Posted by PuJa on Desember 3, 2012
(kupasan ketiga dari paragraf kedua, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi Sebelum masuk bagian ini, izinkan menulis perihal keheranan saya pada penyair atau yang mengakui identitas dirinya tersebut, namun ungkapannya telah melampaui batas sejarah kodrat iradat insani. Oleh saking keterlaluan menggumuli kata-kata, seakan ‘kata’ menjelma sekutu terbaik seolah gerak hasratnya mampu memerintah kalimat atau […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on Desember 2, 2012
(kupasan kedua dari paragraf kedua, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi Alibi, bukan sosok gagasan atau bayangannya pun bukan anak kembaran, tapi duplikat, palsu, plagiat. Alibi, bukan cahaya atau yang ditempainya, namun arsip bodong yang sengaja mencipta penggandaan semu, mengada sedari perkiraan yang direka-reka keberadaanya demi memperkuat nafsu yang tidak terlaksana.
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on
(kupasan pertama dari paragraf kedua, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi Di bagian V saya menyebutkan, “…alunan peribahasa yang secara tidak kentara membentuk pola bernalar.” Sebelum membaca paragraf kedua esainya IK, saya akan mengupas kulit luaran demi ke dalam. Ada peribahasa melayu yang berbunyi, “Jika intan keluar dari mulut anjing sekalipun, bernama intan juga.” […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Posted by PuJa on
(kupasan keenam dari paragraf awal, lewat esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi Bagian ini menuntaskan tulisan-tulisan sebelumnya mengenai paragraf awal IK, serupa balutan muakhir demi pijakan lanjut. Saya mulai dengan sedikitnya ‘merevisi’ pandangan kritikus Maman S Mahayana di bukunya “9 Jawaban Sastra Indonesia” sebuah orientasi kritis, terbitan Bening Publishing, cetakan tahun 2005, Bagian IV: “Sarana […]
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga