Posted by PuJa on Desember 6, 2012
(kupasan ketujuh dari paragraf tiga dan empat, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi I “Increscunt animi, virescit volnere virtus.” (Nietzsche) Sebagai prolog, mari mendengar lagu Holiday oleh kelompok musik Scorpions, sambil mengendus kalimat Nietzsche di atas. Saya menerbangkan ini atau tidak berkecamuk dalam kepekatan saja, namun telah tunjukkan luka-luka dari bagian I-XX, yang akan […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on
(kupasan keenam dari paragraf tiga dan empat, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi I Untuk mencapai nol kembali, harus mendengar lalu melaksanakan “kejahatan.” Beberapa hari di Watucongol, Muntilan, Magelang. Demi ke pucuk Gunung Pring tanpa dibebani wewaktu kesibukan, namun pelan seirama langgam kelanggengan sepautan kata-kata Nietzsche, bahwa kasih semacam kejahatan yang sempurna. Saya terjerumus […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on Desember 4, 2012
(kupasan kelima dari paragraf tiga dan empat, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi “Dunia pelajaran, ilmu pengetahuan, tidak mengenal perbedaan golongan-golongan tinggi-rendah, atau kaya-miskin.” (Confucius). I Bismillahi-rahmani-rahim… Bagian ini dan seterusnya, mulai mengalami pergeseran besar-besaran dari bebagian lalu. Meski tetap mendedah paragraf IK, namun porsinya menjadi sampiran. Ini tidak lebih karena kekecewaan saya oleh […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on
(kupasan keempat dari paragraf tiga dan empat, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi Sesuatu yang esensial itulah yang mengubah suatu potensialitas menjadi aktualitas, baik dengan maupun tanpa perantaraan. (Ibnu Sina) I Selalu saja saat mengawali tulisan, diri ini merasakan bergetar dan untuk mengurangi debarannya dengan kata-kata pengantar. Pada awalan kini bercerita tentang pertemuan saya […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga