Posted by PuJa on Desember 4, 2017
Nurel Javissyarqi Bismillahirrohmanirrohim. Sebelumnya maaf pengantarnya panjang, lantaran menyesuaikan tema yang telah tertandakan. Anggaplah sebagai musababnya materi yang kan tersampaikan atau asbabul wurud-nya demi mendapati pijakan realitas pada kata-kata yang ter-wedar-kan. Kebetulan saya tengah hijrah di bumi Reog, memang tidak jauh dari tanah kelahiran yang kini terpijak, ibunda pertiwi jiwa-raga ini. Bagaimana pun keadaan hijrah […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on
Nurel Javissyarqi Dua tahun lalu pertengahan Ramadhan saya ke sini, tepatnya mengikuti kawan-kawan Kutub (para santrinya almarhum Gus Zainal Arifin Thoha); Muhammadun AS, Salman Rusydie Anwar, A. Yusrianto Elga, di antaranya agak lupa siapa saja pengisi pelatihan kepenulisan di Lirboyo, setelah itu ziarah ke makam Gus Zainal.
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on November 9, 2017
(kupasan ke empat dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi I Taufiq Ismail: “Enak jadi penyair daripada yang lain.” A Mustofa Bisri: “Enaknya gimana?” Taufiq Ismail: “Kalau orang baca syair sampean keliru, misalnya. Yang disalahkan ndak sampean, yang disalahkan dirinya sendiri.” A Mustofa Bisri: “Wah saya ndak paham ini, terlalu […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on Oktober 27, 2017
(kupasan ke tiga dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi Dialog Imajiner Mohammad Yamin tentang “Deklarasi Hari Puisi Indonesia.” (I-VII) VII Bung Karno sendiri menganggap Sumpah Pemuda 1928 bermakna revolusioner: satu negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke, masyarakat adil dan makmur, dan persahabatan antar bangsa yang abadi. “Jangan mewarisi abu […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga