Posted by PuJa on
Nurel Javissyarqi
Bismillahirrohmanirrohim. Sebelumnya maaf pengantarnya panjang, lantaran menyesuaikan tema yang telah tertandakan. Anggaplah sebagai musababnya materi yang kan tersampaikan atau asbabul wurud-nya demi mendapati pijakan realitas pada kata-kata yang ter-wedar-kan. Kebetulan saya tengah hijrah di bumi Reog, memang tidak jauh dari tanah kelahiran yang kini terpijak, ibunda pertiwi jiwa-raga ini. Bagaimana pun keadaan hijrah tidaklah menyenangkan, ada rindu seolah para muhajir kepada tanah suci atau anak yang mendamba surga di bawah telapak kaki ibu. (lebih…)
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Tags: Essay, Kritik Sastra, Nurel Javissyarqi, PUstaka puJAngga
No Comments »
Posted by PuJa on
Nurel Javissyarqi
Dua tahun lalu pertengahan Ramadhan saya ke sini, tepatnya mengikuti kawan-kawan Kutub (para santrinya almarhum Gus Zainal Arifin Thoha); Muhammadun AS, Salman Rusydie Anwar, A. Yusrianto Elga, di antaranya agak lupa siapa saja pengisi pelatihan kepenulisan di Lirboyo, setelah itu ziarah ke makam Gus Zainal. (lebih…)
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Tags: Essay, Kritik Sastra, Nurel Javissyarqi, PUstaka puJAngga
No Comments »
Posted by PuJa on

(kupasan ke empat dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)
Nurel Javissyarqi
I
Taufiq Ismail: “Enak jadi penyair daripada yang lain.”
A Mustofa Bisri: “Enaknya gimana?”
Taufiq Ismail: “Kalau orang baca syair sampean keliru, misalnya. Yang disalahkan ndak sampean, yang disalahkan dirinya sendiri.”
A Mustofa Bisri: “Wah saya ndak paham ini, terlalu tinggi.”
(Ceramah Gus Mus pada acara Haflah Seni dan Budaya dalam Peringatan Tahun Baru Islam 1428 H di Pekalongan). (lebih…)
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Tags: Essay, Ignas Kleden, Kritik Sastra, Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia, Nurel Javissyarqi, PUstaka puJAngga, Sutardji Calzoum Bachri
No Comments »
Posted by PuJa on

Self Portrait Nurel Javissyarqi by Wawan Pinhole, 2013
(kupasan ke tiga dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)
Nurel Javissyarqi
Dialog Imajiner Mohammad Yamin tentang “Deklarasi Hari Puisi Indonesia.” (I-VII)
VII
Bung Karno sendiri menganggap Sumpah Pemuda 1928 bermakna revolusioner: satu negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke, masyarakat adil dan makmur, dan persahabatan antar bangsa yang abadi. “Jangan mewarisi abu Sumpah Pemuda, tapi warisilah api Sumpah Pemuda. Kalau sekadar mewarisi abu, saudara-saudara akan puas dengan Indonesia yang sekarang sudah satu bahasa, bangsa, dan tanah air. Tapi ini bukan tujuan akhir,” kata Soekarno dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-35 di Istana Olahraga Senayan, Jakarta 28 Oktober 1963. (Rudi Hartono, “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda,” berdikarionline.com 20 Mei 2011). (lebih…)
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Tags: Deklarasi Hari Puisi Indonesia, Essay, Ignas Kleden, Kritik Sastra, Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia, Muhammad Yamin, Nurel Javissyarqi, PUstaka puJAngga, Sumpah Pemuda, Sutardji Calzoum Bachri
No Comments »