Posted by PuJa on Juli 20, 2013
(kupasan ke tiga dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi Dialog Imajiner Mohammad Yamin tentang “Deklarasi Hari Puisi Indonesia.” (I-VII) III Yamin: “Kenapa tidak ambil data dari karya-karyaku, Nurel?” Nurel: “Buku-buku Bapak berada di Lamongan, sedang saya kini di Ponorogo. Ya semoga sebelum catatan ini rampung, bisa pulang dulu ke […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on
(kupasan ke tiga dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi Dialog Imajiner Mohammad Yamin tentang “Deklarasi Hari Puisi Indonesia.” (I-VII) II Di bawah ini saya gunakan beberapa pendekatan, ada dongengan bagi yang suka cerita, serta jalur lain. Terpenting tidak lepas dari harapan M. Yamin, yakni lima faktor yang memperteguh ikatan […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on
(kupasan ke tiga dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi Dialog Imajiner Mohammad Yamin tentang “Deklarasi Hari Puisi Indonesia.” (I-VII) I “Mungkin selera saya belum terbentuk dengan baik, pendapat saya mungkin keliru. Pokoknya Anda tahu bahwa saya terbiasa mengatakan terus-terang pendapat saya, atau lebih tepat perasaan saya. Saya curiga bahwa […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on Oktober 26, 2011
Epilogue Written by Nurel Javissyarqi Translated by Agus B. Harianto Two essays of Tardji as an attachment is sufficiently to identify his anatomy in the field of literature that deals with “the mantra” from its roots, which is the tradition.
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga