Posted by PuJa on

(kupasan pertama dari paragraf kedua, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)
Nurel Javissyarqi
Di bagian V saya menyebutkan, “…alunan peribahasa yang secara tidak kentara membentuk pola bernalar.”
Sebelum membaca paragraf kedua esainya IK, saya akan mengupas kulit luaran demi ke dalam. Ada peribahasa melayu yang berbunyi, “Jika intan keluar dari mulut anjing sekalipun, bernama intan juga.” Maknanya, “Perkataan yang baik biarpun keluar dari mulut siapa saja, tetap baik pula.” Yang hendak saya benturkan terhadap pemahaman; “Tidak mungkin ada intan yang keluar dari mulut anjing, kecuali curian!” (lebih…)
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Tags: Essay, Ignas Kleden, Kritik Sastra, Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia, Nurel Javissyarqi, PUstaka puJAngga, Sutardji Calzoum Bachri
No Comments »
Posted by PuJa on

(kupasan keenam dari paragraf awal, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)
Nurel Javissyarqi
Bagian ini menuntaskan tulisan-tulisan sebelumnya mengenai paragraf awal IK, serupa balutan muakhir demi pijakan lanjut. Saya mulai dengan sedikitnya ‘merevisi’ pandangan kritikus Maman S Mahayana di bukunya “9 Jawaban Sastra Indonesia” sebuah orientasi kritis, terbitan Bening Publishing, cetakan tahun 2005, Bagian IV: “Sarana Pendekatan Sastra,” dahan ke 8 yang berjudul “Sastra dan Filsafat,” halaman 343. Di bawah ini terambil dua paragraf pembukanya, bagi pondasi langkah ke muka. Yang disesuaikan dengan keimanan sorot mata saya dalam berproses kreatif, yang berangkat dari buah keyakinan setelah membaca ke belakang, untuk memperoleh kepurnaan sepadu-padan kehidupan. (lebih…)
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Tags: Essay, Ignas Kleden, Kritik Sastra, Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia, Nurel Javissyarqi, PUstaka puJAngga, Sutardji Calzoum Bachri
No Comments »
Posted by PuJa on

(kupasan kelima dari paragraf awal, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)
Nurel Javissyarqi
Saya bayangkan kelas Dr. Ignas Kleden berdalih bahwa peleburan, pembelokan, perubahan atau perombakan dari ‘bebas’ ke ‘terobos,’ semacam mengikuti hukum situasional nan ditangkap daya indrawi. Seirama ungkapan filsuf yang berjiwa keragu-raguan kuat, John Langshaw Austin (1911-1960). Di sini saya menangkap pelahan demi mencapai temuan yang bukan sekadar main-main, pula tidak asal-asalan memenuhi halaman. (lebih…)
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Tags: Essay, Ignas Kleden, Kritik Sastra, Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia, Nurel Javissyarqi, PUstaka puJAngga, Sutardji Calzoum Bachri
No Comments »
Posted by PuJa on

(kupasan keempat dari paragraf awal, lewat esainya Dr. Ignas Kleden)
Nurel Javissyarqi
Awal paragraf tersebut masih ingin diudar, maka kali ini menyoal kata ‘dan’ yang ada di dalamnya.
Dalam percakapan sehari-hari, kita tidak lepas menggunakan ‘kata penghubung,’ seperti ruang kerjanya nafas dengan tubuh, sewaktu memakai panca indra sebagai kesaksian, alat perundang-undangan juga pelaksanaannya. Pun perihal lain yang bergelayut, semata air anak-anak sungai beserta alirannya, dedaun bergoyangan oleh tiupan bayu, rasa penasaran yang diberkati misteri. Para pencari ilmu bergandeng dengan kesuntukannya, kasih sayang disambut kerinduan dalam, lelaki bercampur bersama perempuan, wewarna saling mematangkan sulaman makna kehidupan. (lebih…)
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Tags: Essay, Ignas Kleden, Kritik Sastra, Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia, Nurel Javissyarqi, PUstaka puJAngga, Sutardji Calzoum Bachri
No Comments »