Posted by PuJa on Oktober 27, 2017
(kupasan ke tiga dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi Dialog Imajiner Mohammad Yamin tentang “Deklarasi Hari Puisi Indonesia.” (I-VII) VII Bung Karno sendiri menganggap Sumpah Pemuda 1928 bermakna revolusioner: satu negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke, masyarakat adil dan makmur, dan persahabatan antar bangsa yang abadi. “Jangan mewarisi abu […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on Oktober 15, 2017
Nurel Javissyarqi Sebenarnya ingin ngelenceki bukunya, namun belum ada kesempatan jauh, maka sekadarlah ucapan terima kasih, sebab bahasa Indonesia sudah diperkenalkan di Jerman dengan ketekunan penuh piawai, atau ini ikut-ikutan bijak seperti tulisannya; “Sebagai dosen bijaksana saya suka sekali kalau mahasiswa banyak bertanya.” “Ini dan Itu Indonesia, Pandangan Seorang Jerman” buku karangan Berthold Damshäuser, dipengantari […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on September 4, 2017
Nurel Javissyarqi * KH. Zainal Arifin Thoha (5 Agustus 1972 – 14 Maret 2007) KRT. RPA. Suryanto Sastroatmodjo (22 Pebruari 1957 – 17 Juli 2007) Fahrudin Nasrulloh (16 Agustus 1976 – 30 Mei 2013) KH. A. Aziz Masyhuri (17 Juli 1942 – 15 April 2017). Ada nama-nama yang lewat (mangkat, almarhum), yang dari awal ingin […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on Agustus 25, 2017
Nurel Javissyarqi Tentu kita tahu sebutan presiden penyair Indonesia tersemat dari-padanya Sutardji Calzoum Bachri. Kredonya yang fenomenal itu meluas mempengaruhi banyak penyair serta kritikus (… dengan kredonya yang terkenal itu, Sutardji memberikan suatu aksentuasi baru kepada daya cipta atau kreativitas, Ignas Kleden endosemen di buku Isyarat, lalu lihat buku Raja Mantra Presiden Penyair, 2007).
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
1 Comment »