Home | Login

PUstaka puJAngga

  • [PUstaka puJAngga]
  • Kalender

    Februari 2021
    S S R K J S M
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    « Jan   Mar »
  • Pages

    • [PUstaka puJAngga]
  • Catagories

    • Ballad (3)
    • Ballads of Too Early Destiny (14)
    • Berita Utama (10)
    • Book of the Angels (25)
    • Canting (16)
    • Essay (190)
    • Interview (12)
    • Kulya* in deep space of Philosophy (14)
    • Poems (42)
    • Poetry (19)
    • PUstaka puJAngga (366)
    • Review (8)
    • Short Story (13)
  • Arsip

    • September 2021
    • Agustus 2021
    • Juli 2021
    • Juni 2021
    • Mei 2021
    • April 2021
    • Maret 2021
    • Februari 2021
    • Januari 2021
    • Oktober 2020
    • September 2020
    • Juli 2020
    • Juni 2020
    • Mei 2020
    • April 2020
    • Maret 2020
    • Januari 2020
    • Oktober 2019
    • April 2019
    • Maret 2019
    • Desember 2018
    • Agustus 2018
    • Juli 2018
    • Mei 2018
    • April 2018
    • Maret 2018
    • Desember 2017
    • November 2017
    • Oktober 2017
    • September 2017
    • Agustus 2017
    • Juli 2014
    • Agustus 2013
    • Juli 2013
    • Maret 2013
    • Desember 2012
    • Oktober 2012
    • Agustus 2012
    • Mei 2012
    • Desember 2011
    • November 2011
    • Oktober 2011
    • September 2011
    • Agustus 2011
    • Juni 2011
    • Mei 2011
    • Januari 2011
    • Desember 2010
    • November 2010
    • Oktober 2010
    • September 2010
    • Agustus 2010
    • Juli 2010
    • Juni 2010
    • Mei 2010
    • April 2010
    • Maret 2010
    • Februari 2010
    • Januari 2010
    • Oktober 2009
    • September 2009
  • Link

    • Ahmad Syauqillah
    • Bantar Sastra Bengawan
    • Forum Sastra Jombang
    • Forum Sastra Lamongan
    • Ichsa Chusnul Chotimah
    • Javissyarqi Muhammada
    • Lathifa Akmaliyah
    • Media APSAS (Apresiasi Sastra)
    • Media Dunia Sastra
    • Media Jawa Timur
    • Media Lamongan
    • Media Ponorogo
    • Media Sastra Indonesia
    • Media Sastra Nusantara
    • Media Seputar Indonesia
    • Media Seputar Pendidikan
    • Nurel Javissyarqi
    • Nurel Javissyarqi dan Para Apresian
    • Pasar Seni Indonesia
    • Pembebasan Sastra
    • Penerbit PUstaka puJAngga
    • Puisi-Puisi Indonesia
    • Sajak-Sajak Pertiwi
    • Sanggar Lukis Alam
    • Sastra Gerilyawan
    • Sastra Luar Pulau
    • Sastra Pemberontak
    • Sastra Perlawanan
    • Sastra Pesantren
    • Sastra Revolusioner
    • Sastra Tanah Air
    • Sastra-Indonesia.com
    • Sayap Sembrani
    • SelaSastra Boenga Ketjil
    • Seputar Sastra Indonesia
    • Seputar Sastra Semesta
    • Sosial Media Sastra
    • Wislawa Dewi
    • World letters
  • Visitor


    • widget
  • Visitor Locations

    Locations of visitors to this page

  • MENGUAK TRADISI MENULIS PESANTREN

    Posted by PuJa on Februari 1, 2021

    K.H. A. Azis Masyhuri

    Indahnya Menuangkan Gagasan dalam Tulisan

    “Menulis adalah sebuah eksotisme, bahkan membuat segala sesuatu menjadi indah”. Begitulah kata Tahar Ben Jelloun. Dan memang aktifitas menulis pada dasarnya merupakan salah satu pilihan berkreatifitas yang cukup menantang dalam rangka aktualisasi diri bagi mereka yang bergelut dengan dunia pengetahuan dan intelektualitas. Termasuk di dalamnya masyarakat pesantren, yang sejak awal sejarahnya memang memfokuskan diri pada kajian keislaman. Dalam konteks ini, setidaknya ada dua alasan penting mengapa aktifitas menulis menjadi hal yang menarik.

    Pertama, realitas menunjukkan bahwa tradisi lisan masih tetap dominan, terutama sekali terjadi pada masyarakat pesantren. Masih kuatnya tradisi lisan daripada tradisi tulis ini menjadikan pesantren terasa miskin dengan karya-karya dan publikasi-publikasi ilmiah. Meskipun, tentu saja, tidak bisa kita nafikan bahwa masih ada masyarakat pesantren, baik kiai maupun santri, yang tetap mempunyai perhatian besar terhadap hal ini.

    Namun demikian, kalau kita cermati lagi secara sungguh-sungguh, tampak sekali bahwa pesantren yang pada awalnya memiliki perhatian terhadap dunia tulis menulis dan pemikiran ini masih kurang memadai. Dalam artian, jumlah mereka yang begitu banyak jauh tidak berimbang dibandingkan karya-karya tulis yang dilahirkan.

    Semestinya dunia pesantren menjadi lumbung berbagai pemikiran dan karenanya pula seharusnya menjadi lumbung kreatifitas. Ini diwujudkan dengan memperbanyak bermunculannya pemikiran-pemikiran. Jika itu terjadi maka pesantren akan menjadi ajang tukar pikiran, debat dan polemik, hal yang sangat kondusif bagi perwujudan masyarakat ilmiah.

    Untuk menuju arah itu, kegiatan yang paling relevan dilakukan adalah dengan membudayakan tradisi menulis di kalangan masyarakat pesantren.

    Kedua, iklim pesantren sekarang ini masih membatasi santri untuk berkreatifitas optimal, khususnya lagi dalam aktifitas mengasah kepekaan dan kepedulian sosial politik mereka. Kendala ini memang ideologis sifatnya, karena pesantren memang sengaja diciptakan untuk mempertahankan tradisi, menjunjung tinggi ulama dengan berbagai regulasinya.

    Hal lain yang juga menarik adalah menurut pengakuan beberapa intelektual, menggeluti dunia tulis menulis ini juga menjadi jenjang yang harus ditempuh oleh seorang intelektual. Dan rasanya memang betul, tidak ada seorang intelektual yang akan dikenal pemikirannya oleh banyak orang, tanpa ia menuliskan ide-idenya dan mempublikasikannya. Bagaimana mungkin seorang intelektual akan teruji intelektualnya kalau belum pernah melemparkan ide-idenya kepada publik.

    Memang cara ini bukanlah satu-satunya, akan tetapi sepertinya cara ini cukup efektif untuk mensosialisasikan suatu gagasan sekaligus mengaktualisasikan diri.

    Menghidupkan Tradisi Menulis di Pesantren

    Tak seperti dipahami orang awam yang kadang membatasi masyarakat pesantren sekadar sebagai agamawan, mereka ternyata juga penulis andal dan bahkan mampu melahirkan karya-karya yang monumental. Tidak hanya tentang agama, tapi juga mahir menulis tentang sastra, anekdot, cerita dan persoalan-persoalan sosial budaya.

    Jangan tanya soal shalawat dan madaih nabawiyah (pujian kepada nabi) mereka gudangnya. Dari Qosidah Al Burdah karya Al Bushir, yang sangat imajinatif dan puitis, hingga beraneka prosa dan puisi maulid, terutama karya Ja’far Al Barzanji. Malah ada karya genuine yang mereka gubah sendiri, seperti Shalawat Badar karya Kiai Ali Mansur Tuban yang amat populer dan menjadi shalawat wajib bagi kaum sarungan.

    Tentu saja tak boleh dilewatkan karya berupa tembang, cerita, dan anekdot yang juga banyak ditulis oleh para kiai. Siapa yang tak kenal dengan syair ‘Tombo Ati’ yang amat populer itu. Begitu populernya karya ini nyaris jadi bacaan wajib di surau-surau di pedalaman Jawa. Belum lagi lir-ilir gubahan Sunan Kalijogo yang tak kalah kesohor.

    Belakangan, tidak sedikit para kiai yang biasa berceramah menyusun sendiri tembang jawa yang dirangkaikan bacaan shalawat dan digunakan sebagai selingan dalam pengajian. Soal cerita dan anekdot, Kiai Bisri Musthofa mungkin biangnya. Ayah Kiai Mustofa Bisri ini mengumpulkan banyak sekali anekdot dalam buku berjudul Kasykul. Kiai Abdurrahman Ar Roisi juga menerbitkan belasan jilid kumpulan cerita yang diberi judul ’30 Kisah Teladan’.

    Keakraban dengan bahasa Arab, menyebabkan karya intelektual yang lahir dari tangan para santri/kiai tak lepas dari rumpun bahasa semit ini. Dari sebelas judul karya Kiai Hasyim Asy’ari yang pernah saya baca, misalnya, hanya empat buah yang menggunakan bahasa Jawa bertulisan Arab Pego. Sisanya berbahasa Arab.

    Menantu Kiai Siddiq, yaitu Kiai Abdul Hamid Pasuruan, tak kalah kreatif. Ia mensyairkan Sullam At Taufiq – sebuah kitab fikih sufistik yang bercorak ghozalian dan menjadi mainstream pemahaman Islam Sunni Indonesia – dalam 553 bait. Selain itu, ia juga menyairkan 99 nama Allah yang dikenal dengan Al Asma’ Al Husna. Masih banyak lagi contoh lain yang bila diungkap satu persatu, akan membuat tulisan ini jadi terlalu panjang.

    Di sini, terbaca jelas bahwa para masyarakat pesantren terdahulu tak cuma agamawan, melainkan juga penulis handal di bidang sastra, budaya dan lainnya, sehingga kiai dahulu juga disebut budayawan dan sastrawan. Tidak berlebihan jika Eric Wolf menyebut peran kiai sebagai “cultural broker” alias agen budaya yang menjembatani perubahan akibat pengaruh luar terhadap dunia pesantren dan komunitas Muslim tradisional yang relatif tertutup. Selain lewat pendidikan gaya pesantren, peran itu mereka implementasikan melalui proses kreatif di jalur budaya. Kiai dahulu memiliki apresiasi yang tinggi terhadap budaya serta mampu melahirkan karya-karya bermutu. Tradisi menulis seolah menjadi rutinitas sehari-hari setelah mengajar santri. Tiada hari tanpa mengajar dan menulis, mungkin itu motto hidup kiai di masa lalu.

    Tapi, sayangnya tradisi menulis dan kerja-kerja budaya kiai telah hilang dan tidak (kurang) diwarisi oleh para santri sekarang. Apalagi, beberapa tahun belakangan, terlalu banyak aktivitas di luar yang mereka geluti, terutama di kancah politik. Sebagian besar potensi dan energi terkuras di medan perebutan kekuasaan. Proses kreatif yang dulu mampu menghasilkan karya-karya monumental tak ada lagi, sehingga tradisi menulis kiai mandek atau bahkan telah mati.

    Kenyataan tersebut memunculkan ironi. Banyak lulusan pesantren yang beralih profesi dari ‘cultural broker’ menjadi ‘political broker’ alias makelar politik yang (maaf) ujung-ujungnya duit. Padahal, kekuasaan dan uang seringkali melenyapkan akal budi, menumpulkan hati nurani dan pada akhirnya menghentikan proses kreatif masyarakat pesantren.

    Maka, tak mengherankan bila pesantren belakangan ini cenderung kering dari sentuhan buku atau tulisan, karena para kiai dan ustadz tidak lagi produktif menulis buku. Memang ada beberapa nama yang pantas disebut, tapi jumlahnya bisa dihitung dengan jari, jauh dibanding jumlah kiai yang jadi politisi.

    Kini tak banyak lagi kiai atau gus atau ustadz yang memiliki malakah (naluri berekspresi), apalagi ikhtira’ untuk menciptakan karya. Bahkan tingkat apresiasi mereka terhadap tradisi menulis bisa dibilang sangat rendah. Ini merupakan sebuah ironi.

    Mungkin ‘para masyarakat’ pesantren kini telah lupa, atau boleh jadi memang tak tahu akan ungkapan yang begitu populer dari mantan Presiden AS, John F. Kennedy, “jika politik mengotori, maka buku mencucinya”. Pergeseran kecenderungan dari menulis buku ke politik ini merupakan kenyataan pahit yang patut disesali.

    Semoga bermanfaat,

    Denanyar, Jombang, 25 Juni 2008
    https://sastra-indonesia.com/2011/11/menguak-tradisi-menulis-pesantren/

    Filed under: Essay, PUstaka puJAngga

    Leave a Reply

    You must be logged in to post a comment. [Disabled, because any spamms]

    «THE BALLAD OF SUMINTEN’S “MADNESS” Cerpen Franz Kafka Bahasa Jawa: Ing Sangarepe Hukum »

    ©2008-2025. PUstaka puJAngga. By PUstakapuJAngga.com. All rights Reserved