Posted by PuJa on Februari 2, 2021
Ignas Kleden majalah.tempointeraktif.com Pramoedya ist ein Begriff—Pramoedya bukan sekadar nama, tetapi sebuah pengertian, bahkan sebuah konsepsi. Kata-kata itu diucapkan oleh seorang ibu yang amat simpatik, Prof. Irene Hilgers-Hesse, Ketua Jurusan Melayu di Universitas Koeln, ketika mengundang seorang mahasiswa filsafat di Muenchen tahun 1980, yang kebetulan saya sendiri, untuk membicarakan buku Bumi Manusia yang baru saja […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on Maret 14, 2018
Nurel Javissyarqi * Saya tak menyangka kalau buku “Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia” bakal dibedah di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin. Jangan-jangan ini lamunan saja, karena kebetulan tengah baca ulang buku susunannya ‘Paus Sastra Indonesia’ yang bertitel “Kontroversi Al-Qur’an Berwajah Puisi,” Grafiti 1995, tentunya lagi berseberangan.
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on November 9, 2017
(kupasan ke empat dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi I Taufiq Ismail: “Enak jadi penyair daripada yang lain.” A Mustofa Bisri: “Enaknya gimana?” Taufiq Ismail: “Kalau orang baca syair sampean keliru, misalnya. Yang disalahkan ndak sampean, yang disalahkan dirinya sendiri.” A Mustofa Bisri: “Wah saya ndak paham ini, terlalu […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on Oktober 27, 2017
(kupasan ke tiga dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi Dialog Imajiner Mohammad Yamin tentang “Deklarasi Hari Puisi Indonesia.” (I-VII) VII Bung Karno sendiri menganggap Sumpah Pemuda 1928 bermakna revolusioner: satu negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke, masyarakat adil dan makmur, dan persahabatan antar bangsa yang abadi. “Jangan mewarisi abu […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga