Posted by PuJa on Desember 4, 2012
(kupasan keempat dari paragraf tiga dan empat, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi Sesuatu yang esensial itulah yang mengubah suatu potensialitas menjadi aktualitas, baik dengan maupun tanpa perantaraan. (Ibnu Sina) I Selalu saja saat mengawali tulisan, diri ini merasakan bergetar dan untuk mengurangi debarannya dengan kata-kata pengantar. Pada awalan kini bercerita tentang pertemuan saya […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on
(kupasan ketiga dari paragraf tiga dan empat, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi I “A masterpiece always moves, by definition, in the manner of a ghost” (Jaques Derrida, Spectres of Marx). Sudah lumayan lama tidak melanjutkan tulisan, terhitung setengah bulan lebih. Kini menginjak angka 17, nomor yang saya sukai, bilangannya sama dengan tanggal kemerdekaan […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on
(kupasan kedua dari paragraf tiga dan empat, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi I Gugatan untuk Anugerah Sastra Mastera (Majelis Sastera Asia Tenggara) 2006, dan Anugerah Sastra Dewan Kesenian Riau 2000, yang meloloskan pengertian “Kun Fayakun,” (yang dirombak oleh Sutardji ke dalam bahasa Indonesia dengan membentuk makna; “Jadi, lantas jadilah!, serta Jadi maka jadilah!”).
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on
(kupasan pertama dari paragraf tiga dan empat, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi “Esai-esai (godaan subyektivitas) Ignas Kleden semacam obrolan menggurui, nadanya bertele-tele dengan tempo lamban, musik orang mapan seperti lagu kenangan yang nglokro, ini cocok bagi pemalas atau para pensiunan, dan bukan sejenis irama keroncong atau musik klasik yang meski pelan berjiwa keterlibatan. […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga