Posted by PuJa on
Arie MP Tamba
Jurnal Nasional, 3 Nov 2013
‘Saya pegang ajaran Multatuli bahwa kewajiban manusia adalah menjadi manusia.‘ (Pramudya Ananta Toer, Tempo, 1999).
KETIKA Alice Munro, cerpenis Kanada yang piawai mengolah dan mengurai “jiwa perempuan” sampai ke sela-sela terdalamnya, dan menampilkannya ke permukaan dalam untaian cerita bergaya realis yang memukau menyabet Nobel Sastra 2013, seorang penulis di dunia maya menulis, “Saya suka, tapi saya tetap menjagokan Pramudya Ananta Toer.” Suatu pernyataan yang bagi saya “membangunkan” pertanyaan dan mengingatkan saya pada sebuah tulisan tentang karya Pram, Arus Balik. (lebih…)
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Tags: Arie MP Tamba, Essay, Pramoedya Ananta Toer, PUstaka puJAngga, Sastra-Indonesia.com
No Comments »
Posted by PuJa on
Jakob Sumardjo
Kata kritik bagi kita mempunyai konotasi tidak menyenangkan. Orang tidak senang dinilai oleh orang lain. Akan tetapi, orang senang melihat orang lain menilai orang lain. Jadi, kritik itu hanya mengasyikkan sebagai ‘tontonan’.
Kritik memang tradisi baru dalam masyarakat Indonesia. Istilah kritik sendiri jelas tak ada padanannya dalam bahasa-bahasa daerah di Indonesia. (lebih…)
Filed under: Essay, PUstaka puJAngga
Tags: Essay, Jakob Sumardjo, Kritik Sastra, PUstaka puJAngga, Sastra-Indonesia.com
No Comments »
Posted by PuJa on
Karya: Ernest Hemingway
Penerjemah: Rambuana *
Ia masuk ke dalam kamar untuk menutup jendela, saat kami masih di tempat tidur dan kulihat ia tampak sakit. Ia menggigil, wajahnya pasi, dan ia berjalan pelan seakan linu, meski hanya untuk bergerak.
“Ada apa, Schaltz?”
“Aku sakit kepala.”
“Sebaiknya kamu kembali tidur.”
“Tidak. Aku tidak apa-apa.” (lebih…)
Filed under: PUstaka puJAngga, Short Story
Tags: Ernest Hemingway, PUstaka puJAngga, Rambuana, Sastra-Indonesia.com, Short Story
No Comments »
Posted by PuJa on
Ary Cahya Utomo *
pelitaku.sabda.org
1. Pendidikan
Sebagai putra sulung tokoh Institut Boedi Oetomo, Pram kecil malah tidak begitu cemerlang dalam pelajaran di sekolahnya. Tiga kali tak naik kelas di Sekolah Dasar, membuat ayahnya menganggap dirinya sebagai anak bodoh. Akibatnya, setelah lulus Sekolah Dasar yang dijalaninya di bawah pengajaran keras ayahnya sendiri, sang ayah, Pak Mastoer, menolak mendaftarkannya ke MULO (setingkat SLTP). (lebih…)
Filed under: Canting, PUstaka puJAngga
Tags: Ary Cahya Utomo, Canting, Pramoedya Ananta Toer, PUstaka puJAngga, Sastra-Indonesia.com
No Comments »