TARMUZIE

    Posted by PuJa on April 6, 2019


    Robin Al Kautsar

    Ini Obituari. Obituari dari seorang murid kepada gurunya, yang dia anggap bukan hanya sebagai guru, tetapi juga kakak, orang tua, bahkan pendeta yang menempanya menjadi mental baja. Sang murid ialah penyair Nurel Javissyarqi, dan sang guru Tarmuzie, yang keduanya saya kenal dalam ruang dan waktu berbeda.

    Nurel, saya kenal di Jombang sekitar tahun 2007 dalam salah satu acara sastra, dan membedah antologi puisinya Kitab Para Malaikat. Sedangkan Tarmuzie saya kenal sekitar tahun 1995 di Surabaya, dalam komunitas pekerja teater dan pelukis di sebuah warkop yang disebut “kantor.”

    Walaupun buku ini berjudul “proses kreatif,” buku ini tidak mendedahkan bagaimana sebuah karya seni dilahirkan dengan berbagai aspek yang mempengaruhinya. Buku ini lebih tepatnya sebagai gambaran ringkas bagaimana sang penulis mulai tertarik pada seni lukis, kemudian mencoba memasukinya, tetapi anehnya justru dia menemukan dunia kepenulisan atau sastra.

    Kehidupan Nurel bersua dengan kehidupan Tarmuzie, ketika dia memasuki kursus lukis Sanggar Lukis Alam, pada saat kelas satu Madrasah Tsanawiyah. Itu sanggar lukis yang aneh serta bohemian, dikarena tanpa biaya belajar dan jadwal yang ketat. Pembelajaran inipun tentu harus berakhir, ketika Nurel sudah diterima di sebuah Madrasah Aliyah di Kota Jombang.

    Walaupun demikian, hubungan guru dan murid ini terus dipelihara dengan baik meskipun Nurel kuliah di Yogyakarta hingga akhirnya berumahtangga. Dapat anda bayangkan, bagaimana komunikasi penggemar sastra dan pelukis yang eksentrik ini?

    Buku yang bertajuk “Proses Kreatif Saya bersama Pelukis Tarmuzie” ini, di sisi lain diramu seperti sebuah petualangan untuk mencari “hikmah terpendam,” ketika Nurel bersusah payah mencari juga mengunjungi para pelukis jaringan Tarmuzie di Kota Yogyakarta.

    Bukan saja dia mendapati ‘ilmu seni,” tapi juga kemiskinan seniman (pelukis Harjiman) yang menyayat sekaligus gagah, karena tidak bersedia lukisannya dibeli orang ketika lapar menyerang. Tetapi ada yang paradoks, ketika hubungan guru-murid menjelma pertemanan, justru kreativitas gurunya itu sedang paceklik alias vakum.

    Sedikit sekali karya baru yang dilahirkan, bahkan lebih menjadi “pertapa” yang menjauhi rimba persilatan kesenian. Paradoks kedua ialah pernyataan Nurel yang melintasi batas-batas cabang kesenian:

    “Tarmuzie merupakan salah satu orang dibalik layar atas keberadaan saya di pentas kesenian di mimbar kesusastraan, meski ia bukanlah sastrawan, namun hampir dipastikan stategi yang saya jalani dalam susastra, terlebih dulu meminta pendapat beliau, darinya memberi banyak masukan nilai serta tanda resiko harus dihadapi,…”
    ***

    Saya dahulu sering berjumpa dengan Tarmuzie di Komunitas Kesenian (sastra, teater, dan seni rupa) di Jalan Babadan Rukun, Surabaya. Ada beberapa pelukis yang “ngantor” di sana, seperti Bambang Thelo, Fauzi, Farid, Tiyok, Thayib Tambsar, Agung, dan Tarmuzie.

    Walaupun pelukis-pelukis itu bermacam-macam alirannya, tetapi mereka sangat terpengaruhi cara berpikir zaman romantik, dimana komunikasi atau jalan menikmati karya seni semata-mata tergantung kepada “roso” atau perasaan. Oleh karena itu, mereka agak memandang miring terhadap kritikus. Dan proses kreatif yang heroik itu disebut “ngrogo sukmo” atau menyelami jiwa. Tarmuzie termasuk yang memegang erat pandangan ini, walaupun dia pelukis abstrak. Dan dia lebih suka, kalau disebut pelukis abstrak ekspresionis.

    Saya tak tahu banyak karya-karya Tarmuzie, sehingga tidak dapat memberikan dengan baik perkembangan karirnya. Beliau mengaku dipengaruhi oleh Affandi, Willem de Kooning dan Jackson Pollock. Cuma sejauh manakah pengaruh itu bersinergi dengan milik sang pelukis yang otentik, saya juga tidak tahu betul.

    Banyak orang yang bingung dan termangu-mangu di depan lukisan abstrak. Ini maknanya apa, maksudnya apa? Ini membicarakan apa, atau menceritakan apa? Seni abstrak sesungguhnya hanya menggunakan bahasa visual bentuk, warna, garis, bidang, dan ruang untuk menciptakan komposisi karya, serta tidak mengambil referensi visual yang ada di alam/dunia.

    Lukisan abstrak menghadirkan gambaran yang tidak ada wujudnya di dunia. Lukisan abstrak tidak akan menggambar subjek potret manusia, pemandangan, hewan atau referensi lainnya yang terdapat di alam dunia. Itulah sebabnya, mengapa lukisan abstrak tampak hanya seperti coretan asal yang dilukiskan di kanvas.

    Penemuan kamera, merupakan salah satu teknologi yang paling mempengaruhi kecenderungan baru ini. Dengan maraknya fotografi, para seniman mulai meninggalkan salah satu fungsi karya lukis sebagai media dokumentasi dan representasi alam. Sehingga berbagai gerakan baru seni diluar realisme terus bermunculan, termasuk lukisan abstrak!

    Terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk memahami atau mengapresiasi lukisan abstrak, yaitu 1). Stop mencari bentuk nyata 2). Rasakan berbagai emosi pada lukisan abstrak 3). Pelajari latar belakang seniman dalam melukis karya abstrak 4). Hentikan menghakimi diri 5). Berhenti mencari makna.

    Salah satu kesalahan umum yang terjadi saat kita ingin memahami karya seni, ketika diri kita terus bertanya “ini maksudnya apa?” Tidak semua karya seni harus memiliki pesan, atau maksud tertentu. Terkadang lukisan abstrak dilukis hanya untuk dinikmati, seperti keindahan bunga-bunga di taman. Apresiasi dan nikmati berbagai kombinasi bentuk serta warna yang terjadi pada karya-karya abstrak.

    Selamat jalan kawan, semoga Allah Swt mengampunimu dan memberimu tempat yang terbaik, amin…
    ***

    5 April 2014 Cangkringrandu, Perak, Jombang, Jawa Timur.
    Makalah dalam acara SelaSAstra Boenga Ketjil #38 Jombang.

    Andhi Setyo Wibowo, Robin Al Kautsar, Dahlan Kong

    Filed under: Essay, PUstaka puJAngga

    Leave a Reply

    You must be logged in to post a comment. [Disabled, because any spamms]

    «Proses kreatif saya bersama pelukis Tarmuzie (2 Agustus 1961 – 20 Februari 2019) * Bedah Buku Kritik Sastra MMKI dan Agama Para Bajingan di UNEJ »

    ©2008-2025. PUstaka puJAngga. By PUstakapuJAngga.com. All rights Reserved