Posted by PuJa on Desember 3, 2012
(kupasan keempat dari paragraf kedua, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi Kini marilah mengudar pahamnya Jean-Paul Sartre, “Man is condemned to be free” (Manusia dikutuk untuk bebas), yang saya benturkan dengan kalimat bernada kentir, “Man is blessed to be free” (Manusia diberkahi untuk bebas)?
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on
(kupasan ketiga dari paragraf kedua, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi Sebelum masuk bagian ini, izinkan menulis perihal keheranan saya pada penyair atau yang mengakui identitas dirinya tersebut, namun ungkapannya telah melampaui batas sejarah kodrat iradat insani. Oleh saking keterlaluan menggumuli kata-kata, seakan ‘kata’ menjelma sekutu terbaik seolah gerak hasratnya mampu memerintah kalimat atau […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on Desember 2, 2012
(kupasan kedua dari paragraf kedua, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi Alibi, bukan sosok gagasan atau bayangannya pun bukan anak kembaran, tapi duplikat, palsu, plagiat. Alibi, bukan cahaya atau yang ditempainya, namun arsip bodong yang sengaja mencipta penggandaan semu, mengada sedari perkiraan yang direka-reka keberadaanya demi memperkuat nafsu yang tidak terlaksana.
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on
(kupasan pertama dari paragraf kedua, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi Di bagian V saya menyebutkan, “…alunan peribahasa yang secara tidak kentara membentuk pola bernalar.” Sebelum membaca paragraf kedua esainya IK, saya akan mengupas kulit luaran demi ke dalam. Ada peribahasa melayu yang berbunyi, “Jika intan keluar dari mulut anjing sekalipun, bernama intan juga.” […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga