Home | Login

PUstaka puJAngga

  • [PUstaka puJAngga]
  • Kalender

    Juli 2021
    S S R K J S M
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
    « Jun   Agu »
  • Pages

    • [PUstaka puJAngga]
  • Catagories

    • Ballad (3)
    • Ballads of Too Early Destiny (14)
    • Berita Utama (10)
    • Book of the Angels (25)
    • Canting (16)
    • Essay (190)
    • Interview (12)
    • Kulya* in deep space of Philosophy (14)
    • Poems (42)
    • Poetry (19)
    • PUstaka puJAngga (366)
    • Review (8)
    • Short Story (13)
  • Arsip

    • September 2021
    • Agustus 2021
    • Juli 2021
    • Juni 2021
    • Mei 2021
    • April 2021
    • Maret 2021
    • Februari 2021
    • Januari 2021
    • Oktober 2020
    • September 2020
    • Juli 2020
    • Juni 2020
    • Mei 2020
    • April 2020
    • Maret 2020
    • Januari 2020
    • Oktober 2019
    • April 2019
    • Maret 2019
    • Desember 2018
    • Agustus 2018
    • Juli 2018
    • Mei 2018
    • April 2018
    • Maret 2018
    • Desember 2017
    • November 2017
    • Oktober 2017
    • September 2017
    • Agustus 2017
    • Juli 2014
    • Agustus 2013
    • Juli 2013
    • Maret 2013
    • Desember 2012
    • Oktober 2012
    • Agustus 2012
    • Mei 2012
    • Desember 2011
    • November 2011
    • Oktober 2011
    • September 2011
    • Agustus 2011
    • Juni 2011
    • Mei 2011
    • Januari 2011
    • Desember 2010
    • November 2010
    • Oktober 2010
    • September 2010
    • Agustus 2010
    • Juli 2010
    • Juni 2010
    • Mei 2010
    • April 2010
    • Maret 2010
    • Februari 2010
    • Januari 2010
    • Oktober 2009
    • September 2009
  • Link

    • Ahmad Syauqillah
    • Bantar Sastra Bengawan
    • Forum Sastra Jombang
    • Forum Sastra Lamongan
    • Ichsa Chusnul Chotimah
    • Javissyarqi Muhammada
    • Lathifa Akmaliyah
    • Media APSAS (Apresiasi Sastra)
    • Media Dunia Sastra
    • Media Jawa Timur
    • Media Lamongan
    • Media Ponorogo
    • Media Sastra Indonesia
    • Media Sastra Nusantara
    • Media Seputar Indonesia
    • Media Seputar Pendidikan
    • Nurel Javissyarqi
    • Nurel Javissyarqi dan Para Apresian
    • Pasar Seni Indonesia
    • Pembebasan Sastra
    • Penerbit PUstaka puJAngga
    • Puisi-Puisi Indonesia
    • Sajak-Sajak Pertiwi
    • Sanggar Lukis Alam
    • Sastra Gerilyawan
    • Sastra Luar Pulau
    • Sastra Pemberontak
    • Sastra Perlawanan
    • Sastra Pesantren
    • Sastra Revolusioner
    • Sastra Tanah Air
    • Sastra-Indonesia.com
    • Sayap Sembrani
    • SelaSastra Boenga Ketjil
    • Seputar Sastra Indonesia
    • Seputar Sastra Semesta
    • Sosial Media Sastra
    • Wislawa Dewi
    • World letters
  • Visitor


    • widget
  • Visitor Locations

    Locations of visitors to this page

  • Pesantren Tirakat Mbah Jad Khas NU

    Posted by PuJa on Juli 13, 2021


    Awalludin GD Mualif

    Jika di Banten ada Kiai Munfasir, di Nganjuk ada Kiai Muzajjad atau dipanggil Mbah Jad. Nganjuk seperti tak pernah absen melahirkan orang-orang alim di setiap zaman. Mahaguru ulama tanah Jawa yang masyhur, Kiai Zainudin Mojosari Nganjuk, seakan terlahir di setiap era.

    Mbah Jad yang usianya diperkirakan 70 tahunan tidak menikah atau istilah santrinya ‘uzubah. Beliau istiqomah berpuasa dan mengkonsumsi nasi jagung dan lauk tak bernyawa. Santri Jawa menyebutnya ngrowot.

    Selain riwayat pendidikannya, saya tidak banyak tahu asal usul Mbah Jad. Tapi pengakuan dari dzuriyah KH. Abdul Karim dan keunikan pribadinya, membuat saya harus berkunjung ke pesantrennya.

    Pesantren Mbah Jad berupa kamar-kamar kecil, terbuat dari kayu dan bambu. Gotakan-gotakan kecil itu dihuni oleh 30 santri.

    Rekruitmennya cukup sulit. Sarat masuk menjadi penghuni pesantren ini harus puasa ngrowot 40 hari, 1 tahun, 2 tahun sampai 3,5 tahun. Setiap santri baru diberi masa puasa berbeda. Setelah lulus dilanjutkan puasa dawud.

    Perbedaannya dengan di Kiai Munfasir Banten, pada Mbah Jad santri diajari 12 disiplin ilmu secara lengkap, tauhid, fikih, tafsir, nahwu, sharaf, mantiq, badi’, bayan, ma’ani, ‘arud, qawafi, dst. Di Kiai Munfasir tak selengkap itu.

    Perbedaan lain, pada Kiai Munfasir sarat masuk menjadi santri, pola makan harian dan disiplin dzikir lebih ekstrim. Sedangkan kesamaan paling menonjol adalah kebersihan.

    Mbah Jad adalah sisi lain wajah Nahdlatul Ulama. Ormas Islam yang saya sebut sebagai penangkaran ajaran-ajaran Nabi yang sangat kaya.

    Ada sosok seperti Sayyidina Abu Bakar yang menjadi soko guru yang kebapakan, ada seperti Sayyidina Ali intelektual yang gagah perkasa, ada Sayyidina Umar negarawan yang menjadi arsitek imperium besar Islam, ada seperti Sayyidina Utsman konglomerat dengan banyak kolega, ada Abu Dzar yang miskin tapi revolusioner. Singkatnya 124 ribu sahabat sepeninggal Nabi adalah cetakan hidup atas ajaran Nabi. Nabi tak membuat 124 ribu itu dalam satu cetakan dan ukuran tunggal. Dan NU yang melestarikannya.

    Di dalam NU, Anda bisa memilih model mana yang cocok dengan kepribadian dan passion Anda dalam berislam (A Tsauri).

    Teruntuk Mbah Jad, lahu alfaatihah…

    Filed under: Canting

    Leave a Reply

    You must be logged in to post a comment. [Disabled, because any spamms]

    «Imajinasi, Observasi, dan Intuisi pada Cerpen “Langit Makin Mendung” Nurel Javissyarqi sekeluarga semasa kecil »

    ©2008-2025. PUstaka puJAngga. By PUstakapuJAngga.com. All rights Reserved