Posted by PuJa on Oktober 27, 2017
(kupasan ke tiga dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi Dialog Imajiner Mohammad Yamin tentang “Deklarasi Hari Puisi Indonesia.” (I-VII) VII Bung Karno sendiri menganggap Sumpah Pemuda 1928 bermakna revolusioner: satu negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke, masyarakat adil dan makmur, dan persahabatan antar bangsa yang abadi. “Jangan mewarisi abu […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on Agustus 25, 2017
Nurel Javissyarqi Tentu kita tahu sebutan presiden penyair Indonesia tersemat dari-padanya Sutardji Calzoum Bachri. Kredonya yang fenomenal itu meluas mempengaruhi banyak penyair serta kritikus (… dengan kredonya yang terkenal itu, Sutardji memberikan suatu aksentuasi baru kepada daya cipta atau kreativitas, Ignas Kleden endosemen di buku Isyarat, lalu lihat buku Raja Mantra Presiden Penyair, 2007).
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
1 Comment »
Posted by PuJa on Agustus 4, 2013
(kupasan ke tiga dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi Dialog Imajiner Mohammad Yamin tentang “Deklarasi Hari Puisi Indonesia.” (I-VII) VI Data-data di bawah ini jumputan sepintas dari Wikipedia, sedangkan urutannya mengikuti buku “Tanah Air Bahasa, Seratus Jejak Pers Indonesia” terbitan I:boekoe, Cetakan I, Desember 2007. Ketika menulis buku kenang-kenangannya […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on Juli 20, 2013
(kupasan ke tiga dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi Dialog Imajiner Mohammad Yamin tentang “Deklarasi Hari Puisi Indonesia.” (I-VII) V Nurel: “Pak Yamin, Bapak Ki Hadjar Dewantara pengen nimbrung.” Yamin: “O… Mas Dewantara, dipersilahkan masuk, Nurel.” Nurel: “Ya Bapak” (Selanjutnya mereka berdua ngobrol dan saya membuka Laptop). Dewantara: “Assalamualaikum” […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga